Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horror. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2021

[REVIEW] The Houses October Built (2014) adalah contoh bagus dari "Jangan nilai film dari posternya"

Poster adalah salah satu elemen penting dalam promosi sebuah film. Tetapi di dunia streaming saat ini, menurut saya poster makin memegang peranan kunci. Sekalinya si poster jelek dan tidak menarik (apalagi tanpa ada pemain terkenal, aktor, atau endorsement lain), calon penonton cukup menggeser ke deretan film lain, menekan tombol back, atau berpindah ke aplikasi lain. Semudah itu. Film The Houses October Built menjadi contoh nyatanya. Saya telah beberapa kali menjumpai film ini di deretan situs dan aplikasi streaming film, baik  yang gratis maupun berbayar. Namun, poster yang meneriakkan "Ini film kelas B!" keras-keras membuat saya tak pernah tergoda untuk menontonnya.

Maksud saya, coba lihat poster ini. Objek-objek di dalamnya terlihat seperti susunan gambar yang dirangkai dengan Photoshop ditambah setan botak yang terlalu ke kanan. Judul yang sulit saya pahami (Apa coba maksudnya rumah yang dibangun oleh bulan Oktober?) makin membuat saya sulit memahami apa pesan/ide yang ingin ditawarkan oleh si poster. Alasan saya akhirnya menonton film ini pun hanya karena menjumpainya di Lionsgate Play dan karena bosan. Saat menonton, saya cukup kaget karena filmnya tidak seburuk posternya.

Film ini mengisahkan tentang sekelompok pemuda yang mengelilingi Amerika Serikat dengan mobil RV, untuk mendokumentasikan perjalanan mereka mencari atraksi rumah hantu yang paling ekstrim. Perjalanan mereka jadi menyeramkan saat mereka dikuntit oleh orang-orang berkostum hantu yang mulai melakukan apapun untuk menarik perhatian mereka.

Senin, 15 November 2021

[REVIEW] Terror Train (1980) sudah cukup meneror saya dengan pencahayaan super gelap

Jamie Lee Curtis jadi primadona para produser ketika boom film slasher atau jagal terjadi di Amerika Serikat jelang tahun 1980. Salah satu film yang berhasil menggaetnya adalah Terror Train dari studio 20th Century Fox. Sebenarnya, saat tahu kalau konsep awal sang produser tentang film ini adalah "Film Halloween di atas kereta", ia sudah menegaskan bahwa film ini tidak akan menawarkan sesuatu yang baru. Lagipula, ini slasher lho, mau dikemas dengan cara apapun, pokok ceritanya ya bunuh-bunuhan. Dengan pemikiran tersebut, saya menyaksikan film ini tanpa ekspetasi apapun. Sayang, selepas menonton, kesan yang saya dapatkan hanya film ini terlalu gelap, literally.

Terror Train dimulai dengan Jamie Lee Curtis yang dilibatkan bersama teman-teman mahasiswanya untuk nge-prank mahasiswa pemalu yang membuat si korban syok dan masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Tiga tahun kemudian, Jamie Lee yang sudah lulus bersama teman-temannya, mengikuti pesta kostum yang diadakan di sebuah kereta. Seorang pembunuh misterius pun datang dan mengincar mereka satu-persatu.

Minggu, 14 November 2021

[REVIEW] Dream Home (2010) sudah menjadi film eksploitasi yang baik tanpa perlu menambahkan kritik sosial

Dulu sekali saat gaji saya masih di bawah UMR, ngimpi bisa beli rumah itu jadi sesuatu yang jauh (sekarang juga sih ...), tetapi bayangan ingin punya rumah kayak di sinetron (lengkap dengan balkon, tiang-tiang besar, serta sarapan roti dan jus jeruk kalau boleh, hahaha) semakin jauh karena harga properti yang tak kunjung mudah dicapai. Di saat seperti itu, saya suka scrolling di situs jual beli rumah yang membuat pusing karena harganya kebanyakan 0-nya, dan sekalinya harganya masuk akal, rumahnya sudah reot bin jauh dari peradaban. Mungkin juga saya kurang ambisius yah, sehingga rumah impian seperti sinetron kini saya ganti dengan rumah model kecil kalau-kalau nanti dikasih kesempatan berkeluarga.

Oleh karena itu, menyaksikan tokoh Cheng Lai-sheung di film ini bagaikan representasi ekstrim dari ambisi memiliki rumah idaman. Film yang disematkan sebagai film slasher ini (yang mungkin menurut saya lebih cocok dibilang eksploitasi/splatter), menceritakan Cheng yang bekerja sebagai telemarketer di sebuah bank. Ambisinya satu, punya flat dengan pemandangan pantai. Untuk itu, ia turut menjadi simpanan orang lain untuk bisa membiayai hidupnya dan keluarga, terutama setelah sang ayah mengidap penyakit paru-paru. Namun, usahanya menabung tidak semudah itu kala si penjual apartemen tiba-tiba menaikkan harga propertinya. Cheng pun mulai menghabisi orang-orang yang menghalanginya untuk mendapatkan rumah idaman.

Sabtu, 13 November 2021

[REVIEW] Black Sunday (1960) memang pantas menjadi film horor klasik yang mengerikan

Saat menilai film horor jadul itu bagus atau tidak, kadang saya merasa kesulitan karena cita rasa seramnya mereka sudah tidak bisa lagi saya rasakan. Hal ini mungkin disebabkan saya sudah terlanjur dibiasakan dengan adegan berdarah yang maha kejam dan jumpscare yang diiringi musik dan suara memekakkan telinga. Saya pernah menonton beberapa film horor jadul hitam putih seperti The Innocents (1961) dan The Haunting (1963) yang sering masuk dalam daftar film horor terbaik sepanjang masa, tapi ya ... saya kurang bisa menangkap letak seramnya. Musik/suara dan gambarnya, tidak akan seekstrim film-film horor zaman sekarang.

Oleh karena itu, pengalaman menonton film Black Sunday adalah kejutan menyenangkan bagi saya. Film yang dirilis tahun 1960 ini merupakan debut sineas Italia Mario Bava sebagai sutradara, yang mana, beliau nantinya akan dikenal sebagai salah satu ikon film horor Italia dan dunia. Berbeda dengan kedua film hitam putih yang saya sebutkan di atas, film ini tidak perlu waktu lama untuk "memanaskan" penonton dengan sajian seramnya, dan hal tersebut sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam daftar kategori film favorit saya.

Black Sunday yang berjudul asli La maschera del demonio (Topeng Setan), dimulai dengan adegan penghakiman atas seorang penyihir/pemuja setan dan pengabdinya oleh kakaknya sendiri. Keduanya dihukum mengenakan topeng berpaku dan akan dibakar, namun hujan tiba-tiba muncul sehingga mereka dikubur hidup-hidup. Dua abad kemudian, seorang dokter senior dan asistennya secara tidak sengaja menemukan makam penyihir tersebut dan membangkitkannya. Proses kebangkitan sang penyihir mulai membawa korban, sebagai jalan untuk menuntaskan dendamnya pada keturunan sang kakak hingga mereka habis tak bersisa.



Jumat, 12 November 2021

[REVIEW] Menonton V/H/S 94 (2021) seperti membuka mystery box yang isinya campur aduk

Akhirnya kemarin saya kalap dan membeli akses Shudder via Shopee. Shudder, aplikasi streaming khusus film horor itu, sebenarnya belum tersedia di Indonesia, namun dengan VPN Amerika Serikat, film-film horor beraneka ragam yang dikurasi oleh tim aplikasinya, bisa saya nikmati. Sebenarnya, alasan membeli akses ini pun karena saya sudah mencoba beberapa aplikasi streaming film, namun koleksi horornya tidak terlalu mampu memuaskan batin saya. Film-film jagal yang campy sulit ditemui dengan mudah selain di Shudder. Koleksi Shudder sebenarnya tidak lengkap-lengkap amat, hanya saat melihat deretan filmnya, banyak judul yang saya kenal dari zaman dulu lihat-lihat judul horor tahun 1970-80 an.

Salah satu film yang langsung saya tonton pertama-tama adalah Sleepaway Camp. Saya pernah mengulas film tersebut di blog ini, sehingga saya belum berniat menuliskannya lagi. Dan yang kedua, adalah film V/H/S 94, sekuel dari serial antologi film pendek V/H/S. Film-film V/H/S ini punya karakteristik yang nyaris sama, bentuk found footage, kesadisan tiada tara, hingga alur cerita yang menurut saya terlalu dibuat-buat. Akibatnya, menonton film V/H/S selalu membuat saya campur-aduk.

Di film ini, narasi utamanya adalah sekelompok polisi yang menggrebek markas pengedar narkoba, namun saat masuk, kok isinya orang-orang dengan mata yang sudah dicabut dan televisi yang menampilkan gambar statik. Lalu, seiring mereka menelusuri markas, satu persatu video VHS-pun dimainkan.

[REVIEW] Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama (1988)

Membaca judul film ini mengingatkan saya pada film-film horor Indonesia di era 2000-2010-an yang rata-rata diproduksi dengan production value yang apa-adanya. Zaman itu, film horor punya nama yang sangat jelek gara-gara orang-orang membuat film dengan gaya serampangan berbekal Koya Pagayo sebagai pionir (yang sebenarnya bisa jadi bahan analisis film, karena hampir semuanya punya karakter dan plot yang sama).

Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama adalah film besutan David DeCoteau yang kayaknya pernah dengar di mana, beberapa kali nongol di film dini hari Trans TV. Film-film horor kelas B gitu lah, nothing new. Saya tergoda saja nonton di Shudder karena ingin tahu batas kekejuan (cheesiness, ngawur memang)-nya sampai di mana. 

Plot super tipis, di mana sekumpulan mahasiswi yang mau masuk rumah persaudaraan (sorority) yang sedang melakukan inisiasi (mirip kayak digejrot, eh diplonco gitu kali ya), berbarengan dengan tiga remaja yang ketahuan ngintip prosesi tersebut, diminta mendobrak mal di malam hari dan mengambil trofi area boling. Tak sengaja, mereka melepaskan makhluk imp yang mampu merasuki dan membunuh mereka satu-persatu.

Kamis, 11 November 2021

[REVIEW] Halloween II (1981): Saat Dunia Berjalan dengan Kecepatan 0.75

Halloween II adalah awal dari representasi sekuel film bagus yang terdistorsi keinginan produser untuk mencari untung. Pasalnya, John Carpenter berpikir untuk menjadikan film Halloween ini jadi serial antologi, atau kisahnya nggak nyambung. Jadi ya, misal film pertama tentang Michael Myers, mungkin film kedua bisa jadi tentang pesta dansa Halloween yang kedatangan alien. Tapi, aksi Michael Myers begitu disukai, hingga akhirnya John Carpenter dan Debra Hill (rekan kerja Carpenter/kekasih pada waktu itu) akhirnya mau menulis dan memproduseri film ini, meski membuatnya ogah-ogahan. Bahkan ia bilang bahwa untuk tetap bisa menulis naskah film ini, ia perlu minum beberapa kaleng bir.

Akhirnya ya filmnya jadi begini.

Mengambil latar tepat saat film pertama usai, Michael Myers kabur setelah ditembak dokternya sendiri dr. Sam Loomis, sementara Laurie yang terluka, di bawa ke rumah sakit (yang kadang-kadang disebut klinik) untuk mendapatkan perawatan. Michael kembali berjalan menumpahkan darah, sementara dr. Loomis berusaha mengejarnya.

[REVIEW] Halloween (1978): Bujet minimal, kengerian maksimal

Meresensi film klasik itu cukup sulit. Selain aksesnya yang tidak mudah untuk menyaksikannya, film klasik biasanya sudah begitu sering dijelaskan, dipaparkan, dan dibedah habis-habisan di internet. Hal tersebut membuat kejutan-kejutan yang ditawarkan film tersebut nyaris hilang. Termasuk film Halloween (1978) ini. Ia selalu disebut-sebut sebagai salah satu pionir formula film jagal di Hollywood. Bujet rendah, pembunuh ikonik, adegan remaja yang binal, menjadi pakem standar bagi film-film jagal selanjutnya.

Penyebutan jargon itulah yang membuat saya akhirnya jadi penasaran untuk menontonnya. Kalau tidak salah, sekitar beberapa tahun yang lalu saya pernah menontonnya lewat Torrent, tapi sudah keburu lupa dan tidak banyak kesan yang saya ingat. Oleh karena itu, saya mencoba menonton kembali filmnya dan mengulasnya di sini.

Premis Halloween (1978) sudah sangat akrab buat yang sudah sering menonton film-film begini. Seorang pria bernama Michael Myers dulu membunuh kakaknya sendiri saat umurnya masih 6 tahun di malam Halloween. Di malam Halloween 16 tahun kemudian, ia kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat/ditahan dan menguntit seorang gadis bernama Laurie Strode (Jamie Lee Curtis). Penguntitan tersebut segera jadi mengerikan saat Mihael mulai membunuh lagi.

Selasa, 26 Oktober 2021

[REVIEW] Eksplorasi Kegamangan Iman dalam The Medium (2021)

The Medium (Rang zong) sudah lama dipromosikan oleh Joko Anwar melalui beberapa cuitannya di Twitter. Saya sendiri tidak ingat berapa kali, tapi dalam beberapa bulan terakhir, beliau sempat mengunggah poster film ini sambil memuji-mujinya. Kemudian, banyak orang yang sudah berkesempatan nonton, juga turut memberikan komentar positif. Ingar-bingar yang cukup banyak didengar membuat saya antusias kala bioskop dekat rumah menayangkan film hasil kerja sama Thailand-Korea Selatan ini. Awalnya saya kurang tertarik dengan film ini karena salah satu pihak yang membuat ceritanya adalah penulis dan sutradara The Wailing (karena bagi saya film tersebut cukup membosankan), tetapi film The Medium disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun yang sering menggarap film horor bagus (Shutter, Alone, 4Bia). Ini juga adalah comeback pertamanya di bangku sutradara sejak terakhir menyutradarai komedi romantis One Day di 2016. 

Cerita The Medium boleh jadi memiliki premis yang cukup akrab bagi penikmat film horor. Sekelompok tim dokumenter berangkat ke daerah Isan di Thailand Utara untuk mengikuti kehidupan seorang Medium bernama Nim yang dirasuki oleh Dewi Bayan yang telah disembah oleh masyarakat setempat sejak dahulu kala. Dewi Bayan selalu memilih perempuan dari keluarga Nim secara turun-temurun dengan memberikan tanda-tanda dan kejadian aneh kepada perempuan yang terpilih untuk menjadi Medium selanjutnya. Proses syuting mulai jadi mencekam tatkala Mink, anak gadis kakak Nim, mulai menunjukkan perilaku aneh seusai kematian ayahnya. Awalnya, semua mengira Mink telah ditunjuk oleh sang dewi untuk menjadi Medium berikutnya, sampai Nim mulai yakin bahwa Mink sebenarnya dirasuki oleh sesuatu yang lain.

Sabtu, 23 Oktober 2021

[REVIEW] Jangan minta lebih! Halloween Kills (2021) itu memang isinya hanya bunuh-bunuhan saja

Halloween sebenarnya salah satu serial film slasher atau jagal yang paling saya hindari. Tidak seperti A Nightmare on Elm Street, Friday the13th, atau bahkan Chucky, Halloween ini hampir di setiap serialnya selalu punya narasi sendiri yang berbelok arah dari film sebelumnya. Hal ini mungkin karena, berbeda dengan serial film jagal lain, film Halloween agak personal karena karakter Michael Myers yang penuh misteri dan bahkan agak supernatural. Akibatnya, menjelaskan Michael dan kengeriannya akan selalu memiliki interpretasi yang berbeda tergantung siapa yang menggawangi. Keterkaitan penjagal tersebut dengan Laurie Strode juga merupakan interaksi terlama antar penjahat dan final girl-nya yang tak pernah ditemui di serial film jagal lain. Oleh karena itu, saat film Halloween dibuat sekuel berjudul sama di tahun 2018 yang menganulir semua film sekuel yang sudah dibuat sebelumnya, saya pikir Hollywood sudah menggebuk kuda mati sampai dagingnya jadi dendeng. Tetapi, film tersebut cukup bisa menghibur dengan memberikan insight yang lebih baik tentang perkembangan karakter Laurie dan keluarganya. Film Halloween Kills merupakan sekuel langsung dari film tersebut.

Halloween Kills membawa kita langsung kepada apa yang terjadi setelah Laurie, Karen (anak Laurie), dan Allyson (anak Karen) berhasil menjebak Michael di rubanah dan membakarnya. Laurie harus diopname di rumah sakit, sementara Michael berhasil lolos dari kebakaran tersebut dan menuju Haddonfield. Namun, kali ini warga Haddonfield juga bersatu dan sepakat untuk memburu Michael di malam itu juga.

[REVIEW] Malignant (2021), film penuh kejutan yang mudah ditebak

Entah mungkin karena saya yang malas mencari, tapi saat beberapa kali bersinggungan dengan iklan trailer Malignant di YouTube atau membaca sinopsisnya sekilas, promosi film ini tidak pernah mengungkap detail plotnya dengan jelas. Beberapa kata kunci seperti film giallo muncul, tapi sampai di situ saja. Hal itu membuat saya penasaran, karena katanya ini New Vision of Terror-nya James Wan. 

James Wan sebagai sineas horor sudah sangat terkenal karena kemampuannya mengampu tiga franchise sekaligus di era dekade 2000-2010 Saw, The Conjuring, dan Insidious. Ketiganya sangat terkenal di eksplorasi genre horor-nya masing-masing, mulai dari torture porn hingga eksperimen adegan kejutan (jumpscare). Eksplorasi dan eksploitasi teknis dari besutannya sebelumnya membuat saya penasaran, apa yang akan ditonjolkannya di film Malignant ini?

Secara singkat, film Malignant mengisahkan Madison, seorang wanita yang mesti kehilangan bayi di kandungan dan suaminya setelah mengalami peristiwa perampokan. Seusai peristiwa tersebut, ia mulai dihantui penglihatan sosok hitam yang membunuh suaminya, mulai membunuh orang-orang lain yang tak ia kenal. Penglihatan tersebut ternyata benar-benar terjadi dan Madison harus mengungkap siapa sang pembunuh sebelum ia sendiri menjadi korbannya.

Jumat, 01 Juli 2016

[REVIEW] The Conjuring 2 (2016)

SINOPSIS

Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) memutuskan vakum sementara dari pekerjaan mengusir hantu mereka, setelah pengusiran setan yang mereka lakukan di Amityville, memperlihatkan Lorraine pada sesosok hantu biarawati yang menginginkan kematian suaminya. Vakumnya kisah mereka, ternyata harus dibatalkan karena sebuah laporan adanya kejadian berhantu yang menimpa keluarga Hodgson di Inggris. Bersama dengan kenangan buruk tersebut, Ed dan Lorraine harus berjuang bersama demi menguak teror yang merasuki tubuh anak perempuan Hodgson, Janet.

RATING
MPAA rating is R for terror and horror violence

Senin, 27 Juni 2016

[REVIEW] Alice, Sweet Alice (1976)

SINOPSIS

Alice Spages adalah seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang sering menampilkan perilaku yang mengganggu sekitarnya. Sama sekali anak yang "gelap". Sementara itu, adiknya Karen begitu riang dan menjadi perhatian banyak orang dengan sikapnya yang baik, termasuk lebih diperhatikan ibunya, Catherine. Di hari Komuni Pertama Karen, Karen ditemukan terbakar di balik kursi gereja. Kecurigaan yang mengarah pada Alice, membuat Catherine dan mantan suaminya, Dominic "Dom", berusaha untuk mencari pembunuh sebenarnya. Dibantu dengan Pendeta Tom, pembuktian tersebut harus melewati banyak insiden berdarah. Semua bukti mengarah pada Alice, namun benarkah Alice pelakunya?

[REVIEW] Deadly Home (2015)


SINOPSIS

Anna baru saja kehilangan kakaknya yang mampu melindunginya dari segala situasi. Namun, ketakutannya untuk menginjakkan kaki di luar rumah membuatnya tak mampu menghadiri pemakaman Conrad. Ketakutan tersebut membuatnya bertemu dengan tiga orang yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya, berniat untuk mencari uang yang dimilikinya. Sayang sekali, di balik ketakutan Anna, tersembunyi sebuah rahasia yang lebih dalam lagi. Rahasia yang lebih berdarah untuk diketahui.

[REVIEW] The Boy (2016)

SINOPSIS

Greta (Lauren Cohan) memutuskan pergi dari hubungan yang menyesakkan dari kekasihnya Cole, dengan mengambil pekerjaan sebagai babysitter untuk sebuah keluarga yang tinggal di pedalaman Inggris. Sesampainya di rumah keluarga tersebut, ia baru mengetahui bahwa anak lelaki yang akan diasuhnya adalah sebuah boneka porselen bernama Brahms, yang dianggap sebagai anak oleh Mr. dan Mrs. Hellshire. Mulanya, Greta menanggapi pekerjaan ini sebagai sebuah lelucon, dan tidak mengindahkan peraturan mengasuh Brahms. Namun, seiring waktu berlangsung, saat pasangan itu berlibur dan keluar dari rumah, Greta menyadari bahwa Brahms bukan benda mati begitu saja.

Rabu, 18 Mei 2016

[REVIEW] Chillerama (2011)

SINOPSIS
Seorang petugas drive-in mencoba menyetubuhi mayat istrinya saat ia dipanggil untuk bekerja. Mayat istrinya menularkan padanya cairan ungu yang perlahan mengubahnya menjadi zombie. Sementara itu, sang pemilik drive-in Cecil Kaufman atau Mr.K (Richard Riehle) sedang menayangkan pertunjukan drive-in terakhirnya sebelum tempat itu dijual dengan menayangkan beberapa film. Ada Wadzilla yang berkisah tentang sperma seseorang yang membesar karena obat dan memangsa seisi kota, I Was a Teenage Werebear yang berisi seorang pemuda yang digigit sehingga menjadi werebear, dan harus melawan werebear lain yang suka memangsa orang lain. The Diary of Anne Frankenstein bercerita tentang Hitler yang mencoba membuat sebuah monster sebagai mesin perang dari jurnal milik kakek Anne Frank. Yang terakhir, di antara film terakhir Deathication mengenai kotoran, seluruh pengunjung drive-in yang memakan berondong jagung yang telah dicampur cairan ungu secara tak sengaja, berubah menjadi zombie dan Mr. K berusaha menumpas mereka semua, Zom-B-movie.

PERINGATAN: Mengandung konten yang kurang pantas untuk dibaca. Bagi yang berumur di bawah 18 tahun atau yang cukup normal, sangat dianjurkan untuk tidak menonton film ini ataupun membaca review-nya. Terima kasih.

Kamis, 20 Agustus 2015

[Quick Review] Starry Eyes (2014)

Well, it is embarrassing knowing that the updates depends to my college schedules. Seeing movies at holidays most likely correlates with intentions to giving some words about the movie I just watch. But, seemingly there's more of drafts in my list rather than actual published posts, so I thought, why I am so bothered with old-fashioned, depiction of review for all movies? How if I cut the formality crap and tell with different style? Probably, I am gonna use English as well, because recently it is so fun have yourself writing like a grammar fools. Here we go!

Starry Eyes

Synopsis
A woman named Sarah (Alex Essoe) is having her breakdown recently due abstinence of way to her dream become an artist. Her auditions mostly did not go well, she cannot force a happy dumb face in her part time as waitress in family restaurant, and most of her flatmates are dissing her obsessions. With a strange audition happened to a working title called The Silver Scream, an overjoyed Sarah starts experiencing hallucinations, towards a risky step into popularity, no matter what it takes.

Sabtu, 27 Juni 2015

[REVIEW]The Last Will and Testament of Rosalind Leigh (2012)

SINOPSIS
Leon Leigh (Aaron Poole) adalah seorang pria muda yang kembali ke rumah ibunya yang telah wafat, Rosalind Leigh (Vanessa Redgrave). Lewat monolog yang mengantar sebagai narator, Rosalind mengajak penonton dan Leon untuk menelusuri masa lalu di rumah itu. Tentang sebuah organisasi cult yang memuja malaikat, tentang tragedi yang membuat Leon kehilangan keyakinannya, tentang kesendiriannya, dan tentang sesuatu yang masih berdiam di sudut kegelapan rumah itu.

RATING
NR. Suggested MPAA rating is PG-13 for some disturbing elements and brief strong language

Senin, 12 Januari 2015

[REVIEW]Wrong Turn 3: Left for Dead (2009)

SINOPSIS
Sekelompok anak muda yang melakukan rafting dibantai oleh Three Fingers, yang menyisakan seorang gadis bernama Alex (Janet Montgomery). Beberapa hari kemudian, sebuah bus penjara mengangkut sekawanan tahanan untuk ditransfer, mereka adalah Chavez (Tamer Hassan), Crawford (Jack Curran), Floyd (Gil Kolirin), Brandon (Tom McKay), dan Willy (Christian Contreras) yang merupakan agen samaran untuk mengeruk informasi dari Chavez. Dijaga oleh beberapa orang polisi, yakni Nate (Tom Frederic), Walter (Chucky Venn), dan Preslow (Mike Straub), mereka melewati jalan pintas untuk mempercepat perjalanan, yang kemudian dicelakai oleh sekawanan mutan. Setelah para tahanan berhasil membalik keadaan, mereka bertemu Alex. Di tengah penyanderaan dan kejaran mutan, mereka juga bertemu dengan truk pengangkut uang yang sudah hancur. Hal tersebut justru memperlambat jalan mereka, yang mungkin membuat mereka tak bisa keluar dari hutan untuk menikmati uang tersebut hidup-hidup.

[REVIEW]The Damned (2013)

SINOPSIS
David (Peter Facineli) datang ke Kolombia untuk menjemput anaknya Jill (Nathalia Ramos) yang tengah berlibur di Eropa bersama kedua temannya Ramon (Sebastian Martinez) dan Gina (Carolina Guerra). Tujuan David menjemput Jill sebenarnya agar ia mau menghadiri pernikahan David dengan sang kekasih Lauren (Sophia Myles) setelah sang ibu wafat. Usaha untuk mengambil paspor di kota lain justru berbuah petaka ketika mereka terkena kecelakaan dan mencari pertolongan. Bertemu dengan sebuah rumah besar yang kuno, mereka disambut Felipe (Gustavo Angarita) yang tak ramah. Semuanya justru berubah menakutkan ketika Jill dengan rasa penasarannya membongkar ruang bawah tanah rumah itu dan menemukan seorang gadis yang dikurung di dalam kotak kayu. Tak ada yang menyangka bahwa sang gadis adalah arwah kuno yang jahat.