Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REVIEW. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 November 2021

[REVIEW] The Houses October Built (2014) adalah contoh bagus dari "Jangan nilai film dari posternya"

Poster adalah salah satu elemen penting dalam promosi sebuah film. Tetapi di dunia streaming saat ini, menurut saya poster makin memegang peranan kunci. Sekalinya si poster jelek dan tidak menarik (apalagi tanpa ada pemain terkenal, aktor, atau endorsement lain), calon penonton cukup menggeser ke deretan film lain, menekan tombol back, atau berpindah ke aplikasi lain. Semudah itu. Film The Houses October Built menjadi contoh nyatanya. Saya telah beberapa kali menjumpai film ini di deretan situs dan aplikasi streaming film, baik  yang gratis maupun berbayar. Namun, poster yang meneriakkan "Ini film kelas B!" keras-keras membuat saya tak pernah tergoda untuk menontonnya.

Maksud saya, coba lihat poster ini. Objek-objek di dalamnya terlihat seperti susunan gambar yang dirangkai dengan Photoshop ditambah setan botak yang terlalu ke kanan. Judul yang sulit saya pahami (Apa coba maksudnya rumah yang dibangun oleh bulan Oktober?) makin membuat saya sulit memahami apa pesan/ide yang ingin ditawarkan oleh si poster. Alasan saya akhirnya menonton film ini pun hanya karena menjumpainya di Lionsgate Play dan karena bosan. Saat menonton, saya cukup kaget karena filmnya tidak seburuk posternya.

Film ini mengisahkan tentang sekelompok pemuda yang mengelilingi Amerika Serikat dengan mobil RV, untuk mendokumentasikan perjalanan mereka mencari atraksi rumah hantu yang paling ekstrim. Perjalanan mereka jadi menyeramkan saat mereka dikuntit oleh orang-orang berkostum hantu yang mulai melakukan apapun untuk menarik perhatian mereka.

Senin, 15 November 2021

[REVIEW] Terror Train (1980) sudah cukup meneror saya dengan pencahayaan super gelap

Jamie Lee Curtis jadi primadona para produser ketika boom film slasher atau jagal terjadi di Amerika Serikat jelang tahun 1980. Salah satu film yang berhasil menggaetnya adalah Terror Train dari studio 20th Century Fox. Sebenarnya, saat tahu kalau konsep awal sang produser tentang film ini adalah "Film Halloween di atas kereta", ia sudah menegaskan bahwa film ini tidak akan menawarkan sesuatu yang baru. Lagipula, ini slasher lho, mau dikemas dengan cara apapun, pokok ceritanya ya bunuh-bunuhan. Dengan pemikiran tersebut, saya menyaksikan film ini tanpa ekspetasi apapun. Sayang, selepas menonton, kesan yang saya dapatkan hanya film ini terlalu gelap, literally.

Terror Train dimulai dengan Jamie Lee Curtis yang dilibatkan bersama teman-teman mahasiswanya untuk nge-prank mahasiswa pemalu yang membuat si korban syok dan masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Tiga tahun kemudian, Jamie Lee yang sudah lulus bersama teman-temannya, mengikuti pesta kostum yang diadakan di sebuah kereta. Seorang pembunuh misterius pun datang dan mengincar mereka satu-persatu.

Sabtu, 13 November 2021

[REVIEW] Black Sunday (1960) memang pantas menjadi film horor klasik yang mengerikan

Saat menilai film horor jadul itu bagus atau tidak, kadang saya merasa kesulitan karena cita rasa seramnya mereka sudah tidak bisa lagi saya rasakan. Hal ini mungkin disebabkan saya sudah terlanjur dibiasakan dengan adegan berdarah yang maha kejam dan jumpscare yang diiringi musik dan suara memekakkan telinga. Saya pernah menonton beberapa film horor jadul hitam putih seperti The Innocents (1961) dan The Haunting (1963) yang sering masuk dalam daftar film horor terbaik sepanjang masa, tapi ya ... saya kurang bisa menangkap letak seramnya. Musik/suara dan gambarnya, tidak akan seekstrim film-film horor zaman sekarang.

Oleh karena itu, pengalaman menonton film Black Sunday adalah kejutan menyenangkan bagi saya. Film yang dirilis tahun 1960 ini merupakan debut sineas Italia Mario Bava sebagai sutradara, yang mana, beliau nantinya akan dikenal sebagai salah satu ikon film horor Italia dan dunia. Berbeda dengan kedua film hitam putih yang saya sebutkan di atas, film ini tidak perlu waktu lama untuk "memanaskan" penonton dengan sajian seramnya, dan hal tersebut sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam daftar kategori film favorit saya.

Black Sunday yang berjudul asli La maschera del demonio (Topeng Setan), dimulai dengan adegan penghakiman atas seorang penyihir/pemuja setan dan pengabdinya oleh kakaknya sendiri. Keduanya dihukum mengenakan topeng berpaku dan akan dibakar, namun hujan tiba-tiba muncul sehingga mereka dikubur hidup-hidup. Dua abad kemudian, seorang dokter senior dan asistennya secara tidak sengaja menemukan makam penyihir tersebut dan membangkitkannya. Proses kebangkitan sang penyihir mulai membawa korban, sebagai jalan untuk menuntaskan dendamnya pada keturunan sang kakak hingga mereka habis tak bersisa.



Jumat, 12 November 2021

[REVIEW] Menonton V/H/S 94 (2021) seperti membuka mystery box yang isinya campur aduk

Akhirnya kemarin saya kalap dan membeli akses Shudder via Shopee. Shudder, aplikasi streaming khusus film horor itu, sebenarnya belum tersedia di Indonesia, namun dengan VPN Amerika Serikat, film-film horor beraneka ragam yang dikurasi oleh tim aplikasinya, bisa saya nikmati. Sebenarnya, alasan membeli akses ini pun karena saya sudah mencoba beberapa aplikasi streaming film, namun koleksi horornya tidak terlalu mampu memuaskan batin saya. Film-film jagal yang campy sulit ditemui dengan mudah selain di Shudder. Koleksi Shudder sebenarnya tidak lengkap-lengkap amat, hanya saat melihat deretan filmnya, banyak judul yang saya kenal dari zaman dulu lihat-lihat judul horor tahun 1970-80 an.

Salah satu film yang langsung saya tonton pertama-tama adalah Sleepaway Camp. Saya pernah mengulas film tersebut di blog ini, sehingga saya belum berniat menuliskannya lagi. Dan yang kedua, adalah film V/H/S 94, sekuel dari serial antologi film pendek V/H/S. Film-film V/H/S ini punya karakteristik yang nyaris sama, bentuk found footage, kesadisan tiada tara, hingga alur cerita yang menurut saya terlalu dibuat-buat. Akibatnya, menonton film V/H/S selalu membuat saya campur-aduk.

Di film ini, narasi utamanya adalah sekelompok polisi yang menggrebek markas pengedar narkoba, namun saat masuk, kok isinya orang-orang dengan mata yang sudah dicabut dan televisi yang menampilkan gambar statik. Lalu, seiring mereka menelusuri markas, satu persatu video VHS-pun dimainkan.

[REVIEW] Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama (1988)

Membaca judul film ini mengingatkan saya pada film-film horor Indonesia di era 2000-2010-an yang rata-rata diproduksi dengan production value yang apa-adanya. Zaman itu, film horor punya nama yang sangat jelek gara-gara orang-orang membuat film dengan gaya serampangan berbekal Koya Pagayo sebagai pionir (yang sebenarnya bisa jadi bahan analisis film, karena hampir semuanya punya karakter dan plot yang sama).

Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama adalah film besutan David DeCoteau yang kayaknya pernah dengar di mana, beberapa kali nongol di film dini hari Trans TV. Film-film horor kelas B gitu lah, nothing new. Saya tergoda saja nonton di Shudder karena ingin tahu batas kekejuan (cheesiness, ngawur memang)-nya sampai di mana. 

Plot super tipis, di mana sekumpulan mahasiswi yang mau masuk rumah persaudaraan (sorority) yang sedang melakukan inisiasi (mirip kayak digejrot, eh diplonco gitu kali ya), berbarengan dengan tiga remaja yang ketahuan ngintip prosesi tersebut, diminta mendobrak mal di malam hari dan mengambil trofi area boling. Tak sengaja, mereka melepaskan makhluk imp yang mampu merasuki dan membunuh mereka satu-persatu.

Kamis, 11 November 2021

[REVIEW] Halloween II (1981): Saat Dunia Berjalan dengan Kecepatan 0.75

Halloween II adalah awal dari representasi sekuel film bagus yang terdistorsi keinginan produser untuk mencari untung. Pasalnya, John Carpenter berpikir untuk menjadikan film Halloween ini jadi serial antologi, atau kisahnya nggak nyambung. Jadi ya, misal film pertama tentang Michael Myers, mungkin film kedua bisa jadi tentang pesta dansa Halloween yang kedatangan alien. Tapi, aksi Michael Myers begitu disukai, hingga akhirnya John Carpenter dan Debra Hill (rekan kerja Carpenter/kekasih pada waktu itu) akhirnya mau menulis dan memproduseri film ini, meski membuatnya ogah-ogahan. Bahkan ia bilang bahwa untuk tetap bisa menulis naskah film ini, ia perlu minum beberapa kaleng bir.

Akhirnya ya filmnya jadi begini.

Mengambil latar tepat saat film pertama usai, Michael Myers kabur setelah ditembak dokternya sendiri dr. Sam Loomis, sementara Laurie yang terluka, di bawa ke rumah sakit (yang kadang-kadang disebut klinik) untuk mendapatkan perawatan. Michael kembali berjalan menumpahkan darah, sementara dr. Loomis berusaha mengejarnya.

[REVIEW] Halloween (1978): Bujet minimal, kengerian maksimal

Meresensi film klasik itu cukup sulit. Selain aksesnya yang tidak mudah untuk menyaksikannya, film klasik biasanya sudah begitu sering dijelaskan, dipaparkan, dan dibedah habis-habisan di internet. Hal tersebut membuat kejutan-kejutan yang ditawarkan film tersebut nyaris hilang. Termasuk film Halloween (1978) ini. Ia selalu disebut-sebut sebagai salah satu pionir formula film jagal di Hollywood. Bujet rendah, pembunuh ikonik, adegan remaja yang binal, menjadi pakem standar bagi film-film jagal selanjutnya.

Penyebutan jargon itulah yang membuat saya akhirnya jadi penasaran untuk menontonnya. Kalau tidak salah, sekitar beberapa tahun yang lalu saya pernah menontonnya lewat Torrent, tapi sudah keburu lupa dan tidak banyak kesan yang saya ingat. Oleh karena itu, saya mencoba menonton kembali filmnya dan mengulasnya di sini.

Premis Halloween (1978) sudah sangat akrab buat yang sudah sering menonton film-film begini. Seorang pria bernama Michael Myers dulu membunuh kakaknya sendiri saat umurnya masih 6 tahun di malam Halloween. Di malam Halloween 16 tahun kemudian, ia kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat/ditahan dan menguntit seorang gadis bernama Laurie Strode (Jamie Lee Curtis). Penguntitan tersebut segera jadi mengerikan saat Mihael mulai membunuh lagi.

Selasa, 26 Oktober 2021

[REVIEW] Eksplorasi Kegamangan Iman dalam The Medium (2021)

The Medium (Rang zong) sudah lama dipromosikan oleh Joko Anwar melalui beberapa cuitannya di Twitter. Saya sendiri tidak ingat berapa kali, tapi dalam beberapa bulan terakhir, beliau sempat mengunggah poster film ini sambil memuji-mujinya. Kemudian, banyak orang yang sudah berkesempatan nonton, juga turut memberikan komentar positif. Ingar-bingar yang cukup banyak didengar membuat saya antusias kala bioskop dekat rumah menayangkan film hasil kerja sama Thailand-Korea Selatan ini. Awalnya saya kurang tertarik dengan film ini karena salah satu pihak yang membuat ceritanya adalah penulis dan sutradara The Wailing (karena bagi saya film tersebut cukup membosankan), tetapi film The Medium disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun yang sering menggarap film horor bagus (Shutter, Alone, 4Bia). Ini juga adalah comeback pertamanya di bangku sutradara sejak terakhir menyutradarai komedi romantis One Day di 2016. 

Cerita The Medium boleh jadi memiliki premis yang cukup akrab bagi penikmat film horor. Sekelompok tim dokumenter berangkat ke daerah Isan di Thailand Utara untuk mengikuti kehidupan seorang Medium bernama Nim yang dirasuki oleh Dewi Bayan yang telah disembah oleh masyarakat setempat sejak dahulu kala. Dewi Bayan selalu memilih perempuan dari keluarga Nim secara turun-temurun dengan memberikan tanda-tanda dan kejadian aneh kepada perempuan yang terpilih untuk menjadi Medium selanjutnya. Proses syuting mulai jadi mencekam tatkala Mink, anak gadis kakak Nim, mulai menunjukkan perilaku aneh seusai kematian ayahnya. Awalnya, semua mengira Mink telah ditunjuk oleh sang dewi untuk menjadi Medium berikutnya, sampai Nim mulai yakin bahwa Mink sebenarnya dirasuki oleh sesuatu yang lain.

Sabtu, 23 Oktober 2021

[REVIEW] Jangan minta lebih! Halloween Kills (2021) itu memang isinya hanya bunuh-bunuhan saja

Halloween sebenarnya salah satu serial film slasher atau jagal yang paling saya hindari. Tidak seperti A Nightmare on Elm Street, Friday the13th, atau bahkan Chucky, Halloween ini hampir di setiap serialnya selalu punya narasi sendiri yang berbelok arah dari film sebelumnya. Hal ini mungkin karena, berbeda dengan serial film jagal lain, film Halloween agak personal karena karakter Michael Myers yang penuh misteri dan bahkan agak supernatural. Akibatnya, menjelaskan Michael dan kengeriannya akan selalu memiliki interpretasi yang berbeda tergantung siapa yang menggawangi. Keterkaitan penjagal tersebut dengan Laurie Strode juga merupakan interaksi terlama antar penjahat dan final girl-nya yang tak pernah ditemui di serial film jagal lain. Oleh karena itu, saat film Halloween dibuat sekuel berjudul sama di tahun 2018 yang menganulir semua film sekuel yang sudah dibuat sebelumnya, saya pikir Hollywood sudah menggebuk kuda mati sampai dagingnya jadi dendeng. Tetapi, film tersebut cukup bisa menghibur dengan memberikan insight yang lebih baik tentang perkembangan karakter Laurie dan keluarganya. Film Halloween Kills merupakan sekuel langsung dari film tersebut.

Halloween Kills membawa kita langsung kepada apa yang terjadi setelah Laurie, Karen (anak Laurie), dan Allyson (anak Karen) berhasil menjebak Michael di rubanah dan membakarnya. Laurie harus diopname di rumah sakit, sementara Michael berhasil lolos dari kebakaran tersebut dan menuju Haddonfield. Namun, kali ini warga Haddonfield juga bersatu dan sepakat untuk memburu Michael di malam itu juga.

[REVIEW] Malignant (2021), film penuh kejutan yang mudah ditebak

Entah mungkin karena saya yang malas mencari, tapi saat beberapa kali bersinggungan dengan iklan trailer Malignant di YouTube atau membaca sinopsisnya sekilas, promosi film ini tidak pernah mengungkap detail plotnya dengan jelas. Beberapa kata kunci seperti film giallo muncul, tapi sampai di situ saja. Hal itu membuat saya penasaran, karena katanya ini New Vision of Terror-nya James Wan. 

James Wan sebagai sineas horor sudah sangat terkenal karena kemampuannya mengampu tiga franchise sekaligus di era dekade 2000-2010 Saw, The Conjuring, dan Insidious. Ketiganya sangat terkenal di eksplorasi genre horor-nya masing-masing, mulai dari torture porn hingga eksperimen adegan kejutan (jumpscare). Eksplorasi dan eksploitasi teknis dari besutannya sebelumnya membuat saya penasaran, apa yang akan ditonjolkannya di film Malignant ini?

Secara singkat, film Malignant mengisahkan Madison, seorang wanita yang mesti kehilangan bayi di kandungan dan suaminya setelah mengalami peristiwa perampokan. Seusai peristiwa tersebut, ia mulai dihantui penglihatan sosok hitam yang membunuh suaminya, mulai membunuh orang-orang lain yang tak ia kenal. Penglihatan tersebut ternyata benar-benar terjadi dan Madison harus mengungkap siapa sang pembunuh sebelum ia sendiri menjadi korbannya.

[REVIEW] Mistisisme yang Memudar di Don't Breathe 2 (2021)

Don't Breathe 2 adalah sekuel film tahun 2016 besutan sutradara asal Fede Álvarez, sutradara asal Uruguay yang juga pernah menggawangi reka ulang film Evil Dead-nya Sam Raimi di tahun 2013. Film Don't Breathe seingat saya sangat sukses saat dirilis karena ceritanya terbilang simpel, tapi eksekusi dan ketegangan yang diciptakan sangat bikin nagih. Film Don't Breathe juga waktu itu keluar saat film-film yang menggunakan konsep deprivasi indera tubuh dirilis (A Quiet Place, It Follows(?), Lights Out). Namun, mistisisme kakek tuna netra yang menjadi antagonis di film tersebutlah yang menjadi juara, karena mampu membuat suasana "terjebak di rumah hantu" yang sangat efektif.

Di film keduanya, kakek tuna netra bernama Nordstrom (yang mengingatkan saya pada nama penyedia jasa VPN) menjadi protagonis. Delapan tahun setelah film pertama, ia hidup di kota kecil bersama Phoenix, gadis kecil yang dulu dipungutnya dari kejadian kebakaran yang menewaskan orangtuanya. Namun, suatu malam ayah Phoenix datang bersama komplotannya untuk mengambil Phoenix kembali.

Jumat, 01 Juli 2016

[REVIEW] The Conjuring 2 (2016)

SINOPSIS

Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) memutuskan vakum sementara dari pekerjaan mengusir hantu mereka, setelah pengusiran setan yang mereka lakukan di Amityville, memperlihatkan Lorraine pada sesosok hantu biarawati yang menginginkan kematian suaminya. Vakumnya kisah mereka, ternyata harus dibatalkan karena sebuah laporan adanya kejadian berhantu yang menimpa keluarga Hodgson di Inggris. Bersama dengan kenangan buruk tersebut, Ed dan Lorraine harus berjuang bersama demi menguak teror yang merasuki tubuh anak perempuan Hodgson, Janet.

RATING
MPAA rating is R for terror and horror violence

Kamis, 30 Juni 2016

[REVIEW] Now You See Me 2 (2016)

SINOPSIS

Four Horsemen kembali melakukan comeback stage-nya untuk menguak rahasia jahat di peluncuran ponsel pintar Octa. Kini beranggotakan Merritt (Woody Harrelson), Danny (Jesse Eisenberg), Jack (Dave Franco), dan anggota baru mereka Lula (Lizzy Caplan), dan dipimpin oleh Dylan (Mark Ruffalo) yang juga agen FBI, justru diungkapkan identitas mereka oleh seseorang. Usaha kaburnya Four Horsemen, malah berakhir di kota Makau secara tiba-tiba. Kebingungan, mereka digiring adik kembar Merritt, Chase, untuk bertemu dengan seorang saintis bernama Walter Marby (Daniel Radcliffe) yang meminta Four Horsemen untuk mencuri chip ponsel tersebut yang akan dilelang di pasar gelap. Dalam upaya kebingungan dan di luar kendali, Dylan yang masih berada di Amerika Serikat, terpaksa membantu Thaddeus (Morgan Freeman), saingan ayahnya yang berhasil ia jebloskan ke penjara, untuk menyelamatkan Four Horsemen.

RATING

MPAA rating is PG-13 for violence and some language

Rabu, 29 Juni 2016

[REVIEW] Resolution (2012)

SINOPSIS

Michael, seorang desainer grafis yang tengah menunggu kelahiran bayinya bersama sang istri, mendapatkan sebuah surat elektronik yang berisi video kegilaan teman lamanya, Chris, yang terjebak dalam kecanduan obat terlarang di sebuah daerah lembah gunung yang terpencil. Michael mengira itu tanda untuknya dan berusaha membantu Chris agar mau dibawa ke tempat rehabilitasi. Usaha tersebut menjadi semakin sulit, ketika sekumpulan video yang merekam kegiatan mereka, tiba-tiba saja muncul di tempat yang tidak diduga. Bersama, Michael dan Chris harus mencoba menerka apa akhir dari cerita mereka.

RATING

Not Rated (suggested MPAA rating is R for pervasive language and drug use

Selasa, 28 Juni 2016

[REVIEW] Doubt (2008)

SINOPSIS

Berdasarkan naskah teater pemenang Pulitzer, Suster Aloysius Beauvier (Meryl Streep) adalah kepala sekolah katolik yang ketat dan tegas. Terganggunya ia melihat ide-ide progresif dari Bapa Flynn (Philip Seymour-Hoffman), membuatnya melihat ada ketidakberesan mengenai dirinya. Hal itu semakin diperkuat dengan laporan seorang suster baru bernama James (Amy Adams), yang mengetahui anak didiknya, Donald Miller, anak altar dan satu-satunya siswa berkulit hitam di sekolah tersebut, bermuka pucat setelah dipanggil ke ruangan Bapa Flynn saat pelajaran berlangsung. Suster Aloysius berusaha untuk membuktikan kecurigaannya, namun justru semakin terikat pada keraguan dan kepastiannya. Di antara seluruh kepastiannya akan aturan-aturan yang dimilikinya, mungkin saat ini yang dimilikinya hanyalah keraguan.

RATING

MPAA rating is PG-13 for thematic elements

[REVIEW]Mr. Peabody and Sherman (2014)

SINOPSIS
Mr. Peabody (Ty Burrell) adalah seekor anjing jenius yang dapat melakukan apa saja, mulai dari memainkan musik latin, medali di Olimpiade, hingga mendapat penghargaan Nobel. Suatu ketika, Mr. Peabody memutuskan untuk mengadopsi seorang anak manusia bernama Sherman (Max Charles). Bersama mereka berdua melakukan banyak petualangan ke masa lalu dengan sebuah mesin waktu ciptaan Mr. Peabody yang disebut WABAC. Di hari pertama sekolah, Sherman dengan kemampuan pengetahuannya membuat masalah dengan seorang gadis angkuh bernama Penny (Ariel Winter), yang mengancam hubungan adopsi Sherman.

Malam harinya, sebelum investigator Mrs. Grunion yang keji datang, Mr. Peabody mengundang keluarga Penny agar sikap mereka melunak. Sementara itu, Sherman yang terpaksa bersama Penny, membocorkan rahasia WABAC dan dipaksa Penny untuk berpetualang. Tak disangka, perjalanan itu adalah awal dari petualangan antar waktu yang mengasyikkan. Hingga, di satu titik dimana sesuatu yang tak terduga terjadi, Sherman harus melanggar aturan WABAC - tak boleh pergi di masa kamu ada - untuk menyelamatkan anjing, sekaligus ayah yang ia cintai, juga membetulkan masa depan dari Bumi ini.

[REVIEW] Nymphomaniac Part I (2013) & Part II (2013)

SINOPSIS

Seorang pria yang tengah keluar dari apartemennya di sebuah malam di musim dingin, Seligman (Stellan Skarsgård), menemukan seorang wanita pingsan dengan luka lebam di wajahnya. Membantunya siuman, wanita yang mengenalkan diri sebagai Joe (Charlotte Gainsbourg), menolak untuk dibawa ke polisi maupun ambulans. Perkenalan itu membawa mereka ke apartemen kecil milik Seligman. Ditemani malam yang belum tuntas dan teh susu, Joe pun mulai menceritakan kisah bagaimana ia bisa berakhir di tempat itu. Menceritakan kisahnya sebagai seorang Nymphomaniac.

RATING

Not Rated (obviously NC-17 for some explicit sexual content)

Senin, 27 Juni 2016

[REVIEW] Alice, Sweet Alice (1976)

SINOPSIS

Alice Spages adalah seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang sering menampilkan perilaku yang mengganggu sekitarnya. Sama sekali anak yang "gelap". Sementara itu, adiknya Karen begitu riang dan menjadi perhatian banyak orang dengan sikapnya yang baik, termasuk lebih diperhatikan ibunya, Catherine. Di hari Komuni Pertama Karen, Karen ditemukan terbakar di balik kursi gereja. Kecurigaan yang mengarah pada Alice, membuat Catherine dan mantan suaminya, Dominic "Dom", berusaha untuk mencari pembunuh sebenarnya. Dibantu dengan Pendeta Tom, pembuktian tersebut harus melewati banyak insiden berdarah. Semua bukti mengarah pada Alice, namun benarkah Alice pelakunya?

[REVIEW] Deadly Home (2015)


SINOPSIS

Anna baru saja kehilangan kakaknya yang mampu melindunginya dari segala situasi. Namun, ketakutannya untuk menginjakkan kaki di luar rumah membuatnya tak mampu menghadiri pemakaman Conrad. Ketakutan tersebut membuatnya bertemu dengan tiga orang yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya, berniat untuk mencari uang yang dimilikinya. Sayang sekali, di balik ketakutan Anna, tersembunyi sebuah rahasia yang lebih dalam lagi. Rahasia yang lebih berdarah untuk diketahui.

[REVIEW] The Boy (2016)

SINOPSIS

Greta (Lauren Cohan) memutuskan pergi dari hubungan yang menyesakkan dari kekasihnya Cole, dengan mengambil pekerjaan sebagai babysitter untuk sebuah keluarga yang tinggal di pedalaman Inggris. Sesampainya di rumah keluarga tersebut, ia baru mengetahui bahwa anak lelaki yang akan diasuhnya adalah sebuah boneka porselen bernama Brahms, yang dianggap sebagai anak oleh Mr. dan Mrs. Hellshire. Mulanya, Greta menanggapi pekerjaan ini sebagai sebuah lelucon, dan tidak mengindahkan peraturan mengasuh Brahms. Namun, seiring waktu berlangsung, saat pasangan itu berlibur dan keluar dari rumah, Greta menyadari bahwa Brahms bukan benda mati begitu saja.