Tampilkan postingan dengan label remake. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remake. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Desember 2013

The Invasion (2007)

 SINOPSIS
Carol Bennett (Nicole Kidman) adalah seorang psikiater yang tinggal berdua dengan anaknya Oliver setelah bercerai dengan suaminya Tucker. Kini Carol mengencani Ben, seorang ilmuwan. Sebuah pesawat antariksa bernama Patriot meledak dan semua kepingannya tersebar. Lambat laun, semua orang mulai berperilaku terdiam tanpa emosi. Saat Carol sadar kalau mantan suaminya telah terkena perilaku aneh itu, Carol menyadari bahwa anaknya dalam bahaya.

RATING

PG-13 for violence, disturbing images, and terror

REVIEW

Ini memang film yang lamaaaa banget. Sudah 6 tahun yang lalu. Promosi yang kencang-kencang dan kritik jelek tak berakhir dipersembahkan pada karya pertama sutradara Oliver Hirschbiegel dalam bahasa Inggris. Padahal jajaran cast-nya mumpuni lho, ada Nicole Kidman yang remarkable di horror dalam The Others besutan Alejandro Amenabar dan Daniel Craig yang tatkala proses pengambilan film ini terpilih untuk menjadi James Bond selanjutnya. Jadi apa yang salah?
 
Jujur saja sih, kalau saya cukup enjoy menonton film ini. Maksudnya, saya belum menonton versi-versi sebelumnya dan menurut saya ini film komersil yang lumayan untuk ditonton. Kendati, banyak tensinya yang terasa film aksi dan thriller kebanyakan. PG-13, dan yang kau dapatkan adalah tensi seperti film-film dengan rating yang sama. Makanya, banyak yang berharap kalau film ini akan melebihi adaptasi sebelumnya. Baca-baca di Wikipedia sih, akhir untuk cerita ini sebenarnya kurang menyenangkan, dimana tokoh utamanya berakhir menjadi korban. Ditambah lagi tokoh Carol yang asli adalah seorang lelaki diganti jadi wanita. Sehingga, banyak yang mencemooh film ini.
 
Menurut saya semuanya oke-oke saja. Sebuah film yang pantas muncul di TV dan menjadi tontonan di malam hari. Apalagi Nicole Kidman mengingatkan saya dengan seorang ibu yang kuat di sebuah pesawat. Ya, Jodie Foster dalam Flightplan. Karena saya jarang menonton film yang komersil begini, jadi ibaratnya film ini sebagai rehat sajalah. Jujur deh, capek juga nonton sesuatu yang terlalu berat. Gara-gara torrent-nya ada, kan sayang kalau kesempatannya dilewatkan. Hehehe. Buat kalian yang seorang awam dan tidak punya ekspetasi apa-apa, boleh banget nonton film ini. Cukup light untuk novelnya yang berakhir menyedihkan.

Ketika saya mencari komentar-komentar dari situs-situs terkenal, memang sih, kelihatannya mereka langsung membandingkan dengan versi sebelumnya. Film ini nanti diikuti kegagalannya oleh The Day the Earth Stood Still yang dibintangi Keanu Reeves setahun setelah film ini. Karena film ini, saya jadi mulai suka film-film abduction begini. Namun masih tidak ada (bagi saya, lho) yang mengisahkan alien abduction yang mengalahkan The Faculty milik Robert Rodriguez. Filmnya kalau dirasa-rasa sih agak sama, tapi The Faculty fun dan kamu tidak akan bosan menontonnya walaupun sudah tahu akhirnya. Akhirnya, saya sekarang lagi kembali ke film-film lama. Setelah trauma unduhan torrent nya ternyata film B tahun sekarang yang malah terlihat kayak rekaman film-film biru di Internet. Setidaknya, di film jaman dulu, semua tone-nya sama. Jadi film B-nya malah jadi favorit.
 52%

Kamis, 13 Mei 2010

The Uninvited (2009)


Film The Uninvited adalah salah satu film favorit penggemar Emily Browning (like me :D) karena Browning benar-benar menguras seluruh aktingnya disini, sayangnya filmnya sendiri tidak sedemikian bagus. Sutradaranya, The Guard Brothers yang tahun 2008 baru menelurkan direct-to-video remakenya April Fools Day dipanggil oleh duo produser film sukses yaitu Parkes/MacDonald yang tahun 2009 baru membuat logo baru mereka untuk menyutradarai sebuah remake lagi. Kali ini mereka berani mengusung horor pada bulan awal tahun, yang mana sering dianggap kurang pas sebagai tanggal rilis film horor karena bulan awal tahun masih berkisar di komedi-drama keluarga. Dan, tentu aja film ini tidak sesukses The Ring.

Yep, Emily Browning yang sekarang lagi dalam pembuatan film Sucker Punch di film ini bermain sebagai Anna, (lupa, Anna Morgan dari The Ring ato Anna Wilkes dari Misery) yang dikirim ke rumah sakit jiwa karena gangguan mentalnya yang cukup membuat disturbing keluarganya. Anna sendiri menyebabkan gangguan mental itu karena menyaksikan ibunya meninggal terbakar di rumah kabin, dan lebih shocknya lagi, ternyata ayahnya lagi bercinta dengan perawat istrinya sendiri, Rachel (Elizabeth Banks) saat kejadian itu di rumah inti. Setelah beberapa lama dirawat, Anna dijemput ayahnya untuk pulang (tanpa ayahnya  cukup sadar bahwa anaknya adalah mantan penghuni RSJ) dan Anna disambut di rumah oleh kakaknya Alex, yang sedang bersitegang dengan sang ayah karena sebal akan pilihan ayahnya untuk istri baru, yaitu Rachel. Jadilah, karena Anna dan Alex terlalu curiga sama Rachel, mereka berdua mulai nggratak isi lemari dan laci Rachel (they found vibrator ! omg...) dan yakin tujuan Rachel ke rumah itu tidak sekadar untuk menjadi seorang istri, melainkan untuk membunuh seseorang...

Kembali ke Emily Browning. Emily Browning adalah aktris wanita yang berhasil mempertahankan muka kalemnya selama berjuang di Hollywood. Bayangkan saja, belakangan ini film-film yang ada wanitanya pasti all of the girls are bitches! Mereka dengan santainya membuka penutup dada mereka dan mulai merayu seorang hunks. Tapi Browning beda, dia punya wajah seorang final girl dan seharusnya film slasher dimasa mendatang akan membuat Browning sebagai seorang scream queen, dan bukannya terus memilih Scout Taylor-Compton yang totally bitch itu. Wanita pirang itu di Halloween II terus-menerus berkata f-word disetiap kalimatnya dengan penuh penghayatan.

Oke, dua paragraf full Emily Browning udah cukup. Sekarang we back to the suck movie. Film ini dengan sangat kurang ajar mencomot ide film horor yang lebih dahulu rilis. Paling enggak semua film (nggak hanya horror) punya satu memorable scene. Misalkan Titanic dengan adegan anjungan kapal yang terkenal itu, atau The Shining dengan mendobrak pintu dengan kapak, atau Scream yang selalu tiap kali ada telepon, kamera selalu insert ke telepon ntu. Nah, film ini nggak punya sama sekali hal yang bisa dibanggain kecuali akting Emily Browning. Elizabeth Banks dengan konyolnya selalu terlihat bertampang campur aduk antara antagonis dan protagonis, membuat wajahnya jadi ngga karuan. Lalu sang ayah, siapapun pemainnya, lebih suka untuk tidak mencuri setiap adegan yang ada dianya dan dengan sukarela memberikannya kepada karakter lain, itu berarti antara Browning, Kebbel, atau Banks. Sang kakak, Alex, terlalu sibuk untuk bergerak sangat aktif kesana-kemari tanpa adanya jeda untuk diem sejenak, dengan sukses dia terpilih menjadi bitch in this movie. Apalagi setiap katanya yang berusaha untuk menjadi the next Scout Taylor-Compton, ya, dia memulai mengeluarkan profanity yang kurang sopan (minus kata-kata c-,b-,f-,d- word) plus pakaiannya yang sangat simple dan kita bisa menghakimi dengan mudah kalau wanita ini jarang mandi.

                                 Pakaian yang dipakai Alex adalah pakaian 2 of 2 di film ini....

Dari awal hingga 30 menit terakhir, film ini hanya berisi sebuah plot tipis yang dibumbui banyak subplot kematian untuk menambahkan durasi flashback nya. Para pembuatnya tidak berusaha cukup keras memaksimalkan kekuatan akting Browning dan justru memberikan banyak subplot menggelikan yang justru membuat The Uninvited menjadi sangat drama seperti The Ring. Bedanya, film The Ring berhasil membawa atmosfer horor drama yang solid perlahan-lahan, tapi film ini justru memutar-mutar tanpa ada isi sama sekali. Makanya film ini tidak punya Unrated Directors' Cut, durasinya yang 87 menit saja sudah cukup membosankan dan pointless, bagaimana kalau 100 menit ? Sudah begitu, selain ditambah faktor skenario dan akting figuran, musik karya Christopher Young sangat berbeda jauh dengan Drag Me to Hell karya Sam Raimi yang mana Young berhasil membawa kembali musik klasik horor, tapi di film ini ia hanya sedikit menambahkan apa yang telah Hans Zimmer dan ia sendiri lakukan dalam The Grudge. 

Karena film berjalan membosankan, anda mungkin tidak akan peduli lagi dengan twist nya yang ternyata bahwa Anna adalah sang penjahat sesungguhnya dan kakaknya sudah mati... Oh, spoiler ya ? Jangan salahkan saya, salahkan film ini yang membuat saya rela memberikan kejutannya karena untuk mencapai tahap ending, Emily Browning sudah ikut terpengaruh dalam akting lawan pemainnya, musik sudah standar, flashback ditampilkan, dan The Guard Brothers dengan bodohnya tidak seperti Wes Craven yang berhasil mengimpasi kebosanan ditengah film dengan eksekusi akhir yang gemilang. The Guard Brothers, sebaiknya anda kembali menjadi First Assistant Director seorang sutradara macam John Carpenter atau Dario Argento, esok-esok ketika kalian sudah siap, kalian boleh mencoba lagi dan saat itu, nasib kalian akan ditentukan...

2 of 5