Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label comedy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 April 2017

[REVIEW] The Guys (2017)

SINOPSIS

Para karyawan perusahaan iklan yang juga satu kontrakan: Alfi, Aryo, Rene, dan kawan ekspat dari Thailand, Sukun, bersahabat dalam mendapatkan kebahagiaan di tengah kesibukan mereka bekerja, juga kesibukan mencari cinta. Alfi yang bermimpi menjadi bos, terlibat asmara dengan rekan sekantornya Amira, yang ternyata anak bosnya sendiri, Pak Jeremy. Lebih naas lagi, saat pak Jeremy justru jatuh cinta dengan ibu Alfi. Berhasilkan Alfi mendapatkan cita dan cintanya?

RATING

13 tahun ke atas

REVIEW

Raditya Dika merupakan salah satu penulis favorit saya semasa remaja. Imajinasi-imajinasi liar yang diciptakannya di dalam buku-buku, termasuk salah satu alasan mengapa saya bisa terpingkal-pingkal dengan kelucuannya. Ia juga laris sebagai penulis buku dan komedian, terutama setelah pertunjukan komedi tunggal (stand up comedy) menjadi terkenal di Indonesia. 

Saya sendiri sama sekali tidak ada masalah dengan karya-karyanya. Meskipun bibliografinya tidak pernah cenderung bergeser dari tema-tema cinta dan premis pencarian jati diri anak muda, setidaknya Dika mampu mencari banyak sisi lain dari kemampuannya dalam mengolah naskah untuk mengocok perut siapapun yang menikmatinya. Dari deretan filmografinya pun, Dika yang sangat terlibat dalam penggodokan naskah dan akting, nampak oke-oke saja membawakan karakternya - dia sendiri. Jadi, secara keseluruhan, secara sungguh-menyungguh, saya tidak memiliki kecenderungan apapun terhadapnya.

Saya nonton filmnya beberapa kali, dan saya mengakui bahwa kelucuan itu ada, walaupun begitu film-film Dika (juga film-film komedi Indonesia) belum banyak menyentuh selera saya. Tentu, sekali lagi ini bukan masalah kualitas, melainkan selera penonton. Penonton bisa tembus berjuta-juta, namun suka atau tidaknya terhadap karya merupakan soalan sendiri. 

Kali ini, saya menonton film The Guys karena kebetulan hari libur dan orang-orang rumah juga berkenan nonton bersama. Atas inisiasi adik, saya pun menonton film ini. Well, film ini berdurasi 115 menit dan komedi tanpa saya bisa menerka alurnya seperti apa. Bahkan jujur, setelah menonton cuplikan resminya, saya masih bertanya-tanya juga film ini akan seperti apa. Akhirnya, saya terkejut.

Saya terkejut karena ini pertama kalinya saya merasa bosan menonton film bioskop.

115 menit yang disajikan lewat rumah produksi Soraya Intercine ini memang menyajikan cerita yang ringan sekaligus idealis, namun saya tidak menyangka cerita itu begitu ringan, sehingga saya nyaris melupakan rentetan ceritanya saat film akan berakhir.

Di saat pertama, saya mendapati banyak kelucuan-kelucuan ala Raditya Dika di dalam adegannya, dan saya tidak mengelak bahwa itu lucu. Namun, perlahan ada sesuatu yang sangat aneh saya rasakan. Sesuatu yang tak bisa membuat film ini mampu saya nikmati secara utuh.

Saya mencoba melanjutkan menonton dengan fokus pada bagian lain, seperti departemen teknis dan naskah. Musik EDM yang sedikit dominan di film ini menjadi salah satu poin plus, namun lagi-lagi kejanggalan kembali hadir dalam perasaan saya. Kejanggalan ini, jujur saja, semakin menguat di akhir film, yang akhirnya karena bingung, saya sibuk berpikir apa yang salah. Saya tak benar-benar menonton untuk hiburan, justru melihat benar-benar setiap adegan hingga akhir.

Akhirnya pun saya keluar sebelum penayangan sampai di menit terakhir.

Meskipun demikian saya sudah mengetahui jawabannya.

Jawaban dari kejanggalan yang saya rasakan adalah, bahwa film ini memiliki plot seperti naskah komedi tunggal. Ini hipotesis, asumsi, dan teori sekaligus. Namun, sejauh ini jawaban ini merupakan jawaban terjitu untuk mengungkapkan kebingungan yang saya hadapi selama film diputar.

Kejanggalan itu pertama tampil saat adegan geng laki-laki ini makan siang. Adegannya oke-oke saja, namun bagaimana dialog-dialog diucapkan dan topik-topik pembicaraan digulirkan, saya merasa betul naskahnya tidak membumi. Formula komedi yang saya tahu dari pertunjukan komedi ala Jepang, Owarai, adalah dengan menampilkan dua elemen, boke dan tsukkomi. Boke adalah peran bodoh, sementara tsukkomi akan membalas perilaku dan ucapan yang diberikan boke. Respon tsukkomi dan kebaruan boke merupakan intisari komedi.

Menggunakan pisau analisis itu, saya merasa dialog The Guys diciptakan dari ke-boke-an Sukun yang masih sulit berbahasa Indonesia, dan dibalas dengan tsukkomi anggota geng yang lain. Formula ini setidaknya diterapkan beratus-ratus kali dengan mengandalkan kesalahpahaman satu orang dengan orang lain hingga saya jengah dan muntab menghadapinya.

Kejanggalan berikutnya yang tampil adalah banyaknya subplot yang dimuntahkan oleh film ini. Ada kisah persahabatan, ada kisah pendekatan, ada kisah cinta orangtua, dan ada kisah dua cinta yang harus dikorbankan. Subplot yang ada sebenarnya bisa-bisa saja bergabung, namun tidak ada sama sekali yang membekas. Subplotnya persis sinetron, episode 1 menuju akhir A, lalu dari akhir A ada 5 intrik yang dikupas dalam sepuluh episode. Ketiadaan plot utama yang kuat, membuat saya malas menonton, karena menjelang akhir, sangat tampak naskah hanya ingin mengentaskan kewajibannya menyelesaikan seluruh subplot yang ada dan menciptakan rangkaian penutup kisah yang terjadi berkali-kali di akhir film. Contohnya, setelah Alfi dan Amira berpelukan, muncul kisah geng laki-laki ini ke bandara, dan muncul kisah Alfi dan ibunya.

Adalah sah dan boleh bila naskah tampil demikian, karena toh semua subplot tidak benar-benar bertabrakan. Namun, eksekusi yang dibuat film ini tidak menghasilkan subplot itu padu, melainkan seperti saling sikut di pikiran saya untuk memperebutkan siapa yang paling bisa diingat. Ini persis yang saya rasakan tiap menonton komedi tunggal di televisi. Sang komedian pindah dari satu tema ke tema yang lain, dan membuat saya tertawa, namun tak bisa menerima pertunjukan tersebut sebagai satu pertunjukan yang utuh.

Kejanggalan berikutnya, dan yang menurut saya paling parah, adalah bagaimana film ini berusaha untuk mengekspos pencarian jati diri Alfi. Sebenarnya biasa saja, menampilkan Alfi yang semangat menjadi bos. Namun, pembawaan Alfi di dalam subplot ini sedemikian berbeda dengan Alfi di subplot yang lain, dan jujur (untuk kesekian kalinya dalam review ini), Alfi tampak bagaikan kembaran Alfi yang hidup di dunia lain. Alfi yang ini tanpa malu-malu merusak hasil emosi yang diciptakan dari adegan subplot sebelumnya dan tiba-tiba membuat perilaku acak, yang sama sekali berbeda dan membingungkan saya. Contohnya, setelah adegan cinta-cintaan, tiba-tiba Alfi mengundurkan diri. Saya mengernyit tak habis pikir apa maunya film ini.

Di akhir film, nampaknya Alfi can settle his life, tapi yang nampak di hadapan saya adalah sebuah kehidupan pemuda dengan kepribadian ganda yang mencoba untuk memberikan arti kehidupannya dalam waktu 115 menit. Itu gagal, dan saya merasa sayang mengingat punggawa film ini adalah Raditya Dika. 

Sebenarnya, subplot-subplot yang asal muncul ini merupakan salah satu masalah, dan bahkan menjadi jualan di era film Warkop DKI (yang juga diproduseri Soraya juga). Dono Kasino Indro bisa saja dari satpam, lalu ke pantai, lalu ke pesta. Perbedaannya, Warkop DKI tampil dengan eskpose komedi slapstick yang menjadi andalan, sehingga mau bagaimanapun absurd ceritanya, Warkop DKI akan tetap tampil di dalam satu film sebagai kumpulan sketsa kocak asal 80-an. Namun, untuk The Guys, masalah terbesarnya adalah dengan keinginan ekspose adegan humor, masih merasa perlu untuk gigih menyelesaikan ceritanya. Kekonyolan yang membuat saya terpingkal-pingkal (seperti adegan Alfi dan Pak Jeremy menyaksikan film ciuman bersama), menjadi kilas yang saya ingat, namun tidak untuk seluruh film.

Saya merenung lagi kala menulis tulisan ini, akankah The Guys jauh lebih baik ketika ia menerjemahkan naskahnya menjadi satu rangkaian tanpa subplot yang diiris dan diacak di 115 menit penampilannya? Saya rasa tidak juga, karena dari awal konsep tentang tokoh Alfi yang saya dapatkan adalah pemuda yang sebagaimana pemuda lainnya, memiliki keinginan untuk berhasil dalam segala aspek hidupnya. Hanya saja, sayang film ini mencoba terlalu kuat.

Jadi kesimpulannya, ini bukan performa Raditya Dika yang terbaik, namun saya masih dapat memberikan toleransi. Setidaknya, as long it's free, saya akan kembali menyaksikan filmnya.

N.B.

Film ini juga mempunyai banyak stok kalimat awkward yang saya hampir yakin di dunia ini kalimat tersebut tak mungkin diucapkan. Stok kalimat bromance yang ditaburkan dan diaduk di sepanjang film, juga ungkapan exaggerating tentang hubungan orangtua anak yang diucapkan, membuat saya keheranan dari mana dialog ini dibuat, dan bagaimana dialog ini tak bisa nampak senatural mungkin. Mungkin ada pada pengarahan akting dan aktingnya sendiri, atau mungkin juga naskah. Tapi saya merasa saya terlalu banyak memprotes film ini, jadi setidaknya saya akan lupakan.

Selasa, 28 Juni 2016

[REVIEW]Mr. Peabody and Sherman (2014)

SINOPSIS
Mr. Peabody (Ty Burrell) adalah seekor anjing jenius yang dapat melakukan apa saja, mulai dari memainkan musik latin, medali di Olimpiade, hingga mendapat penghargaan Nobel. Suatu ketika, Mr. Peabody memutuskan untuk mengadopsi seorang anak manusia bernama Sherman (Max Charles). Bersama mereka berdua melakukan banyak petualangan ke masa lalu dengan sebuah mesin waktu ciptaan Mr. Peabody yang disebut WABAC. Di hari pertama sekolah, Sherman dengan kemampuan pengetahuannya membuat masalah dengan seorang gadis angkuh bernama Penny (Ariel Winter), yang mengancam hubungan adopsi Sherman.

Malam harinya, sebelum investigator Mrs. Grunion yang keji datang, Mr. Peabody mengundang keluarga Penny agar sikap mereka melunak. Sementara itu, Sherman yang terpaksa bersama Penny, membocorkan rahasia WABAC dan dipaksa Penny untuk berpetualang. Tak disangka, perjalanan itu adalah awal dari petualangan antar waktu yang mengasyikkan. Hingga, di satu titik dimana sesuatu yang tak terduga terjadi, Sherman harus melanggar aturan WABAC - tak boleh pergi di masa kamu ada - untuk menyelamatkan anjing, sekaligus ayah yang ia cintai, juga membetulkan masa depan dari Bumi ini.

Rabu, 18 Mei 2016

[REVIEW] Chillerama (2011)

SINOPSIS
Seorang petugas drive-in mencoba menyetubuhi mayat istrinya saat ia dipanggil untuk bekerja. Mayat istrinya menularkan padanya cairan ungu yang perlahan mengubahnya menjadi zombie. Sementara itu, sang pemilik drive-in Cecil Kaufman atau Mr.K (Richard Riehle) sedang menayangkan pertunjukan drive-in terakhirnya sebelum tempat itu dijual dengan menayangkan beberapa film. Ada Wadzilla yang berkisah tentang sperma seseorang yang membesar karena obat dan memangsa seisi kota, I Was a Teenage Werebear yang berisi seorang pemuda yang digigit sehingga menjadi werebear, dan harus melawan werebear lain yang suka memangsa orang lain. The Diary of Anne Frankenstein bercerita tentang Hitler yang mencoba membuat sebuah monster sebagai mesin perang dari jurnal milik kakek Anne Frank. Yang terakhir, di antara film terakhir Deathication mengenai kotoran, seluruh pengunjung drive-in yang memakan berondong jagung yang telah dicampur cairan ungu secara tak sengaja, berubah menjadi zombie dan Mr. K berusaha menumpas mereka semua, Zom-B-movie.

PERINGATAN: Mengandung konten yang kurang pantas untuk dibaca. Bagi yang berumur di bawah 18 tahun atau yang cukup normal, sangat dianjurkan untuk tidak menonton film ini ataupun membaca review-nya. Terima kasih.

Selasa, 21 Januari 2014

[REVIEW] Hatchet III (2013)

SINOPSIS
Marybeth Dunston (Danielle Harris) menghancurkan wajah Victor Crowley (Kane Hodder) lewat kapak dan shotgun, yang dilengkapi dengan pembelahan tubuh yang dilakukan oleh gergaji mesin. Potongan kepala Victor Crowley dibawa Marybeth ke stasiun polisi bersama shotgun, membuat para polisi dipimpin Sheriff Fowler (Zach Galligan) menangkapnya. Cerita Marybeth tak dipercaya, tentu saja, tetapi bukti semakin kuat kala paramedis dan polisi menemukan mayat-mayat di Honey Island Swamp. Polisipun, termasuk sang Sheriff ikut terjun ke sana. Saat kepergian itu, Marybeth ditemui seorang jurnalis mantan istri Sheriff Fowler, Amanda (Caroline Williams) yang terobsesi pada penelitian mengenai eksistensi Victor Crowley. Setelah mendesak Deputi Winslow (Robert Diago), Marybeth diwawancarai Amanda, yang memberikan sebuah fakta bahwa Victor Crowley adalah repeater, yang sekalipun ia mati, pada esok malamnya ia akan bangkit lagi. Satu-satunya harapan adalah mempertemukan Victor Crowley pada sang ayah yang kini sudah mati.

Sementara itu, di Honey Island Swamp, Victor Crowley bangkit kembali di kapal paramedis yang mengangkut mayatnya. Iapun kembali membunuh semua orang, dan tim SWAT yang dipimpin oleh Hawes (Derek Mears) berusaha memburu Victor Crowley. Berkat bujukan Amanda, Deputi Winslow mengantarkannya dan Marybeth untuk menemui sepupu Victor Crowley yang mempunyai abu Thomas Crowley, Abbott McMullen. Pada saat seperti itu, Marybeth tak punya jalan lain untuk selamat kecuali menyerahkan abu itu pada Victor Crowley secara langsung, untuk mengakhiri rentetan kejadian berdarah di Honey Island Swamp.

[REVIEW] Hatchet II (2010)

SINOPSIS
Marybeth Dunston (Danielle Harris) berhasil selamat dari cengkraman Victor Crowley di rawa dan diselamatkan oleh orang tua aneh yang tinggal di Honey Island Swamp itu, John Cracker. Ketika John mengetahui bahwa Marybeth adalah anak Samson Dunston, ia langsung mengusirnya keluar, memberinya petunjuk bila ingin mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi, bertanyalah pada Reverend Zombie (Tony Todd) yang mengelola sebuah toko voodoo.

Di kota, Marybeth mendapat cerita tambahan tentang legenda Victor Crowley dari Zombie. Ternyata ayahnya, pamannya, dan seseorang bernama Trent-lah yang telah melemparkan petasan ke rumah Victor Crowley. Victor Crowley sebenarnya hasil dari hubungan Thomas dan perawat sang istri yang menderita kanker. Ketika sang istri meninggal, ia melancarkan kutukan kepada anak yang dikandung perawat itu. 

Akhirnya, Lewat sebuah ancaman melaporkan Zombie tentang tur rawanya yang ilegal, Zombie mau mengantarkan Marybeth untuk membawa mayat ayah dan kakaknya, asal ia mau membawa pamannya turut serta. Setelah menjebak para pemburu dengan iming-iming uang, akhirnya Marybeth, sang paman Bob (Tom Holland), Zombie, kakak Shawn, Justin, dan sekelompok pemburu termasuk Trent masuk ke rawa itu untuk memastikan daerah itu aman dan tambahan bila berhasil mendapatkan kepala Victor Crowley.

Rencana Zombie ternyata berbeda dengan apa yang dipikirkan Marybeth yang bermaksud ingin membunuh Victor Crowley, sementara itu sesuai yang diinginkan kala malam tiba, semua orang terpencar dan tentu saja, kali ini Victor Crowley akan kembali.

[REVIEW] Hatchet (2006)

SINOPSIS
Pada perayaan Mardi Gras, Ben dan Marcus berniat mengikuti sebuah tur rawa berhantu yang terletak di kawasan itu, di New Orleans. Tur malam hari itu ternyata cukup ramai, ada Shapiro pembuat film softporn dan aktrisnya Misty dan Jenna. Bersama itu ada pula suami istri Jim dan Shannon Permatteo juga seorang perempuan yang diam bernama Marybeth. Dilengkapi dengan sang pemandu Shawn yang belum begitu berpengalaman, mereka pergi menelusuri rawa tersebut.

Di tengah rawa, kapal mereka tenggelam dan membuat mereka harus mendarat, tepat di depan rumah Victor Crowley. Menurut legenda lokal, ia adalah anak dengan fisik yang kurang sempurna sehingga tubuhnya dianggap mengerikan oleh orang lain. Ia dan ayahnya Thomas tinggal di tengah rawa itu. Pada malam Halloween, anak-anak yang iseng melemparkan petasan yang berubah menjadi api yang membakar kediaman Crowley. Sang ayah mencoba membuka pintu itu dengan kapak, namun tak tahu kalau sang anak tengah bersandar di pintu itu. Victor pun mati dalam kecelakaan tersebut. Setelah sang ayah mati, mulai banyak orang yang menghindari rawa itu hingga secara resmi ditutup. Banyak yang mengatakan di hari kematiannya, ia akan membunuh siapa saja yang mendekati rumahnya, masuk ke rawanya.

Marybeth yang membawa pistol untuk mencari keberadaan kakak dan ayahnya yang hilang di rawa itu bersama dengan seluruh peserta tur, akan menghadapi tur paling menakutkan dalam hidup mereka.

Sabtu, 18 Januari 2014

[REVIEW] You're Next (2011)

SINOPSIS
Erin dan kekasihnya Crispian pergi menuju sebuah rumah besar terpencil di Missouri milik ayah Crispian, Paul dan Aubrey Davidson. Kunjungan ini sebenarnya adalah reuni yang direncanakan oleh keluarga Davidson untuk memperingati hari ulang tahun perkawinan orangtua mereka. Bersama Erin dan Crispian, datang pula kakak Crispian, Drake dan istrinya Kelly, serta adik mereka Felix dan kekasih Felix, Zee, dan si bungsu yang baru kurus, Aimee serta sang kekasih Tariq. Menghindari segala argumen yang ada, mereka berkumpul untuk makan malam. Saat itu, di tengah pertikaian yang tiba-tiba muncul di tengah makan malam, kepala Tariq ditembus oleh panah crossbow. Pembunuhan itu menjadi awal serangkaian pembunuhan yang dikarenakan beberapa orang bertopeng. Dalam semua kepanikan, tak diduga Erin mulai membalas dendam pada para pembunuh itu dengan berbekal keahliannya dari masa kecil yang unik, yakni terlatih untuk hidup dalam bahaya.

Minggu, 05 Januari 2014

[REVIEW] Princess, Bajak Laut, & Alien (2014)

SINOPSIS
Princess, Bajak Laut, & Alien adalah sebuah karya omnibus pertama Indonesia mengenai anak-anak karya empat sutradara. Misteri Rumah Nenek dari Eko Kristianto menceritakan Iqbal dan adiknya Salsa yang tengah berlibur di rumah nenek yang kuno dan misterius. Tatkala sang nenek dan supirnya Mang Dana pergi, apakah yang terjadi ketika mereka berdua sendirian? Kisah kedua yang dibesut oleh Alfani Wiryawan berjudul Babeh Oh Babeh mengenai Jupri yang malu dengan profesi ayahnya Rojali sebagai seorang penyanyi dangdut. Apa yang terjadi jika seorang anak yang di-bully membalas dengan break dance? Mikal adalah seorang anak SD yang kerap di-bully oleh kumpulan anak-anak SMA, sementara itu ia menemukan suatu dunia yang menarik baginya yaitu break dance. Inilah Kamu Bully, Aku B-Boy yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Terakhir, Upi membawakan adaptasi dari kisah Clara Ng dan Icha Rahmanti mengenai Troy, seorang anak di ulang tahunnya yang bermonolog tentang ia dianggap aneh oleh anak sebayanya dan berbeda oleh para orangtuanya karena kegemarannya membaca. Dengan kostum alien sebagai simbol dirinya yang merasa terasing, ia bertemu anak baru di kompleknya bernama Gwen yang berkostum princess. Bagaimana sang princess akan menolongnya?

Sabtu, 28 Desember 2013

[REVIEW]The Starving Games (2013)

SINOPSIS
Parodi The Hunger Games ini menceritakan Kantmiss Evershot yang harus memenangkan pertandingan The Starving Games untuk mendapatkan hadiah-hadiah menarik, salah satunya acar yang setengah dimakan.

Kamis, 26 Desember 2013

[REVIEW]Laskar Pelangi 2: Edensor (2013)

SINOPSIS
Beasiswa Sorbonne yang digenggam Ikal (Lukman Sardi), dan sepupunya Arai (Abimana Aryasatya) membawa mereka ke Paris kendati harus hidup pas-pasan sembari mengirimkan uang kepada Ayah (Mathias Muchus). Kita akan melihat bagaimana Ikal harus bertahan menghadapi gejolak cinta yang terjadi antara ia dan Katya, seorang mahasiswi Jerman, padahal ia harus berkutat antara nilai-nilainya dan kenangannya akan A Ling. Arai yang mencoba memotivasi Ikal malah berujung pada pertengkaran dan keduanya menjauh. Bagaimana nasib kedua anak Belitong di perantauan?

Jumat, 13 Desember 2013

The ABCs of Death (2012)

SINOPSIS
26 sutradara yang mewakili 26 alfabet. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian. 26 alfabet yang mewakili 26 mozaik. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian.
Ini tidak mendidik

REVIEW
NR. My suggested rating is NC-17 for extreme graphic violence
REVIEW
Sakit. Gila. Psiko. Jorok. Goblok. Parah. Sadis. Kyahahaha. Klasik. Apaan nih? Oke deh. Iyuuh. Ciyus loh, udah selesai? Errr. Bisa tolong ulang adegan tadi? Eh!!! Kok gitu? Nggak ngerti.
Silakan anda mengomentari film ini. Ada 26 cerita (dengan durasi 145 menit) memang sangat berlebihan. Dan boleh-boleh saja mengomentari semuanya. Nah, entah kenapa tak satu pun di film ini yang menurut saya benar-benar menarik perhatian. Satu-satunya yang menarik perhatian, ya untuk segmen L dari Timo Tjahjanto yang mengherankan saya. Oh ya, biar tidak bingung,
·         A is for Apocalypse (Nacho Vigalondo)
·         B is For Bigfoot (Adrian Garcia Bogliano)
·         C is for Cycle (Ernesto Diaz Espinoza)
·         D is for Dogfight (Marcel Sarmiento)
·         E is for Exterminate (Angela Bettis)
·         F is for Fart (Noboru Iguchi)
·         G is for Gravity (Andrew Traucki)
·         H is for Hydro-Electric Diffusion (Thomas Malling)
·         I is for Ingrown (Michael Grau)
·         J is for Jidai-geki (Samurai Movie) (Yudai Yamaguchi)
·         K is for Klutz (Morgenthaler)
·         L is for Libido (Timo Tjahjanto)
·         M is for Miscarriage (Ti West)
·         N is for Nuptials (Banjong Pisanthanakun)
·         O is for Orgasm (Bruno Forzani & Héléne Cattet)
·         P is for Pressure (Simon Rumley)
·         Q is for Quack (Adam Wingard & Simon Barretti)
·         R is for Removed (Srdjan Spasojevic)
·         S is for Speed (Jake West)
·         T is for Toilet (Lee Hardcastle)
·         U is for Unearthed (Ben Wheatley)
·         V is for Vagitus (The Cry of a Newborn Baby) (Kaare Andrews)
·         W is for WTF! (Jon Schnepp)
·         X is for XXL (Xavier Gens)
·         Y is for Youngbuck (Jason Eisener)
·         Z is for Zetsumetsu (Extinction) (Yoshihiro Nishimura)

Nah, sebenarnya dari film ini kita bisa mengetahui apa sebenarnya pikiran para sutradara horor di dunia. Maksud saya, mereka kan diberi hak untuk membuat tanpa campur tangan produser, makanya kita bisa lihat apakah horor itu generik? Nah, setidaknya banyak yang berpikir mengenai seks dalam horor. Baik sebagai tema ataupun imbuhan. Ada segmen L dan segmen O (yang setidaknya cukup ekspilisit) dan segmen P serta segmen Y. Heran juga saya, Timo Tjahjanto bisa membuat film seeksplisit ini. Mungkin, inilah segmen yang paling frontal. Saya kaget saat ada nuditas yang keras disini. Apa yang main benar-benar orang Indonesia semua? Sepertinya tidak mungkin. Eh, tapi mungkin saja, ding. Sekarang kan Indonesia makin “terbuka” dan makin “idealis”.
 
Selain itu, banyak yang membuat dalam media animasi seperti di segmen K, segmen H (tidak juga sih, tapi rasanya cukup other world), dan segmen T. Mereka cukup violent dalam menyajikannya. Eh? Lebih pintar dan lebih kelam dari Happy Tree Friends, saya lebih suka segmen K. Hahaha. Seonggok kotoran yang tidak mau dipisahkan dengan sarangnya. Saya merasa biasa saja dengan segmen T yang terpilih menjadi segmen terbaik di film ini pada saat debutnya.

Ada juga yang memutuskan untuk menjadi klasik dengan segmen B, segmen U, dan segmen M. Cukup light saat segmen N karya Banjong Pisanthanakun muncul dan komedi. Segar, lah. Tapi jangan lupakan Xavier Gens yang sadis. Ingat karya fenomenalnya Frontiers? NC-17? Nah, dia muncul kembali dengan segmen X yang menurut saya paling sakit. Yah, jangan ditonton untuk para cewek chubby yang terlalu desperate. Entah idenya apaan, tapi cara menguruskan badan seperti yang dipraktikkan di segmen ini sangat efektif! Beberapa jam saja dan anda sudah menjadi kurus! Hati-hati efek sampingnya, ya...

Segmen V menyajikan eksyen yang kental. Sebel juga karena ada adegan bayi mati. Tapi ada adegan revenge-nya kok. Tenang aja. Seperti yang saya pikirkan, ada segmen yang membahas dirinya sendiri. Ada Segmen Q dan segmen W. Yah, mungkin karena terlalu sulit, jadinya mereka buat yang aneh-aneh. Segmen Q sama ringannya dengan segmen N. Bagaimana mereka begitu sulit menemukan kata yang cocok dari Q. Sementara itu segmen W lebih.... lebih gila... Kayak semua elemen yang mereka pikirkan muncul dan menyerang begitu saja ke studio mereka. Yah, cerita ini kosong sekali. Tidak ada intinya.

Jepang menyumbangkan tiga segmen yang sama-sama aneh. Segmen F, segmen J, dan segmen Z. Segmen F menyuguhkan adegan yuri yang terkover dengan kentut. Aneh? Tonton saja sendiri. Segmen J terlihat berusaha konyol, tapi saya malah merasa kosong. Spesial untuk muka si samurai yang jadi aneh-aneh. Dan yang paling membingungkan ya segmen Z. Ini sama campur aduk dengan segmen W. Dipenuhi dengan keeksplesitan khas Yoshihiru Nishimura yang membuat Mutant Girls Squad. Dapat dibayangkan seperti apa segmen ini.
 
Dari semua yang mega, segmen G dan segmen D terlihat kacang. Tapi, menurut saya segmen G lah yang paling natural dan biasa. Tapi ia benar-benar mengajarkan mengenai kematian. Kecelakaan. Mudah, bukan? Segmen D menurut saya kurang menggigit, tapi ia punya sinematografi yang paling baik. Salah satu segmen favorit saya. Segmen A mengambil cerita yang begitu tiba-tiba. Dia ternyata bisa abadi selama setahun!

Segmen E langsung mengingatkan saya pada segmen The List di film Takut. Segmen C mengingatkan saya pada film Triangle. Segmen L mengingatkan saya pada Rumah Dara. Bukan dari ceritanya, tapi settingnya.

Segmen-segmen lainnya, menurut saya biasa saja. Yah, mungkin yang paling menarik memang segmen L yang memuaskan dari segala sisi. Segmen T juga turut menghibur karena ia masuk ke mengajarkan kematian kepada anak-anak dengan cara yang benar-benar efektif.

Sulit untuk mengatakan film The ABCs of Death itu bagus. Saya masih merasa film ini terlalu panjang dan mungkin overrated. 145 menit dengan 26 segmen berbeda jujur membuat saya bosan menontonnya. Satu-satunya motivasi saya menyelesaikan film ini sampai habis adalah karena berharap semoga segmen selanjutnya lebih baik dari segmen sebelumnya. Cerita yang ada semua berdiri sendiri dan ada yang mudah untuk dilepaskan. Untuk mengomentari ini saja, saya bolak-balik untuk mengetahui ceritanya. Yah... kelemahan terbesar sekaligus kelebihannya terletak di variasi segmennya. Kita dihadapkan pada rasa penasaran dan rasa bosan. Makannya review film ini juga rata-rata mixed. Coba lain kali, buat filmnya lebih tertata. Maksudnya, The ABCs of Death menurut saya kadang diartikan sebagai horor oleh sutradaranya. Mungkin kalau teror atau horor lebih cocok. Misalnya, kalau diberikan skenario awal dan disuruh mengembangkannya akan terasa lebih menarik.

Rating film ini juga saling tumpang tindih. Segmen G itu mungkin bisa dibilang PG. Segmen B bisa dibilang PG-13 dan lainnya R. Eh, segmen X menurut saya NC-17. Keputusan yang bagus untuk tidak dirating. Yah, kalau di Parents Guide IMDb, semuanya masuk. Sex and Nudity akan dijawab segmen L, Violence and Gore akan dijawab segmen X (tambah segmen P yang Cuma satu adegan tapi kasiaaaan banget), Profanity akan dijawab... segmen W aja deh, segmen S akan menjawab Alcohol and Drug Use yang langsung menjadikan film ini R, dan frightening and intense scenes akan dijawab... segmen X kali, ya (dan banyak segmen lain). Sekadar info kalau film ini ada sekuelnya di tahun 2014. Dan tahu tidak, saya akan kembali mencari torrent­-nya.

NB. Dulu ada wacana kalau mau dibuat rating di antara R dan NC-17 yang kemudian dibatalkan. Kalau rating itu jadi, menurut saya film ini akan mendapatkan rating tersebut.


62%

Senin, 14 Juni 2010

Paku Kuntilanak (2009)

SINOPSIS

Trio pemburu mayat (Sukun, Obeng, dan Odjie) beraksi kembali. Kali ini mereka mencari Kuntilanak yang menjelma menjadi manusia kembali setelah paku di kepalanya, dilepas secara tidak sengaja oleh atasan mereka, Pak Joko. 

Pak Joko diteror terus menerus oleh ibunya, karena belum juga menikah diusianya yang sudah semakin tua. Pak Joko yang berniat mendekati Mona malah ditolak mentah-mentah.

Hingga akhirnya muncul seorang perempuan cantik bernama Kunti, yang tak lain tak bukan adalah sosok Kuntilanak yang dicari-cari oleh Trio Pemburu mayat. Mereka pun mencari berbagai cara untuk meyakinkan pak Joko bahwa perempuan yang akan dinikahinya tersebut adalah sosok kuntilanak yang sedang menuntut balas pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.

REVIEW

Film ini menambah panjang deretan film horor yang tidak bermutu dari Maxima Pictures yang dulu sempat saya acungi jempol karena konsistensinya pada drama mellow milik Nayato (setidaknya mereka enggak buang duit terlalu percuma). Namun karena drama udah tidak jaman, merekapun setia menggunakan Findo Purwono HW (sutradara film kontroversial Buruan Cium Gue!) dan kali inipun, Maxima dan Findo udah klop dan memproduksi banyak porn horror trash movie yang berlabelkan Dewi Perssik.

Adegannya ditumbuhi banyak komedi-komedi yang biasa kita lihat di layar kaca. Tetapi, tentu saja bukan itu sebabnya film ini laku, tentu saja karena adegan Keith Foo dengan Heather Storm dan Dewi Perssik. Sempat menjadi kontroversi saat Keith Foo dan Dewi Perssik diadegankan, puting Dewi Perssik terlihat. Adegan puting itu sudah disensor kok, untuk di Youtube.

Adegan panas yang diperlihatkan, sebenarnya saja lebih sedikit daripada film Swimfan (2002) dan Obsessed (2009), tapi karena ini bintang lokal, dan siapa sih laki-laki yang gak mau ngelihat pemandangan "indah" yang banyak tersaji di film ini (well, it cost 20,000). Dewi Perssik yang pamornya sudah terkenal tentu lagi-lagi menyebarluaskan perihal akting nude nya. Kalimat ngeles nya sama aja, "Saya hanya berusaha profesional dalam mendalami peran,".

Unsur seram yang ada di film ini benar-benar nol! Sungguh salah apabila kita mengira film ini adalah sebuah film HOROR. Nyatanya film ini menjurus ke KOMEDI SEX yang menjurus ke adegan PORNO. Tapi, sepanjang apapun kritik yang ditulis seluruh manusia yang membenci film ini, film ini tetap masuk Box Office dan adalah sebuah hasrat manusia untuk menyaksikan sebuah pemandangan indah secara massal. 

Di film ini juga, banyak adegan-adegan yang cenderung aneh. Seperti kematian Heather Storm karena kecebur di kolam renang. Ini beneran, cuma kecebur doang, terus mati. Lalul adegan dimana "makan mie bersama Kunti" yang mana mie itu adalah cacing. Itu cacing ato tali kusem? Mana akhirnya yang ngikut-ngikut film Tulalit dan Beranak Dalam Kubur, lagi. Padatas (Pamer Dada Atas) dipasarkan secara bebas di film ini. Anda bebas melihatnya secara kentara karena itulah tujuan film ini dibuat. Mengumbar aurat.

1 of 5