Tampilkan postingan dengan label suspense. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suspense. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

[REVIEW] Resolution (2012)

SINOPSIS

Michael, seorang desainer grafis yang tengah menunggu kelahiran bayinya bersama sang istri, mendapatkan sebuah surat elektronik yang berisi video kegilaan teman lamanya, Chris, yang terjebak dalam kecanduan obat terlarang di sebuah daerah lembah gunung yang terpencil. Michael mengira itu tanda untuknya dan berusaha membantu Chris agar mau dibawa ke tempat rehabilitasi. Usaha tersebut menjadi semakin sulit, ketika sekumpulan video yang merekam kegiatan mereka, tiba-tiba saja muncul di tempat yang tidak diduga. Bersama, Michael dan Chris harus mencoba menerka apa akhir dari cerita mereka.

RATING

Not Rated (suggested MPAA rating is R for pervasive language and drug use

Selasa, 28 Juni 2016

[REVIEW] Doubt (2008)

SINOPSIS

Berdasarkan naskah teater pemenang Pulitzer, Suster Aloysius Beauvier (Meryl Streep) adalah kepala sekolah katolik yang ketat dan tegas. Terganggunya ia melihat ide-ide progresif dari Bapa Flynn (Philip Seymour-Hoffman), membuatnya melihat ada ketidakberesan mengenai dirinya. Hal itu semakin diperkuat dengan laporan seorang suster baru bernama James (Amy Adams), yang mengetahui anak didiknya, Donald Miller, anak altar dan satu-satunya siswa berkulit hitam di sekolah tersebut, bermuka pucat setelah dipanggil ke ruangan Bapa Flynn saat pelajaran berlangsung. Suster Aloysius berusaha untuk membuktikan kecurigaannya, namun justru semakin terikat pada keraguan dan kepastiannya. Di antara seluruh kepastiannya akan aturan-aturan yang dimilikinya, mungkin saat ini yang dimilikinya hanyalah keraguan.

RATING

MPAA rating is PG-13 for thematic elements

Senin, 20 Januari 2014

[REVIEW] The Man from Earth (2007)

SINOPSIS
John Oldman (David Lee Smith) adalah seorang dosen yang akan mengundurkan diri untuk pindah. Pada hari itu, ternyata koleganya Dan (Tony Todd) seorang antropolog, Harry (John Billingsley) seorang biolog, Edith (Ellen Crawford) seorang pengkaji seni dan seorang Kristiani taat, Sandy (Annika Peterson) seorang sejarawan, Art Jenkins (William Katt) seorang arkeolog, dan mahasiswinya Linda Murphy (Alexis Thorpe) mengajaknya untuk membuat pesta perpisahan dan mengobrol, hingga menjadi sebuah pengakuan mengejutkan bahwa John berumur lebih dari 14,000 tahun. Pengakuan tersebut bermula dianggap bercanda, hingga semua orang semakin serius terhadap ucapannya. Datang pula seorang psikolog Dr. Will Gruber (Richard Riehle) yang ditelepon Art, untuk memastikan bahwa John benar-benar waras. Terkadang, masa lalu yang hidup lebih baik dibiarkan pergi.

Minggu, 22 Desember 2013

[REVIEW]The Birds (1963)

SINOPSIS
Seorang sosialita bernama Melanie Daniels (Tippi Hedren) bertemu dan mulai tertarik pada seorang pengacara bernama Mitch Brenner (Rod Taylor) di sebuah toko burung di San Francisco. Melanie memutuskan untuk membuat kejutan berupa lovebirds yang mereka bahas di toko burung, dan membawanya ke rumah asal Mitch di Bodega Bay, tempat Mitch biasa berakhir pekan. Di Bodega Bay, kemudian mulai muncul serangan-serangan pada kota tersebut oleh burung-burung tanpa alasan yang jelas. Mungkinkah mereka selamat?

The Last Exorcism (2010)

SINOPSIS
Pendeta bernama Cotton Marcus mengalami degradasi keimanan tatkala anaknya lahir tidak dalam kondisi yang baik. Kehidupannya sebagai pendeta yang menyenangkan sekaligus ahli pengusir setan (exorcism, secara Kristen) ia rasa begitu normatif. Untuk mengakhiri semuanya, ia memutuskan untuk membuat sebuah film dokumenter yang akan menceritakan seluruh pengusiran setan yang dilakukannya bahwa itu hanyalah tipuan, karena Cotton merekayasa semuanya agar orang-orang yang merasa kerasukan merasa lebih baik. Pengusiran setannya akan dilakukan pada seorang gadis bernama Nell yang hidup bersama ayahnya Louis dan kakaknya Caleb di sebuah pertanian. Sayangnya, tak ada yang tahu setelah semua dilakukan, Nell tiba-tiba mendatangi motel Cotton dan kru film Iris dan Daniel pada tengah malam....

RATING
PG-13 for disturbing violent content and terror, some sexual references and thematic material

REVIEW
Saya mempunyai satu komplain untuk film ala ala found footage begini, plis deh kenapa sih harus ada orang yang nampol kameranya. Buset banget, gue kan jadi kaget. Film The Last Exorcism merupakan film keluaran 2010 yang sempat terkenal. Banyak faktor yang mengakibatkan hal ini terjadi, mulai dari produsernya si Eli Roth hingga maraknya film-film eksorsisme di Amerika pada era tersebut. Waktu film ini ada, saya masih di asrama, jadi tak terlalu dapat mengikuti film ini dengan baik. Baru saat sekarang, karena melihat penghargaan Empire Awards dalam Best Horror.

Saya mau mengakui kalau saya tidak terlalu tertarik pada film ini, karena semuanya terasa sama saja, hanya perbedaannya kita bisa melihat film pengusiran setan secara betul-betul live. Semua orang selalu suka pada found footage seperti ini. Kita dibawa pada kehidupan Cotton yang begitu menyenangkan, yang ternyata ia sembunyikan dengan baik itu dia punya keimanan yang rusak. Saya juga jadi memahami kalau di Amerika Serikat mempunyai sekte yang sangat banyak, karena kelihatannya mereka punya banyak pandangan terhadap agama mereka sendiri. Oke, pergi saja.

Film ini berjalan dengan mulus, kita dihadapkan pada guratan emosional yang dialami Cotton, dan ketidakseriusan yang ia jalani saat melakukan pengusiran setan. Yah... semua bisa dibilang terasa begitu mudah. Kita diajak seperti di Reportase Investigasi saat Cotton mengungkapkan trik-trik yang ia buat untuk proses pengusiran setan. Saya tidak terlalu tahu cara kerja kamera profesional begitu, namun bagaimana caranya dia bisa langsung membuat ada editan? 

Keluarga Louis juga diperkenalkan seadanya. Kita langsung dikagetkan tingkah Caleb yang main tipu, lemparin tanah ke mobil Cotton. What's wrong? Kita menganggap kalau dia sedikit skeptis sama yang dilakukan oleh bapaknya, memanggil untuk adiknya seorang exorcist. Mungkin semuanya jadi terasa terlihat dibuat-buat. Oh ya, saat kita menuju tempat keluarga ini, kita juga diberitahu oleh Cotton mengenai analisis "gangguan" berdasarkan demografi dan sejarah dari daerah tersebut. Ya... setidaknya untuk jadi "penyereman" lah.

Untuk melaksanakan pengusiran setan bohong-bohongan, setidaknya sudah setengah durasi dari 87 menit dimakan. Well... tampaknya kita sudah cukup dalam untuk memahami Cotton orangnya seperti apa. Semua menjadi semakin menegangkan ketika Nell ujug-ujug sudah di motel tempat Cotton dan kawan-kawan menginap. Walaupun PG-13 (atau mungkin saya menonton versi unrated atau uncut) tapi saya selalu khawatir kalau gadis yang habis kerasukan begini mulutnya mangap. Ingat kejadian di Keramat? Ingat kejadian di... (mana lagi, ya?) pokoknya begitu deh.Si Nell ini mulai menggigit imut lengan Iris. Ya ampun... kenapa dia ini. Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit. 
Di sini, kendati footage kita diajak untuk berpikir, sebenarnya apa yang terjadi? Entah Cotton membuka asal buku mengenai setan berbahasa Latinnya atau tidak, nama setan yang merasuki Nell adalah Abalam. Jadi ketika Louis diterangkan Cotton apa yang merasuki Nell, Cotton menjawab namanya Abalam. Loh kok bisa-bisanya pas si Nell di-exorcism untuk yang kedua kali si setannya bisa pas namanya Abalam? Saya nggak terlalu ngerti bagian itu tuh. 

Kita juga mulai diberi suspense, Cotton mendatangi gereja terdekat dan bertanya pada pastor di situ (apa sih bedanya pastor dan pendeta?). Dibilang, Nell tak pernah masuk ke sekolah minggu sudah dua setengah tahun lamanya, di sini langsung kerasa. Wah, ada apa-apa ini dengan si Louis. Nah, ketika sampai lagi di pertanian, si Caleb wajahnya disobek pakai pisau! Cukup gore, ini betul PG-13? 

Sisi sinematografi dalam film ini yang berasal dari ala dokumenter membuat kita merasa nyaman untuk menontonnya. Sayangnya, adegan orang-jahat-nampol-kamera kejadian lagi. Eh suwer apa harus semua sinematografer itu kepo ya? Bisa nggak sih yang sadar diri? Caleb pun diantarkan Louis ke rumah sakit sementara kru film dan Cotton menjaga rumah. Saat itulah kita baru disajikan horor yang sebenarnya. Mungkin yang paling mengganggu ketika Nell yang lagi kerasukan ngambil kamera dan membawanya ke lumbung, kemudian merekam kejadian ia membunuh kucing (eh, menghantamkannya ke dinding). 
Suspense bertambah saat kita tahu kenyataan bahwa Nell hamil! Kehamilannya ini dibilang oleh si Louis bukan karena manusia, dan tentu saja kita tak percaya begitu saja (setelah begitu banyak terpapar oleh pemikiran Cotton). Terlebih catatan Caleb "Don't leave her with him alone" yang membuat kita tergugah, ada apa sebenarnya? 

Setelah Nell selesai diusir setan dari dalam (yang tentu setelah adegan akrobatik yang selalu muncul dalam film beginian), yang mengaku namanya Abalam, berikut tetek bengek khas ngusir setan, akhirnya Nell pun dapat disembuhkan dan iman Cotton kembali. Ketika mereka pergi, sempat berusaha mengulik keterangan lebih lanjut tentang Logan, cowok di kafe yang (menurut pengakuan Nell) telah menghamilinya. Pas dikonfirmasi dan ternyata itu orang homoseks, saya langung waa........ Ada apaan nih, si Nell? Langsung dah kita dipaparin kejutan di akhir yang menyatakan bahwa....
Nah, pada tahap ini saya nggak tahu mau kasih tau atau tidak. Pasalnya, kejutannya memang keren banget. Saya ceritain klunya saja. Ternyata, semua yang telah diberitahukan itu semuanya twisted, saya langsung mikir anjirrrr.... ini sebenarnya satu kejutan yang sering dipakai sih, namun nggak nyangka kalau dari tadi itu kita banyak dikasih tahu tentang kejutan itu. Pemahaman saya tentang Louis berubah 180 derajat. Memang sih, akhirnya kurang bahagia, ketika apa yang digambar Nell mengenai Cotton, Iris, dan Daniel menjadi kenyataan. 

Satu hal yang lupa saya katakan adalah musiknya. Musik yang diperdengarkan di beberapa adegan menurut saya terlalu memaksakan, karena bukankah film begini yang perlu ditambahin cuma efek suara? Saya suka sekali dengan REC maupun Keramat yang memang menampilkan apa adanya. Munculnya musik dalam mockumentary seperti sebuah pengotoran terhadap kreativitas. Walaupun, memang sih kita jadi kurang terbimbing suasananya.

Untuk cerita, sayangnya, ada beberapa cerita yang terasa bolong, bagaimana caranya ini si Abalam yang kayaknya dibilang ngasal oleh si Cotton bisa jadi begitu besar, bahkan sampai ada sekte pemuja Abalam? Saya bingung, jadinya. Terus, apa gunanya itu bayi dilempar ke api? Ya... beginilah mockumentary, kita harus menambal sisa penasaran kita sendiri. Tapi, saya menyarankan bagi kalian yang senang twist begini, nontonlah film ini. Setidaknya, agar bisa menikmati sensasi kamera ditampol.
76%

Minggu, 15 Desember 2013

[REVIEW]Open Grave (2013)


SINOPSIS - Seorang pria terbangun di sebuah kuburan terbuka berisi mayat-mayat. Ia pergi dari tempat itu dengan bantuan seorang wanita Asia yang tak bisa berbahasa Inggris. Mereka berkumpul di sebuah rumah bersama tiga orang lain yang tak mengingat apapun. Pada akhirnya, lewat serangkaian saksi-saksi bisu, mereka harus memecahkan siapa mereka sebenarnya, dimana mereka berada, dan mungkin... apakah mereka bisa tetap bertahan hidup atau tidak...

Sabtu, 14 Desember 2013

[REVIEW]Suspiria (1977)

Sinopsis
Suzy Bannion masuk ke sebuah akademi balet di daratan Eropa. Hijrahnya dari Amerika menuju Eropa disambut oleh peristiwa pembunuhan sadis terhadap seorang siswi di akademi itu. Perlahan, di tengah mimpi buruk dan teror, Suzy harus sendirian memecahkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru-guru setiap malam…

Kamis, 08 Juli 2010

Bunian (2004)

SINOPSIS

Andra adalah "anak baru" di Sydney, ia disana sebagai mahasiswa Jurnalistik. Demi kemudahan mencapai tempat barunya, Andra dibantu temannya Bimo dan pacar Bimo, Kara, untuk mencari rumah yang bagus. Di info share roommate di kampusnya, seseorang yang aneh menjatuhkan info "FLATMATE WANTED". Segeralah Andra pergi kesana sendiri, sebuah flat di daerah Pyrmont di flat nomor 1227 yang berlantai 2. 

Setelah berhasil beradaptasi dengan teman seflatnya, ia malah mulai diganggu oleh penampakan demi penampakan yang semakin lama semakin mengerikan. Sampai sebuah pencarian yang ia lakukan bersama teman-temannya berujung kepada fakta bahwa Andra dalam bahaya.


REVIEW

Bunian adalah salah satu film horor Indonesia yang pantas dimasukkan bioskop apabila dananya mencukupi karena semua tahu bujet ke Australia mahal. Dari segi setting, semuanya overall bagus. Kita bisa maklum banyak mimik yang kurang pas karena ini film debutan. Tapi lain dengan Wisnu Adi dalam film Kekasihnya, film ini lebih menjanjikan seperti The Last House on the Left dalam Wes Craven.

Dari segi ceritanya, kita banyak terkejut kalau film ini sangat Indonesia sekali. Seakan mereka menaruh Indonesia kecil didalam Sydney. Tapi plot yang terlalu "menjelaskan" membuat twist nya sangat gampang ditebak. Hanya waktu 15 menit kurang yang dibutuhkan untuk menebak twist difilm ini. Selain itu, sebagai film yang memuat twist, saya lebih suka dengan film yang tidak menebar petunjuk dan membuat kita harus menduga-duga; film ini menebar petunjuk sedari awal. Untuk adegan kengeriannya, dieksekusi dengan sangat pas. Apalagi ketika ada hantu cewek berdarah di bak mandi.

Maklum film debutan, untuk beberapa adegan dirasa sangat mengganggu sekali. Terutama saat adegan dimana Andra harus menghadapi hantu-hantu itu, lampunya mati terus. Apalagi saya menonton di Youtube, sehingga nyaris tidak kelihatan apa-apa. Mati lampunya jadi cukup sering dan harus melihat-lihat karena banyak adegan visual yang ditampilkan. Musik dirasa cukup pas. Pada beberapa adegan, orang bisa merasakan betapa intense and fright yang ditawarkan. Selain itu, (termasuk editing), benar-benar a la Indonesia sekali. Karena editing yang dirasa lambat ditambah dialog gak penting dalam cerita, durasi 85 menit bisa saja dipadukan dengan subplot lain yang lebih menarik.

Kemudian, banyak goofs seperti kematian yang aneh dan tidak sesuai, terus koran Indonesia di Sydney, dan lain-lain. Hal itu terus mengganggu hingga film berakhir. Yang bisa membuat kelemahan ini berkurang adalah akting yang dibawakan. Kendati tidak mengusung pemain handal, tapi mereka bisa bekerja sama dan membuat mereka sendiri semakin terasah dalam setiap adegannya. Terakhir, di Sydney rupanya bisa kita temui Pocong dan Kuntilanak. Sepertinya itu kurang bermutu deh, banyak kan yang bisa menjadi hantu lain, gak harus dua tipe itu. 

Untuk sebuah film debutan dengan pemain baru, film ini bagus. Tapi apabila dieksekusi dengan semua yang lebih matang, akan lebih bagus lagi.

6 of 10.

Merah Production and Theater 14 present a film by Muhammad 'Kimo' Stamboel "Bunian"
Ferryanto Tobing - Martia Susanto - Ananias Lukitoadi
screenplay by Kimo Stamboel and Virra I. Dewi
directed by Muhammad Kimo Stamboel

Senin, 14 Juni 2010

Darah Perawan Bulan Madu (2009)

SINOPSIS

Bertemu dalam perjanjian besar dua perusahaan, Amira (Indah Kalalo) dan Putra (Restu Sinaga) jatuh cinta dan menikah. Melepas diri dari kepenatan, mereka memutuskan untuk melakukan bulan madu di pulau pribadi milik Putra yang dulu dipunyai mantan istrinya yang meninggal karena kecelakaan, Lydia (Adelia Rasya).

Terjadilah saat-saat menggairahkan dan romantis antara Amira dan Putra. Sampai kejadian-kejadian aneh mengintimidasi Amira secara terus-menerus, membuat ia yakin bahwa Lydia meneror dirinya. Apalagi hal ini diperkuat dengan dua pengintip profesional, Deden sang satpam pulau dan Yanto sang koki yang terpesona akan kemolekan Amira, yang satu-persatu meninggal tanpa diketahui mayatnya.


REVIEW

Sekar Ayu Asmara adalah salah satu pionir cerita-cerita psikologi yang ruwet dan mengasyikan. Jujur saja, novel-novelnya sudah saya koleksi karena kemampuannya merangkai sebuah cerita kompleks dengan akhir yang mengejutkan. Kali ini, apakah mungkin karena tidak ada job? Sekar Ayu Asmara menulis cerita, dan cerita berjudul Bulan Madu itu diadaptasi ke bentuk film oleh Sentral Pictures. Dengan embel-embel yang bener-bener gak penting, yakni tulisan "Darah Perawan", film ini menjadi annoying.

Sebenarnya apabila film ini dijadikan sebuah film berdurasi 40 menit, film ini akan menjadi bagus. Karena akan sangat diyakinkan, pembuatnya akan memotong bagian-bagian sok lucu dari para pembantu yang seronok. Juga, itu akan memotong kemesraan yang menjijikkan antara Putra dan Amira. Cukup ditampilkan sedikit saja, lalu concerned ke bagian plotnya dong.

Hingga klimaks film, tidak ada sama sekali adegan yang membuat setidaknya, tubuh bereaksi sedikit. Tapi yang ada hanya bosan yang menumpuk, ditambah puluhan adegan semi telanjang dari Indah Kalalo yang sebenernya cuma nunjukin semua bagian tubuh minus dua bagian paling private. Dan karena judulnya ada embel-embel "Darah Perawan", pastinya kita berpikir ada hubungannya darah perawan dengan bulan madu. Tapi hingga Putra mengungkapkan sisi kejahatannya yang sebenarnya, dikirain dia ngebunuh cewek-cewek kaya buat diambil darah perawannya, terus buat ritual penambah kesaktian atau semacamnya, ehhh ternyata cuma kenyataan bahwa si Putra ini psycho mata duitan. 

Adegan klimaks saat Amira menyadari yang sebenarnya terjadi, ekspresi dia gak ketangkep, dan selama itu kita enggak dapet sama-sekali apa yang sebenarnya terjadi. Beginilah kalau sang sutradara adalah DOP yang naik status. Dia bahkan tidak mengumbar apapun selain kemolekan Indah Kalalo! Beginikah stereotipisme film Indonesia? Horor rendahan dan sensualitas yang tinggi? Wajar saja apabila film ini (dan berpuluh-puluh film horor dan sex comedy lainnya) dibenci masyarakat. Tapi... bagaimanapun, konsumsi hasrat manusia tidak pernah berbohong...

Perfection deserves Perfection. Itulah yang menjadi kunci adaptasi. Sebuah buku atau karya yang bagus pantas diapresiasikan ke bentuk film dengan kualitas yang sama. Bukankah seharusnya itu yang menjadi patokan sebenarnya? Sekar Ayu Asmara rela menulis ceritanya (yang diyakini pasti bukan masalah hantu dan komedi yang dijadikan major plot) entah karena apa, dan sebaiknya, Sekar Ayu Asmara kembali membuktikan dirinya hebat dalam bertutur seperti di novelnya dan di film Belahan Jiwa.

2 of 5

Paku Kuntilanak (2009)

SINOPSIS

Trio pemburu mayat (Sukun, Obeng, dan Odjie) beraksi kembali. Kali ini mereka mencari Kuntilanak yang menjelma menjadi manusia kembali setelah paku di kepalanya, dilepas secara tidak sengaja oleh atasan mereka, Pak Joko. 

Pak Joko diteror terus menerus oleh ibunya, karena belum juga menikah diusianya yang sudah semakin tua. Pak Joko yang berniat mendekati Mona malah ditolak mentah-mentah.

Hingga akhirnya muncul seorang perempuan cantik bernama Kunti, yang tak lain tak bukan adalah sosok Kuntilanak yang dicari-cari oleh Trio Pemburu mayat. Mereka pun mencari berbagai cara untuk meyakinkan pak Joko bahwa perempuan yang akan dinikahinya tersebut adalah sosok kuntilanak yang sedang menuntut balas pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.

REVIEW

Film ini menambah panjang deretan film horor yang tidak bermutu dari Maxima Pictures yang dulu sempat saya acungi jempol karena konsistensinya pada drama mellow milik Nayato (setidaknya mereka enggak buang duit terlalu percuma). Namun karena drama udah tidak jaman, merekapun setia menggunakan Findo Purwono HW (sutradara film kontroversial Buruan Cium Gue!) dan kali inipun, Maxima dan Findo udah klop dan memproduksi banyak porn horror trash movie yang berlabelkan Dewi Perssik.

Adegannya ditumbuhi banyak komedi-komedi yang biasa kita lihat di layar kaca. Tetapi, tentu saja bukan itu sebabnya film ini laku, tentu saja karena adegan Keith Foo dengan Heather Storm dan Dewi Perssik. Sempat menjadi kontroversi saat Keith Foo dan Dewi Perssik diadegankan, puting Dewi Perssik terlihat. Adegan puting itu sudah disensor kok, untuk di Youtube.

Adegan panas yang diperlihatkan, sebenarnya saja lebih sedikit daripada film Swimfan (2002) dan Obsessed (2009), tapi karena ini bintang lokal, dan siapa sih laki-laki yang gak mau ngelihat pemandangan "indah" yang banyak tersaji di film ini (well, it cost 20,000). Dewi Perssik yang pamornya sudah terkenal tentu lagi-lagi menyebarluaskan perihal akting nude nya. Kalimat ngeles nya sama aja, "Saya hanya berusaha profesional dalam mendalami peran,".

Unsur seram yang ada di film ini benar-benar nol! Sungguh salah apabila kita mengira film ini adalah sebuah film HOROR. Nyatanya film ini menjurus ke KOMEDI SEX yang menjurus ke adegan PORNO. Tapi, sepanjang apapun kritik yang ditulis seluruh manusia yang membenci film ini, film ini tetap masuk Box Office dan adalah sebuah hasrat manusia untuk menyaksikan sebuah pemandangan indah secara massal. 

Di film ini juga, banyak adegan-adegan yang cenderung aneh. Seperti kematian Heather Storm karena kecebur di kolam renang. Ini beneran, cuma kecebur doang, terus mati. Lalul adegan dimana "makan mie bersama Kunti" yang mana mie itu adalah cacing. Itu cacing ato tali kusem? Mana akhirnya yang ngikut-ngikut film Tulalit dan Beranak Dalam Kubur, lagi. Padatas (Pamer Dada Atas) dipasarkan secara bebas di film ini. Anda bebas melihatnya secara kentara karena itulah tujuan film ini dibuat. Mengumbar aurat.

1 of 5

Kamis, 13 Mei 2010

RED EYE


Pada dasarnya Wes Craven dulunya cuma seorang sutradara yang diprediksi bakal jadi the next George A. Romero, yakni membuat sebuah genre baru, tapi akhirnya Craven cuma bakal jadi follower genre yang dibikinnya sendiri. Kayak Romero yang sampe sekarang menelurkan film-film zombie yang walaupun dianggap berkualitas, tapi pendapatannya kurang mujur karena stereotipisme (what?) yang memuakkan. Khusus pecinta gore, pasti demen ama sutradara lansia ini.

Well, seenggaknya Craven berhasil membuktikan dengan seringnya berganti sub-horror dalam filmografinya yang udah bejibun. Mulai dari film rape and revenge yang dengan sukses di banned di belasan negara, terus gore and revenge di The Hills Have Eyes, akhirnya dia melahirkan karya puncaknya, apa lagi kalo bukan A Nightmare on Elm Street, salah satu serial slasher paling kondang setelah Myers dan Voorhees. Dalam kronologi dari film perdana Freddy Krueger itu sampai Scream, sesungguhnya dipandang sebelah mata karena pembuatan yang jujur saja, cukup asal-asalan, tapi Craven punya taste tersendiri dalam mengelola filmnya yang sebenarnya ancur jadi worthy-watch. Dan diantara 1984-1996, cuma Wes Craven's New Nightmare yang paling berkesan, mungkin karena unsur satirenya yang gak bisa ditolerir lagi.

Di tahun 2005 saat Hollywood SANGAT demen sekali beralih ke horror asia (The Ring dan The Grudge) Craven masih mempertahankan gaya directing nya, yakni American Horror yang klasik. Tahu genre yang paling ia kuasai mulai tertindas di negeri sendiri (persis banget kondisinya dengan horror indonesia yang terjerumus dalam esek-esek horror), Craven memutuskan untuk menyutradarai film berselera very intense thriller layaknya film Jan de Bont tahun 90-an, Speed. Film itu adalah Red Eye yang dikatakan oleh distributornya sebagai "suspense-thriller at 30,000 feets".


Lisa Reisert adalah manager yang baik untuk dicontoh di dunia perhotelan, baik, ramah, dan cepat dalam bekerja dan mengambil keputusan. Kini ia sedang berada di Dallas untuk menghadiri pemakaman neneknya yang berumur seabad kurang sembilan. Setelah beberapa saat menunggu pesawat di bandara untuk segera pergi ke Miami, tempat hotel dan rumahnya berada, ia harus menunggu beberapa jam karena pesawat tersebut di delayed. Karena itu, ia bertemu dengan seorang pria baik bernama Jackson Rippner yang ternyata sebangku dengan Lisa di pesawat. Setelah terbang diketinggian 30,000 kaki untuk menghindari turbulensi, Jackson menyatakan maksudnya. Dia adalah seorang head-operator dari rencana pembunuhan seorang Menteri Keamanan Negara bernama Keefe yang berencana menginap di hotel Lisa. Tugas Lisa adalah menelepon di pesawat ke hotel untuk memindahkan kamar Keefe ke dekat laut agar memudahkan ditembak para pembunuhnya. Apabila Lisa tidak mau bekerjasama, sang ayah akan dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran yang menunggu didepan rumah sang ayah, tinggal menunggu telepon dari Jackson. Lisa harus memperjuangkan kehidupan di daratan dengan sebuah telepon pesawat, dan waktu pendaratan pesawat itu.

Oke, sebenarnya sinopsis itu bisa dipersingkat menjadi tiga kalimat (seperti yg tertera di boks VCD-nya) tapi ceritanya cukup ribet untuk dijelasin karena semuanya berkaitan. Menonton Red Eye sama seperti nungguin giliran kencing di toilet umum. Anda tidak bisa segera menuntaskan keinginan anda karena ada pembatas yang tipis diantara kita. Red Eye adalah sebuah thriller yang berlokasi sempit, dengan rencana setting seperti itu, para kru udah tau ini film akan dengan gampang mengarah pada dua kejadian: membosankan banget atau rada-rada seru. Dan Red Eye celakanya mempunyai dua kejadian tersebut. Dipesawat, anda tidak akan mendapatkan apapun kecuali dialog intens yang simpel tapi pointless. Sedikit kekerasan dalam pesawat akan menghibur anda. 

Di timing seperti itu, rasanya akan gatal memencet tombol FF di remote agar hasilnya cepet ketauan (karena keinginan Jackson bahkan udah disampein di sinopsis, jadi butuh apalagi ?) dan tentunya cepet pergi dari adegan pramugari blonde yang bodoh. Sementara di daratan, movie has begun. Filmnya menjadi MENEGANGKAN ketika ada di daratan, dimana Lisa mulai beraksi ala Bond women tanpa Bond itu sendiri, segala kecerdikannya saat bekerja di hotel anehnya bisa memacu Lisa menusuk leher orang, mencuri handphone dan mobil, dan menabrak seorang pria berdasi. Disaat itulah semuanya menjadi real, tapi justru karena bagusnya adegan daratan membuat adegan di pesawat tidak cukup berarti untuk diingat. Juga karena tokoh Jackson yang menjadi lemah di menjelang akhir film, jadi, keputusannya adalah kebodohan sekelompok teroris yang menyewa seorang pelaksana rencana semacam Jackson. 

Apakah intinya ? Film Red-Eye adalah sebuah film yang mempunyai pacuan ketegangan yang bagus, tetapi dialog dan satu karakter inti yang lemah membuat alur film yang intens menjadi rusak sebagian. Lain kali sewalah perencana pembunuhan seperti Phillipe Nahon di Haute Tension plus Anthony Hopkins di The SIlence of the Lambs, jadinya rencana anda menjadi lebih lancar dan rapih. Wahai tuan Jackson Rippner, lain kali bawalah sumsum tulang belakang anda di pesawat, nangkep refleks cewek aja gak bisa.

3 of 5