Tampilkan postingan dengan label cat and mouse. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cat and mouse. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

[REVIEW]Wrong Turn 3: Left for Dead (2009)

SINOPSIS
Sekelompok anak muda yang melakukan rafting dibantai oleh Three Fingers, yang menyisakan seorang gadis bernama Alex (Janet Montgomery). Beberapa hari kemudian, sebuah bus penjara mengangkut sekawanan tahanan untuk ditransfer, mereka adalah Chavez (Tamer Hassan), Crawford (Jack Curran), Floyd (Gil Kolirin), Brandon (Tom McKay), dan Willy (Christian Contreras) yang merupakan agen samaran untuk mengeruk informasi dari Chavez. Dijaga oleh beberapa orang polisi, yakni Nate (Tom Frederic), Walter (Chucky Venn), dan Preslow (Mike Straub), mereka melewati jalan pintas untuk mempercepat perjalanan, yang kemudian dicelakai oleh sekawanan mutan. Setelah para tahanan berhasil membalik keadaan, mereka bertemu Alex. Di tengah penyanderaan dan kejaran mutan, mereka juga bertemu dengan truk pengangkut uang yang sudah hancur. Hal tersebut justru memperlambat jalan mereka, yang mungkin membuat mereka tak bisa keluar dari hutan untuk menikmati uang tersebut hidup-hidup.

[REVIEW]Wrong Turn 2: Dead End (2007)

SINOPSIS
Acara reality show baru bertemakan survival tengah syuting untuk episode plot mereka. Bertajuk Apocalypse yang diproduseri oleh Mara (Alleska Palladino) dari ide sang pacar, M (Matthew Currie Holmes), syuting akan berada di sebuah hutan terpencil di West Virginia. Acara tersebut dipandu oleh mantan kolonel AL Amerika Serikat, Dale Murphy (Henry Rollins), serta yang menjadi kontestan adalah Elena (Crystal Lowe), Jonesy (Steve Braun), Amber (Daniella Alonso), Jake (Texas Battle), dan Nina (Erica Leerhsen). Setelah menanti Kimberly (yang memainkan dirinya sendiri), yang sudah dibunuh sebelumnya, maka posisi Kimberly digantikan oleh Mara. Acara yang berjalan ternyata tak seperti yang diharapkan, karena sekawanan mutan kanibal kini telah memilih target dengan baik, untuk disiapkan menjadi makan malam mereka.

Minggu, 11 Januari 2015

[REVIEW]Wrong Turn (2003)


SINOPSIS
Chris Flynn (Desmond Harrington) sedang terburu-buru untuk menghadiri suatu wawancara pada malam nanti, sehingga di tengah kemacetan jalan raya, ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas yang bernama Mount Bear Road. Mengambil jalan kecil dan kurang tertata, serta karena kurang hati-hati membuatnya menabrak mobil sekelompok orang yang berniat mengadakan camping yang berhenti di tengah jalan, mereka adalah Jessie (Eliza Dushku), Carly (Emmanuelle Chiriqui) dan tunangannya Scott (Jeremy Sisto), serta pasangan lain Evan (Kevin Zegers) dan Francine (Lindy Booth). Mobil mereka berlima berhenti di tengah jalan karena ban mereka tergulung kawat berduri. Berniat mencari pertolongan, mereka berenam tidaklah sadar bahwa saat mereka mengambil belokan tersebut, itu adalah kesalahan fatal yang berujung pada akhir yang berdarah.

RATING
MPAA rating is R for strong violence and gore, some language and drug use

Sabtu, 18 Januari 2014

[REVIEW] You're Next (2011)

SINOPSIS
Erin dan kekasihnya Crispian pergi menuju sebuah rumah besar terpencil di Missouri milik ayah Crispian, Paul dan Aubrey Davidson. Kunjungan ini sebenarnya adalah reuni yang direncanakan oleh keluarga Davidson untuk memperingati hari ulang tahun perkawinan orangtua mereka. Bersama Erin dan Crispian, datang pula kakak Crispian, Drake dan istrinya Kelly, serta adik mereka Felix dan kekasih Felix, Zee, dan si bungsu yang baru kurus, Aimee serta sang kekasih Tariq. Menghindari segala argumen yang ada, mereka berkumpul untuk makan malam. Saat itu, di tengah pertikaian yang tiba-tiba muncul di tengah makan malam, kepala Tariq ditembus oleh panah crossbow. Pembunuhan itu menjadi awal serangkaian pembunuhan yang dikarenakan beberapa orang bertopeng. Dalam semua kepanikan, tak diduga Erin mulai membalas dendam pada para pembunuh itu dengan berbekal keahliannya dari masa kecil yang unik, yakni terlatih untuk hidup dalam bahaya.

Rabu, 18 Desember 2013

[REVIEW]The Seasoning House (2012)

SINOPSIS
Balkan, 1996. Angel (Rosie Day) adalah seorang gadis yang tuli bisu yang diculik dari perang sementara sang ibu dibunuh. Dengan tanda lahir yang membuat wajahnya kurang menarik dan disabelnya, membuat ia disisihkan dari gadis-gadis lain yang dipaksa menjadi pelacur bagi rumah prostitusi milik Viktor (Kevin Howarth) yang menyediakan rumah tersebut bagi para tentara yang menginginkan kepuasan. Angel, sesuai dengan nama yang diberikan Viktor untuknya, menjadi pembantu Viktor yang mengurus segala persiapan gadis-gadis sebelum "bertugas". Setelah bertemu dengan seorang gadis bernama Vanya yang bisa bahasa isyarat, Angel mulai merasakan kehidupannya berarti, hingga ia menyaksikan sendiri Vanya diperkosa dengan brutal dan Angel bertemu dengan rombongan tentara yang diketuai oleh orang yang dulu membunuh ibunya. Tanpa perkataan untuk mencurahkan emosi dan kemustahilan untuk kabur, Angel berusaha membalas dendam ketika ia mengetahui ada jalan lewat celah-celah rumah itu.

Senin, 14 Juni 2010

Sorority Row (2009)

"BRING THE BITCHES !!!"

SINOPSIS

Keenam mahasiswi Rosman University; Cassidy, Jessica, Ellie, Megan, Chugs, dan Claire merencanakan sesuatu gara-gara pacar Megan selingkuh. Sorry, I still don't get why they prank with death-prank type. Anyway, sesuatu berjalan bodoh karena sang pacar yang terlalu innocent dan ketakutan gara-gara Megan yang (pura-pura mati). Jadilah si pacar bener-bener ngebunuh dengan tire iron dan mayatpun disembunyikan.

8 Bulan Kemudian, sesuatu yang aneh mulai terjadi dan pembunuhan-pembunuhanpun mulai terjadi.



REVIEW

Film ini akan sangat menyenangkan bagi anda yang bener-bener simpatik sama film berlabel slasher. Tau kenapa? SEMUA unsur slasher yang terpatri dalam banyak film horor (kalo ribet ngumpulin semua unsurnya, nonton Scream aja) sudah terkumpul disini. Dan sayangnya, para cewek-cewek ini gak terlalu sadar bahwa kejadian yang mereka alami tuh bisa jadi slasher framed events banget. Owh, dan pacar-pacar cewek ini semuanya kurang ajar. Baiklah, saya memahami kenapa ada adegan ciuman antar cewek di awal film.

Karena menonton di Compy, sayapun melihat fakta yang sangat unik, sebagian sinopsis yang ditulis diatas ternyata sudah terjadi pada menit ke-15. Itu berarti durasi bakal lebih concern ke detik-detik pembunuhannya. Pembunuhannya sih inspiratif, tapi karena Sorority Row mau dijadikan produsernya berrating PG-13, jadi aja nih film (yang akhirnya tetep dijadikan R rating) cuma sekilas aja menampilkan adegan berdarahnya. Yang banyak disini wild party yang bener-bener wild. Mereka semua bakal dicemplungin ke neraka karena pesta gila yang mereka selenggarakan.

Pembunuhan yang berjalan, semuanya menyenangkan untuk dilihat, tetapi sebel sama musik yang digubah Lucian Paine, maaf, so last year ! Kelebihan scoringnya adalah musik temanya yang digubah bersamaan dengan lagunya Aimee Allen, Emergency, bener-bener bagus dan elegan! Pembunuh aslinya ternyata adalah pacar si cewek tokoh utama. Tapi tenang aja, berhubung semua pacar tokoh utama disini pada metong, lo bisa berekspetasi bahwa sang pembunuh juga ikutan mati. Salut buat Rumer Willis yang sudah membunuhnya. 

Film ini mempunyai hasil yang lebih enak dilihat dan mengasyikkan ketimbang Black Christmas nya Glen Morgan dari Final Destination, tapi film ini terlalu klise untuk dijadikan film slasher yang sedang diliput media, karena ini adalah film slasher Hollywood terbesar di 2009, dan wajar dong kalo mereka buat yang bagus. Caranya? Yaitu dengan membuat karakter-karakternya "mawas diri" karena situasi mereka tuh slasher abis. Walaupun hal itu bakal ngebuat film ini dibilang menjiplak Scream sih...

3 of 5

Rated R for Strong Bloody Horror Violence, Terror, Some Sexuality and Nudity, and Partying.

Kamis, 13 Mei 2010

RED EYE


Pada dasarnya Wes Craven dulunya cuma seorang sutradara yang diprediksi bakal jadi the next George A. Romero, yakni membuat sebuah genre baru, tapi akhirnya Craven cuma bakal jadi follower genre yang dibikinnya sendiri. Kayak Romero yang sampe sekarang menelurkan film-film zombie yang walaupun dianggap berkualitas, tapi pendapatannya kurang mujur karena stereotipisme (what?) yang memuakkan. Khusus pecinta gore, pasti demen ama sutradara lansia ini.

Well, seenggaknya Craven berhasil membuktikan dengan seringnya berganti sub-horror dalam filmografinya yang udah bejibun. Mulai dari film rape and revenge yang dengan sukses di banned di belasan negara, terus gore and revenge di The Hills Have Eyes, akhirnya dia melahirkan karya puncaknya, apa lagi kalo bukan A Nightmare on Elm Street, salah satu serial slasher paling kondang setelah Myers dan Voorhees. Dalam kronologi dari film perdana Freddy Krueger itu sampai Scream, sesungguhnya dipandang sebelah mata karena pembuatan yang jujur saja, cukup asal-asalan, tapi Craven punya taste tersendiri dalam mengelola filmnya yang sebenarnya ancur jadi worthy-watch. Dan diantara 1984-1996, cuma Wes Craven's New Nightmare yang paling berkesan, mungkin karena unsur satirenya yang gak bisa ditolerir lagi.

Di tahun 2005 saat Hollywood SANGAT demen sekali beralih ke horror asia (The Ring dan The Grudge) Craven masih mempertahankan gaya directing nya, yakni American Horror yang klasik. Tahu genre yang paling ia kuasai mulai tertindas di negeri sendiri (persis banget kondisinya dengan horror indonesia yang terjerumus dalam esek-esek horror), Craven memutuskan untuk menyutradarai film berselera very intense thriller layaknya film Jan de Bont tahun 90-an, Speed. Film itu adalah Red Eye yang dikatakan oleh distributornya sebagai "suspense-thriller at 30,000 feets".


Lisa Reisert adalah manager yang baik untuk dicontoh di dunia perhotelan, baik, ramah, dan cepat dalam bekerja dan mengambil keputusan. Kini ia sedang berada di Dallas untuk menghadiri pemakaman neneknya yang berumur seabad kurang sembilan. Setelah beberapa saat menunggu pesawat di bandara untuk segera pergi ke Miami, tempat hotel dan rumahnya berada, ia harus menunggu beberapa jam karena pesawat tersebut di delayed. Karena itu, ia bertemu dengan seorang pria baik bernama Jackson Rippner yang ternyata sebangku dengan Lisa di pesawat. Setelah terbang diketinggian 30,000 kaki untuk menghindari turbulensi, Jackson menyatakan maksudnya. Dia adalah seorang head-operator dari rencana pembunuhan seorang Menteri Keamanan Negara bernama Keefe yang berencana menginap di hotel Lisa. Tugas Lisa adalah menelepon di pesawat ke hotel untuk memindahkan kamar Keefe ke dekat laut agar memudahkan ditembak para pembunuhnya. Apabila Lisa tidak mau bekerjasama, sang ayah akan dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran yang menunggu didepan rumah sang ayah, tinggal menunggu telepon dari Jackson. Lisa harus memperjuangkan kehidupan di daratan dengan sebuah telepon pesawat, dan waktu pendaratan pesawat itu.

Oke, sebenarnya sinopsis itu bisa dipersingkat menjadi tiga kalimat (seperti yg tertera di boks VCD-nya) tapi ceritanya cukup ribet untuk dijelasin karena semuanya berkaitan. Menonton Red Eye sama seperti nungguin giliran kencing di toilet umum. Anda tidak bisa segera menuntaskan keinginan anda karena ada pembatas yang tipis diantara kita. Red Eye adalah sebuah thriller yang berlokasi sempit, dengan rencana setting seperti itu, para kru udah tau ini film akan dengan gampang mengarah pada dua kejadian: membosankan banget atau rada-rada seru. Dan Red Eye celakanya mempunyai dua kejadian tersebut. Dipesawat, anda tidak akan mendapatkan apapun kecuali dialog intens yang simpel tapi pointless. Sedikit kekerasan dalam pesawat akan menghibur anda. 

Di timing seperti itu, rasanya akan gatal memencet tombol FF di remote agar hasilnya cepet ketauan (karena keinginan Jackson bahkan udah disampein di sinopsis, jadi butuh apalagi ?) dan tentunya cepet pergi dari adegan pramugari blonde yang bodoh. Sementara di daratan, movie has begun. Filmnya menjadi MENEGANGKAN ketika ada di daratan, dimana Lisa mulai beraksi ala Bond women tanpa Bond itu sendiri, segala kecerdikannya saat bekerja di hotel anehnya bisa memacu Lisa menusuk leher orang, mencuri handphone dan mobil, dan menabrak seorang pria berdasi. Disaat itulah semuanya menjadi real, tapi justru karena bagusnya adegan daratan membuat adegan di pesawat tidak cukup berarti untuk diingat. Juga karena tokoh Jackson yang menjadi lemah di menjelang akhir film, jadi, keputusannya adalah kebodohan sekelompok teroris yang menyewa seorang pelaksana rencana semacam Jackson. 

Apakah intinya ? Film Red-Eye adalah sebuah film yang mempunyai pacuan ketegangan yang bagus, tetapi dialog dan satu karakter inti yang lemah membuat alur film yang intens menjadi rusak sebagian. Lain kali sewalah perencana pembunuhan seperti Phillipe Nahon di Haute Tension plus Anthony Hopkins di The SIlence of the Lambs, jadinya rencana anda menjadi lebih lancar dan rapih. Wahai tuan Jackson Rippner, lain kali bawalah sumsum tulang belakang anda di pesawat, nangkep refleks cewek aja gak bisa.

3 of 5