The Medium (Rang zong) sudah lama dipromosikan oleh Joko Anwar melalui beberapa cuitannya di Twitter. Saya sendiri tidak ingat berapa kali, tapi dalam beberapa bulan terakhir, beliau sempat mengunggah poster film ini sambil memuji-mujinya. Kemudian, banyak orang yang sudah berkesempatan nonton, juga turut memberikan komentar positif. Ingar-bingar yang cukup banyak didengar membuat saya antusias kala bioskop dekat rumah menayangkan film hasil kerja sama Thailand-Korea Selatan ini. Awalnya saya kurang tertarik dengan film ini karena salah satu pihak yang membuat ceritanya adalah penulis dan sutradara The Wailing (karena bagi saya film tersebut cukup membosankan), tetapi film The Medium disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun yang sering menggarap film horor bagus (Shutter, Alone, 4Bia). Ini juga adalah comeback pertamanya di bangku sutradara sejak terakhir menyutradarai komedi romantis One Day di 2016.
Cerita The Medium boleh jadi memiliki premis yang cukup akrab bagi penikmat film horor. Sekelompok tim dokumenter berangkat ke daerah Isan di Thailand Utara untuk mengikuti kehidupan seorang Medium bernama Nim yang dirasuki oleh Dewi Bayan yang telah disembah oleh masyarakat setempat sejak dahulu kala. Dewi Bayan selalu memilih perempuan dari keluarga Nim secara turun-temurun dengan memberikan tanda-tanda dan kejadian aneh kepada perempuan yang terpilih untuk menjadi Medium selanjutnya. Proses syuting mulai jadi mencekam tatkala Mink, anak gadis kakak Nim, mulai menunjukkan perilaku aneh seusai kematian ayahnya. Awalnya, semua mengira Mink telah ditunjuk oleh sang dewi untuk menjadi Medium berikutnya, sampai Nim mulai yakin bahwa Mink sebenarnya dirasuki oleh sesuatu yang lain.