Tampilkan postingan dengan label smart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label smart. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

[REVIEW] Resolution (2012)

SINOPSIS

Michael, seorang desainer grafis yang tengah menunggu kelahiran bayinya bersama sang istri, mendapatkan sebuah surat elektronik yang berisi video kegilaan teman lamanya, Chris, yang terjebak dalam kecanduan obat terlarang di sebuah daerah lembah gunung yang terpencil. Michael mengira itu tanda untuknya dan berusaha membantu Chris agar mau dibawa ke tempat rehabilitasi. Usaha tersebut menjadi semakin sulit, ketika sekumpulan video yang merekam kegiatan mereka, tiba-tiba saja muncul di tempat yang tidak diduga. Bersama, Michael dan Chris harus mencoba menerka apa akhir dari cerita mereka.

RATING

Not Rated (suggested MPAA rating is R for pervasive language and drug use

Selasa, 28 Juni 2016

[REVIEW] Nymphomaniac Part I (2013) & Part II (2013)

SINOPSIS

Seorang pria yang tengah keluar dari apartemennya di sebuah malam di musim dingin, Seligman (Stellan Skarsgård), menemukan seorang wanita pingsan dengan luka lebam di wajahnya. Membantunya siuman, wanita yang mengenalkan diri sebagai Joe (Charlotte Gainsbourg), menolak untuk dibawa ke polisi maupun ambulans. Perkenalan itu membawa mereka ke apartemen kecil milik Seligman. Ditemani malam yang belum tuntas dan teh susu, Joe pun mulai menceritakan kisah bagaimana ia bisa berakhir di tempat itu. Menceritakan kisahnya sebagai seorang Nymphomaniac.

RATING

Not Rated (obviously NC-17 for some explicit sexual content)

Senin, 27 Juni 2016

[REVIEW] Deadly Home (2015)


SINOPSIS

Anna baru saja kehilangan kakaknya yang mampu melindunginya dari segala situasi. Namun, ketakutannya untuk menginjakkan kaki di luar rumah membuatnya tak mampu menghadiri pemakaman Conrad. Ketakutan tersebut membuatnya bertemu dengan tiga orang yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya, berniat untuk mencari uang yang dimilikinya. Sayang sekali, di balik ketakutan Anna, tersembunyi sebuah rahasia yang lebih dalam lagi. Rahasia yang lebih berdarah untuk diketahui.

Minggu, 25 Januari 2015

[REVIEW]The Imitation Game (2014)

SINOPSIS
Berdasarkan kisah nyata, mengenai pekerjaan rahasia yang disembunyikan oleh militer Inggris selama 50 tahun untuk memecahkan kode Enigma, suatu sistem kode yang diciptakan Nazi untuk saling berkomunikasi dalam menyerang Sekutu. Pekerjaan itu melibatkan seorang ahli matematika, profesor Alan Turing (Benedict Cumberbatch) yang kaku, yang merasa tertantang untuk membuat suatu mesin yang secara otomatis bisa menerjemahkan kode tersebut. Bersama dengan “rekan” kerjanya di bidang kriptografi, Hugh Alexander (Mathew Goode), John Cairncross (Allen Leech), Peter Hilton (Matthew Beard) serta Jack Good (James Northcote) dan Joan Clarke (Keira Knightley) yang berhasil menyelesaikan kompetisi teka-teki silang dari Turing. Film ini tak sekadar menyajikan pemecahan kode sandi, namun bagaimana kehidupan Turing yang kompleks, yang dibayangi oleh cintanya kepada teman sekolahnya bertahun-tahun yang lalu.

Jumat, 09 Januari 2015

[REVIEW]The Babadook (2014)

 SINOPSIS
Amelia (Essie Davis) adalah seorang single mother yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, sambil merawat anaknya yang duduk di kelas 1 SD, Samuel (Noah Wiseman). Berada di tengah anaknya yang suka berimajinasi tentang monster, Amelia juga harus menghadapi kedukaan atas meninggalnya sang suami dalam kecelakaan tujuh tahun yang lalu, saat mengantar Amelia melahirkan. Kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur berubah mengerikan tatkala Amelia membacakan sebuah buku pop-up misterius berjudul "Mister Babadook". Sejak itu, Mister Babadook menjadi bahan keributan anaknya, hingga Amelia berada di ambang batas kewarasannya dan perlahan, Amelia mulai dirasuki oleh Mister Babadook untuk mencelakakan ia dan anaknya.

Senin, 04 Agustus 2014

[REVIEW]Grand Piano (2013)

SINOPSIS
Tom Selznick (Elijah Wood) adalah seorang pianis handal dan terkenal, sampai ia salah memainkan La Ciquette, sebuah lagu yang "tak mungkin dimainkan" karya mentor Tom sendiri, seorang pianis/komposer bernama Patrick Godureaux, karena ia demam panggung hebat. Malam ini, lima tahun kemudian, berkat bujukan sang istri Emma (Kerry Bishé) Tom menyetujui untuk bermain sebagai pianis di konser orkestra yang diadakan untuk memperingati kematian Godureaux yang tiba-tiba. Tom menggunakan piano Bosendorfer yang dirancang khusus untuk permainan karya Godureaux yang setelah konser akan diterbangkan ke Swiss.

Dalam pertunjukan, tepat menjadi perhatian utama seluruh penonton, Tom menyadari ada catatan merah yang mengancam; Seorang sniper siap menembak dirinya dan Emma apabila Tom salah memainkan nada. Beriringan dengan permainannya, Tom berusaha menyelamat sang istri dan nama baiknya, sambil berkomunikasi dengan sang penembak lewat earpiece. Hingga, di saat terakhir, Tom dipaksa oleh sang sniper memainkan La Ciquette dengan tepat.

[REVIEW]Oculus (2013)

SINOPSIS
Tahun 2002, keluarga Russell pindah rumah ke 2705 Hawthorne. Bersama barang-barang mereka, sang ayah Alan Russell (Rory Cochrane) membeli sebuah cermin antik untuk dipasang di ruang kerjanya. Perlahan-lahan, kedua anak Alan, Kaylie Russell (Annalise Basso) yang berumur 13 tahun dan adiknya Tim (Garrett Ryan) melihat keanehan pada ayah mereka yang terus mengurung diri di ruang kerjanya, serta anjing mereka Mason yang bertingkah aneh. Sang ibu, Marie (Katee Sackhoff) turut melihat hal itu, terlebih karena sang suami mulai berlaku kasar. Keanehan terus berlanjut hingga orangtua mereka mulai gila. Hal ini berakhir saat Marie dibunuh suaminya sendiri, dan Alan menarik pelatuk pistol yang tengah dipegang Tim.

Tim yang tertuduh membunuh dengan sidik jarinya dibawa ke pusat rehabilitasi. 10 tahun kemudian, Tim (Brenton Thwaites) keluar dan bertemu dengan kakaknya Kaylie (Karen Gillan) yang kini sukses dan bertunangan dengan Michael Dumont (James Lafferty). Kaylie rupanya menunggu hari itu, dan mengajak Tim ke rumah lama mereka yang dulu diwariskan pada Kaylie. Demi perjanjian untuk menghancurkan cermin itu 10 tahun yang lalu, Kaylie telah mencari cermin antik itu dan melakukan sebuah penelitian dengan kamera video untuk membuktikan bahwa cermin itulah 'pelaku' sebenarnya dari kejadian 10 tahun yang lalu.

Lewat kilas balik yang bergantian, perlahan Kaylie dan Tim memasuki dunia yang berbeda, dunia yang mengembalikan sebuah mimpi buruk mereka, dan bahkan menciptakan mimpi buruk yang baru.

Senin, 20 Januari 2014

[REVIEW] The Man from Earth (2007)

SINOPSIS
John Oldman (David Lee Smith) adalah seorang dosen yang akan mengundurkan diri untuk pindah. Pada hari itu, ternyata koleganya Dan (Tony Todd) seorang antropolog, Harry (John Billingsley) seorang biolog, Edith (Ellen Crawford) seorang pengkaji seni dan seorang Kristiani taat, Sandy (Annika Peterson) seorang sejarawan, Art Jenkins (William Katt) seorang arkeolog, dan mahasiswinya Linda Murphy (Alexis Thorpe) mengajaknya untuk membuat pesta perpisahan dan mengobrol, hingga menjadi sebuah pengakuan mengejutkan bahwa John berumur lebih dari 14,000 tahun. Pengakuan tersebut bermula dianggap bercanda, hingga semua orang semakin serius terhadap ucapannya. Datang pula seorang psikolog Dr. Will Gruber (Richard Riehle) yang ditelepon Art, untuk memastikan bahwa John benar-benar waras. Terkadang, masa lalu yang hidup lebih baik dibiarkan pergi.

Kamis, 26 Desember 2013

[REVIEW]Room 237 (2012)

SINOPSIS
Apa jadinya jika sebuah film tak hanya sebuah film? Apa jadinya bila ternyata, film The Shining yang terkenal itu menyimpan banyak petunjuk mengenai pendaratan bulan bohongan? Apa jadinya bila ternyata film The Shining bercerita mengenai genosida? Apa jadinya bila ternyata banyak hal aneh yang disengaja? Inilah Room 237, perjalanan mengeksplorasi Stanley Kubrick, salah seorang sutradara jenius yang menyutradarai film ini, salah satu film paling mengerikan sepanjang masa.

Selasa, 24 Desember 2013

[REVIEW]The Artist (2011)

SINOPSIS
George Valentin (Jean Dujardin) adalah aktor terkenal di era film bisu. Perjumpaannya secara tidak sengaja dengan seorang penggemar bernama Peppy Miller (Bérénice Bejo) membuat Pepppy mengikuti audisi menjadi penari di film Valentin yang terbaru, A German Affair. Kemudian, era film bicara atau talkies-pun dimulai sementara Valentin bersikeras untuk tidak meninggalkan era film bisu dan memproduksi filmnya sendiri. Peppy semakin sukses dengan karirnya di film suara sementara Valentin jatuh terpuruk seusai bangkrut dengan film bisu yang ia produksi sendiri. Di tengah transisi film bisu dan suara, di tengah dilema seorang artis, akankah cinta mereka bersatu?

Minggu, 22 Desember 2013

[REVIEW]The Birds (1963)

SINOPSIS
Seorang sosialita bernama Melanie Daniels (Tippi Hedren) bertemu dan mulai tertarik pada seorang pengacara bernama Mitch Brenner (Rod Taylor) di sebuah toko burung di San Francisco. Melanie memutuskan untuk membuat kejutan berupa lovebirds yang mereka bahas di toko burung, dan membawanya ke rumah asal Mitch di Bodega Bay, tempat Mitch biasa berakhir pekan. Di Bodega Bay, kemudian mulai muncul serangan-serangan pada kota tersebut oleh burung-burung tanpa alasan yang jelas. Mungkinkah mereka selamat?

Jumat, 13 Desember 2013

The ABCs of Death (2012)

SINOPSIS
26 sutradara yang mewakili 26 alfabet. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian. 26 alfabet yang mewakili 26 mozaik. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian.
Ini tidak mendidik

REVIEW
NR. My suggested rating is NC-17 for extreme graphic violence
REVIEW
Sakit. Gila. Psiko. Jorok. Goblok. Parah. Sadis. Kyahahaha. Klasik. Apaan nih? Oke deh. Iyuuh. Ciyus loh, udah selesai? Errr. Bisa tolong ulang adegan tadi? Eh!!! Kok gitu? Nggak ngerti.
Silakan anda mengomentari film ini. Ada 26 cerita (dengan durasi 145 menit) memang sangat berlebihan. Dan boleh-boleh saja mengomentari semuanya. Nah, entah kenapa tak satu pun di film ini yang menurut saya benar-benar menarik perhatian. Satu-satunya yang menarik perhatian, ya untuk segmen L dari Timo Tjahjanto yang mengherankan saya. Oh ya, biar tidak bingung,
·         A is for Apocalypse (Nacho Vigalondo)
·         B is For Bigfoot (Adrian Garcia Bogliano)
·         C is for Cycle (Ernesto Diaz Espinoza)
·         D is for Dogfight (Marcel Sarmiento)
·         E is for Exterminate (Angela Bettis)
·         F is for Fart (Noboru Iguchi)
·         G is for Gravity (Andrew Traucki)
·         H is for Hydro-Electric Diffusion (Thomas Malling)
·         I is for Ingrown (Michael Grau)
·         J is for Jidai-geki (Samurai Movie) (Yudai Yamaguchi)
·         K is for Klutz (Morgenthaler)
·         L is for Libido (Timo Tjahjanto)
·         M is for Miscarriage (Ti West)
·         N is for Nuptials (Banjong Pisanthanakun)
·         O is for Orgasm (Bruno Forzani & Héléne Cattet)
·         P is for Pressure (Simon Rumley)
·         Q is for Quack (Adam Wingard & Simon Barretti)
·         R is for Removed (Srdjan Spasojevic)
·         S is for Speed (Jake West)
·         T is for Toilet (Lee Hardcastle)
·         U is for Unearthed (Ben Wheatley)
·         V is for Vagitus (The Cry of a Newborn Baby) (Kaare Andrews)
·         W is for WTF! (Jon Schnepp)
·         X is for XXL (Xavier Gens)
·         Y is for Youngbuck (Jason Eisener)
·         Z is for Zetsumetsu (Extinction) (Yoshihiro Nishimura)

Nah, sebenarnya dari film ini kita bisa mengetahui apa sebenarnya pikiran para sutradara horor di dunia. Maksud saya, mereka kan diberi hak untuk membuat tanpa campur tangan produser, makanya kita bisa lihat apakah horor itu generik? Nah, setidaknya banyak yang berpikir mengenai seks dalam horor. Baik sebagai tema ataupun imbuhan. Ada segmen L dan segmen O (yang setidaknya cukup ekspilisit) dan segmen P serta segmen Y. Heran juga saya, Timo Tjahjanto bisa membuat film seeksplisit ini. Mungkin, inilah segmen yang paling frontal. Saya kaget saat ada nuditas yang keras disini. Apa yang main benar-benar orang Indonesia semua? Sepertinya tidak mungkin. Eh, tapi mungkin saja, ding. Sekarang kan Indonesia makin “terbuka” dan makin “idealis”.
 
Selain itu, banyak yang membuat dalam media animasi seperti di segmen K, segmen H (tidak juga sih, tapi rasanya cukup other world), dan segmen T. Mereka cukup violent dalam menyajikannya. Eh? Lebih pintar dan lebih kelam dari Happy Tree Friends, saya lebih suka segmen K. Hahaha. Seonggok kotoran yang tidak mau dipisahkan dengan sarangnya. Saya merasa biasa saja dengan segmen T yang terpilih menjadi segmen terbaik di film ini pada saat debutnya.

Ada juga yang memutuskan untuk menjadi klasik dengan segmen B, segmen U, dan segmen M. Cukup light saat segmen N karya Banjong Pisanthanakun muncul dan komedi. Segar, lah. Tapi jangan lupakan Xavier Gens yang sadis. Ingat karya fenomenalnya Frontiers? NC-17? Nah, dia muncul kembali dengan segmen X yang menurut saya paling sakit. Yah, jangan ditonton untuk para cewek chubby yang terlalu desperate. Entah idenya apaan, tapi cara menguruskan badan seperti yang dipraktikkan di segmen ini sangat efektif! Beberapa jam saja dan anda sudah menjadi kurus! Hati-hati efek sampingnya, ya...

Segmen V menyajikan eksyen yang kental. Sebel juga karena ada adegan bayi mati. Tapi ada adegan revenge-nya kok. Tenang aja. Seperti yang saya pikirkan, ada segmen yang membahas dirinya sendiri. Ada Segmen Q dan segmen W. Yah, mungkin karena terlalu sulit, jadinya mereka buat yang aneh-aneh. Segmen Q sama ringannya dengan segmen N. Bagaimana mereka begitu sulit menemukan kata yang cocok dari Q. Sementara itu segmen W lebih.... lebih gila... Kayak semua elemen yang mereka pikirkan muncul dan menyerang begitu saja ke studio mereka. Yah, cerita ini kosong sekali. Tidak ada intinya.

Jepang menyumbangkan tiga segmen yang sama-sama aneh. Segmen F, segmen J, dan segmen Z. Segmen F menyuguhkan adegan yuri yang terkover dengan kentut. Aneh? Tonton saja sendiri. Segmen J terlihat berusaha konyol, tapi saya malah merasa kosong. Spesial untuk muka si samurai yang jadi aneh-aneh. Dan yang paling membingungkan ya segmen Z. Ini sama campur aduk dengan segmen W. Dipenuhi dengan keeksplesitan khas Yoshihiru Nishimura yang membuat Mutant Girls Squad. Dapat dibayangkan seperti apa segmen ini.
 
Dari semua yang mega, segmen G dan segmen D terlihat kacang. Tapi, menurut saya segmen G lah yang paling natural dan biasa. Tapi ia benar-benar mengajarkan mengenai kematian. Kecelakaan. Mudah, bukan? Segmen D menurut saya kurang menggigit, tapi ia punya sinematografi yang paling baik. Salah satu segmen favorit saya. Segmen A mengambil cerita yang begitu tiba-tiba. Dia ternyata bisa abadi selama setahun!

Segmen E langsung mengingatkan saya pada segmen The List di film Takut. Segmen C mengingatkan saya pada film Triangle. Segmen L mengingatkan saya pada Rumah Dara. Bukan dari ceritanya, tapi settingnya.

Segmen-segmen lainnya, menurut saya biasa saja. Yah, mungkin yang paling menarik memang segmen L yang memuaskan dari segala sisi. Segmen T juga turut menghibur karena ia masuk ke mengajarkan kematian kepada anak-anak dengan cara yang benar-benar efektif.

Sulit untuk mengatakan film The ABCs of Death itu bagus. Saya masih merasa film ini terlalu panjang dan mungkin overrated. 145 menit dengan 26 segmen berbeda jujur membuat saya bosan menontonnya. Satu-satunya motivasi saya menyelesaikan film ini sampai habis adalah karena berharap semoga segmen selanjutnya lebih baik dari segmen sebelumnya. Cerita yang ada semua berdiri sendiri dan ada yang mudah untuk dilepaskan. Untuk mengomentari ini saja, saya bolak-balik untuk mengetahui ceritanya. Yah... kelemahan terbesar sekaligus kelebihannya terletak di variasi segmennya. Kita dihadapkan pada rasa penasaran dan rasa bosan. Makannya review film ini juga rata-rata mixed. Coba lain kali, buat filmnya lebih tertata. Maksudnya, The ABCs of Death menurut saya kadang diartikan sebagai horor oleh sutradaranya. Mungkin kalau teror atau horor lebih cocok. Misalnya, kalau diberikan skenario awal dan disuruh mengembangkannya akan terasa lebih menarik.

Rating film ini juga saling tumpang tindih. Segmen G itu mungkin bisa dibilang PG. Segmen B bisa dibilang PG-13 dan lainnya R. Eh, segmen X menurut saya NC-17. Keputusan yang bagus untuk tidak dirating. Yah, kalau di Parents Guide IMDb, semuanya masuk. Sex and Nudity akan dijawab segmen L, Violence and Gore akan dijawab segmen X (tambah segmen P yang Cuma satu adegan tapi kasiaaaan banget), Profanity akan dijawab... segmen W aja deh, segmen S akan menjawab Alcohol and Drug Use yang langsung menjadikan film ini R, dan frightening and intense scenes akan dijawab... segmen X kali, ya (dan banyak segmen lain). Sekadar info kalau film ini ada sekuelnya di tahun 2014. Dan tahu tidak, saya akan kembali mencari torrent­-nya.

NB. Dulu ada wacana kalau mau dibuat rating di antara R dan NC-17 yang kemudian dibatalkan. Kalau rating itu jadi, menurut saya film ini akan mendapatkan rating tersebut.


62%

Enter Nowhere (2011)

Samantha atau Sam (Katherine Waterston) berjalan dari mobil suaminya Adam yang kehabisan bensin saat perjalanan mereka ke orang tua Adam untuk memberitahukan kehamilan Sam. Saat Adam belum juga muncul, Sam memutuskan untuk mencari sendiri hingga ia menemukan sebuah kabin dengan radio disana. Disana, ia bertemu dengan Tom (Scott Eastwood) yang sudah tiga hari terperangkap disana karena mobilnya rusak. Keesokan harinya saat Tom kembali ke mobilnya, Sam di kabin bertemu dengan Judy (Sara Paxton) yang baru saja merampok sebuah swalayan dimana ia kemudian ditinggalkan oleh kekasihnya. Kemudian, segalanya mulai menjadi aneh. Mereka tak kunjung menemukan hubungan di antara mereka. Hingga Judy yang berlari dari kabin sejauh mungkin ternyata ia kembali lagi ke kabin. Hingga... Sam menemukan keanehan pada tahun uang cetak yang dirampok Judy....

RATING
R for Language and Brief Violence

REVIEW
Wow, film ini diluar ekspetasi saya loh. Sekali. Pertamanya memang bikin skeptis, sih. Coba deh, di IMDb informasinya tidak terlalu lengkap. Di Wikipedia pun tidak ada halaman untuk film ini. Singkatnya, hanya berbekal sinopsis di IMDb dan menonton sendiri saja. Saat menontonnya, kita dibawa pada sebuah titik penentu saat suara pistol terdengar, brankas yang dibuka, dan layar putih yang akan membawa ke sebuah dunia.

Disini, kita langsung dibawa ke Sam yang... serba pale face. Langsung inget ke peran-peran tokoh penyendiri di film-film. Tapi perlahan si Sam yang merokok (padahal lagi hamil) menjadi satu poin tersendiri. Kemudian semuanya jadi datar hingga datang si Judy yang datang dengan mulut kotornya yang membuat rating film ini jadi R. Tapi penampilan dia disini langsung memberi warna di film ini, kok. Yang tadinya serba drama dan dingin, jadi mulai lucu karena kata-kata si Judy. Bukan karena dia keluarin lelucon, tapi kata-katanya tuh serba natural. Khas lah. Si Tomnya sih terasa psikopat di bagian pertamanya. Abisan protektif banget sama si Sam. Tapi si Judy melunturkan semua dingin yang ada. Yang jelas, rintangan pertama sudah berhasil dilewati.
Yang kedua adalah suspense. Film ini butuh kejutan dan penasaran agar ia bisa bertahan. Mulai asik pas mereka sudah mulai menemukan keanehan pada sekitar mereka. Jujur, ini gak bisa ditahan-tahan. Suspense yang muncul malah terasa cepat sehingga saya jadi nggak sabar liatnya. Gregetan. Memang sih, akting mereka bagus. Tapi suspense telah mendorong kuat-kuat sehingga alur filmnya tak mampu menahan suspense-nya. Krrr, padahal kalau didengar, film ini jarang musiknya, segalanya memang bertumpu pada akting dan cerita dari film tersebut. Alhasil, rintangan kedua berhasil dilalui.
Rintangan ketiga adalah mengeksekusi akhirnya. Dengan kejutan yang berada di agak akhir, masih tersedia banyak durasi. Dan sayangnya, walaupun mengejutkan, hal itu kurang terasa menggigit. Akhirnya adegan disajikan, dan klimaks serta anti klimaks yang oke pun disajikan. Film ini bagus, kok. Sumpah. Tapi akhirnya, sayangnya, kurang nendang. Mungkin kita berharap kita akan melawan sang pembuat bencana. Namun, disini mereka melawan takdir. Melawan yang telah digariskan. Hingga di sisi akhir, walaupun masih banyak pertanyaan. Setidaknya film ini membiarkan para penontonnya tersenyum.
Di titik akhirnya pun, terasa idealisme pembuatnya ketika saya menyadari konten di dalam film ini. Semuanya jelas PG-13. Dengan mudah para pembuatnya bisa memotong kalimat-kalimat kotor milik si Judy dan perutnya yang tertembak itu. Tapi kenapa mereka nggak melakukannya, ya Yah, kembali lagi ke pendapat mereka sendiri. Menurut saya, memang film horor yang PG-13 dan memuaskan hanya sedikit jumlahnya. Tapi, film ini bisa membuktikan kalau film tidak perlu sesuatu yang wow. Tidak perlu sesuatu yang mega ataupun pyscho mind untuk menjadikan sebuah film itu bagus. Di saat ratusan juta dolar terbuang untuk sebuah film. Di saat galon darah buatan dan spesial efek bertaburan. Di saat otak menciptakan ide-ide gila. Film apa adanya ini, justru merupakan antitesis yang bisa berdiri dengan plot orisinal dan kejujurannya mengeksekusi. Mantap!

87%


NB. Mungkin film ini bisa dibawa masuk ke televisi. Trans TV, mungkin. Film ini sangat plot. Jadi hampir tak ada apapun di dalamnya. Aman dan mudah untuk diedit.