Tampilkan postingan dengan label I-Horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I-Horror. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

[REVIEW]Di Sini Ada yang Mati (2013)

SINOPSIS
Lydia, Jasmine, dan Sarah adalah ketiga sahabat yang akan merayakan 10 tahun persahabatan mereka di sebuah vila milik pacar Lydia, Christian. Sejak masuk ke vila itu, mereka mulai melihat banyak keanehan dan kejanggalan. Apakah yang sebenarnya terjadi di vila itu?

Sabtu, 14 Desember 2013

[REVIEW]Air Terjun Pengantin Phuket (2013)

Sinopsis
Sejak tragedi di Pulau Pengantin dua tahun yang lalu, Tiara (Tamara Bleszynski) pindah ke Thailand untuk menyepi dan mendalami Thai Boxing dan membuka bar bareng temannya Lea (Laras Monica). Kemudian, datanglah Alan (Darius Sinathrya) bersama keponakannya dan teman-temannya. Seusai berlibur di Phuket, mereka memutuskan untuk berlayar ke sebuah pulau di luar Thailand yang masih perawan, ditawarkan oleh lelaki Indonesia yang tinggal di Thailand. Sesampai disana, Tiara merasa janggal dengan nama pulau dan segala ingatan yang kembali seperti dua tahun yang lalu. Dan korban pun berjatuhan…

Kamis, 08 Juli 2010

Bunian (2004)

SINOPSIS

Andra adalah "anak baru" di Sydney, ia disana sebagai mahasiswa Jurnalistik. Demi kemudahan mencapai tempat barunya, Andra dibantu temannya Bimo dan pacar Bimo, Kara, untuk mencari rumah yang bagus. Di info share roommate di kampusnya, seseorang yang aneh menjatuhkan info "FLATMATE WANTED". Segeralah Andra pergi kesana sendiri, sebuah flat di daerah Pyrmont di flat nomor 1227 yang berlantai 2. 

Setelah berhasil beradaptasi dengan teman seflatnya, ia malah mulai diganggu oleh penampakan demi penampakan yang semakin lama semakin mengerikan. Sampai sebuah pencarian yang ia lakukan bersama teman-temannya berujung kepada fakta bahwa Andra dalam bahaya.


REVIEW

Bunian adalah salah satu film horor Indonesia yang pantas dimasukkan bioskop apabila dananya mencukupi karena semua tahu bujet ke Australia mahal. Dari segi setting, semuanya overall bagus. Kita bisa maklum banyak mimik yang kurang pas karena ini film debutan. Tapi lain dengan Wisnu Adi dalam film Kekasihnya, film ini lebih menjanjikan seperti The Last House on the Left dalam Wes Craven.

Dari segi ceritanya, kita banyak terkejut kalau film ini sangat Indonesia sekali. Seakan mereka menaruh Indonesia kecil didalam Sydney. Tapi plot yang terlalu "menjelaskan" membuat twist nya sangat gampang ditebak. Hanya waktu 15 menit kurang yang dibutuhkan untuk menebak twist difilm ini. Selain itu, sebagai film yang memuat twist, saya lebih suka dengan film yang tidak menebar petunjuk dan membuat kita harus menduga-duga; film ini menebar petunjuk sedari awal. Untuk adegan kengeriannya, dieksekusi dengan sangat pas. Apalagi ketika ada hantu cewek berdarah di bak mandi.

Maklum film debutan, untuk beberapa adegan dirasa sangat mengganggu sekali. Terutama saat adegan dimana Andra harus menghadapi hantu-hantu itu, lampunya mati terus. Apalagi saya menonton di Youtube, sehingga nyaris tidak kelihatan apa-apa. Mati lampunya jadi cukup sering dan harus melihat-lihat karena banyak adegan visual yang ditampilkan. Musik dirasa cukup pas. Pada beberapa adegan, orang bisa merasakan betapa intense and fright yang ditawarkan. Selain itu, (termasuk editing), benar-benar a la Indonesia sekali. Karena editing yang dirasa lambat ditambah dialog gak penting dalam cerita, durasi 85 menit bisa saja dipadukan dengan subplot lain yang lebih menarik.

Kemudian, banyak goofs seperti kematian yang aneh dan tidak sesuai, terus koran Indonesia di Sydney, dan lain-lain. Hal itu terus mengganggu hingga film berakhir. Yang bisa membuat kelemahan ini berkurang adalah akting yang dibawakan. Kendati tidak mengusung pemain handal, tapi mereka bisa bekerja sama dan membuat mereka sendiri semakin terasah dalam setiap adegannya. Terakhir, di Sydney rupanya bisa kita temui Pocong dan Kuntilanak. Sepertinya itu kurang bermutu deh, banyak kan yang bisa menjadi hantu lain, gak harus dua tipe itu. 

Untuk sebuah film debutan dengan pemain baru, film ini bagus. Tapi apabila dieksekusi dengan semua yang lebih matang, akan lebih bagus lagi.

6 of 10.

Merah Production and Theater 14 present a film by Muhammad 'Kimo' Stamboel "Bunian"
Ferryanto Tobing - Martia Susanto - Ananias Lukitoadi
screenplay by Kimo Stamboel and Virra I. Dewi
directed by Muhammad Kimo Stamboel

Senin, 28 Juni 2010

Malam Jumat Kliwon (2007)



SINOPSIS (bukan mempersingkat tp memang singkat)

Dhika (Ben Joshua), Ramon (Robertino), Sheila (Gracia Indri), dan Sheila (Debby Kristi) adalah empat teman yang baru saja selesai clubbing pada Malam Jumat Kliwon. Mereka terjerat sebuah razia narkoba dan segera kabur dari cegatan polisi, membuat mobil mereka berjalan tak tentu arah ke sebuah jalan yang sepi.

Di jalan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah gedung yang ternyata rumah sakit. Mereka bertemu seseorang yang juga mengalami nasib sama seperti mereka...terkungkung di rumah sakit bersama para setan yang lama kelamaan merasuki tubuh dan membuat mereka harus membunuh satu-sama lain. 

Apakah yang sebenarnya terjadi? Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan....MALAM JUMAT KLIWON!? (hiyyyy...)


REVIEW

Film Malam Jumat Kliwon adalah salah satu film horor dengan publikasi yang sangat digembar-gemborkan oleh produsernya (Shanker). Bahkan kebodohan film ini langsung bisa dilihat dari poster diatas. Lihatlah sisi bawah poster! Anda akan melihat tulisan jijay (dan bodoh disaat yang sama) yang bertuliskan "From the best Horror Director and Producer". Belum cukup? Saya beritahu, kuntilanak berwajah tolol di atas para cast itu TIDAK PERNAH terlihat sepanjang film berlangsung. Terus, film ini berusaha 'mempermahal' diri dengan memberikan baju untuk Daffy Ariaga, Robertino, dan Ben Joshua yang lebih keren dan mahal ketimbang di aslinya. Masak ke rumah sakit malem-malem pake jacket bulu???

Itu baru posternya. Kini saksikan trailernya. Trailer tidak perlu diutarakan panjng lebar. Tahulah, hasil Koya Pagayo. Penuh dengan editing super cepat dan tidak jelas. Anda malah ngantuk karena trailer tidak memberikan kesan seram. Tapi bodoh. Belum lagi ditambah adegan-adegan yang membuat anda mengernyit. Masih ingat saat ada live review dari para penonton artis seusai film ini. Mereka semua berkata filmnya seram. APAAN TUH? 

Setelah mulai menonton di Youtube, saya menyadari bahwa part 1 dan part 2 menerangkan sinopsisnya secara cepat dan tidak bermutu. Adegan-adegan itu diberikan agar penonton ngeh kalau mereka berada dalam situasi semacam itu. Yahhh, bisa dibilang membegokan penontonlah. Lalu, durasi mulai diisi dengan penampakan hantu yang enggak banget. Hantunya juga bisa dibilang beraneka ragam, hingga saking seringnya, kita sampai ngantuk karena penampakan itu sangat sekilas dan tidak mengagetkan. Dan lagi, didalam dialog di gedung tempat mereka bertemu hantu, berkali-kali statement untuk keadaan diberikan. Lalu, dialog subplot yang boring banget, ngebuat filmnya tambah aneh. Kita diberikan sebuah ultimatum bahwa kita harus ngerti kalau mereka lagi dalam on survival. Dan biasanya dalam rangka menyelamatkan diri, ego manusia itu harus dibuang sejauh-jauhnya. Karena satu-satunya fokus di dalam survival adalah untuk stay alive. 

Kebodohan seakan belum cukup, film mulai diisi tempat-tempat yang disinari cahaya yang begitu jelas dan tampak aneh. Sesudah itu, adegan Vina yang mengalami asma serasa tempelan sekali, kita tahu orang asma tidak diperbolehkan untuk menemui hal-hal yang bisa memacu jantungnya dengan sangat cepat, dan orang asma yang menghalau mobil ngebut adalah orang yang ingin cepat mati. Saya menyadari saya belum menceritakan poin menggelitik ini. Ini terjadi saat saya sedang mencari trailer film ini di Internet, saya tentu bertemu dengan puluhan sinopsis film ini dalam berbagai dimensi karakter penulis. Dan kesemuanya menuliskan dua hal, film ini berlatar di penginapan atau di rumah sakit. Jelas-jelas rumah sakit, tapi nanti dulu, sinopsis film ini sendiri bercabang dua, ada yang mengatakan bahwa itu penginapan, ada yang bilang rumah sakit...absurd...
Nayato Fio Nuala atau Koya Pagayo dalam film ini, sangat senang karena produser yang selalu mengeloni film-film dia yang memang minim budget itu, mengabulkan film ini. Semua kru utama dalam film ini adalah himpunan dari kru yang biasa Nayato pakai. DOP pasti kalau nggak Dimas Aji pasti Dharma You. Musik pasti Teguh Pribadi. Art Director pasti kalau nggak Koesnadi WS pasti Arfi Bella. Editing? Tentu saja Azis Natandra (di HJP pake nama Krishnatandra dan sekarang Nayato pake editornya namanya Tanti Puspa Rani atau semacamnya) . Karena sudah diamini, tentu saja semuanya berlanjut terus.... Musik ancur, sinematografi enggak peduli sama cahaya. Mengirit opening credits dan durasi... FILM INI ADALAH DOSA! 

Satu titik positif yang bisa dilihat adalah adegan yang dimainkan Robertino, itupun nggak terlalu dan tenggelam oleh keburukan akting Ben Joshua. Debby Kristi terlihat terlalu kolokan, lebay banget. Gracia Indri wajar2 aja, tapi dia tidak melakoninya dengan serius. Banyak sekali goofs yang ada di rumah sakit tersebut dari segala sisi....FILM INI KURANG AJAR!

Malam Jumat Kliwon berakhir dengan Gracia Indri dan Debby Kristi yang berhasil keluar, tapi kan seharusnya udah bebas, tiba-tiba suster ngesot menerjang mereka. Ada banyak lagi suster ngesotnya. Nggak masuk diakal. Seakan semua kematian tidak seperti itu. Terus apa artinya kematian para suster yang diawal film mati tercekik? Ada kumpulan suster ngesot yang terlalu banyak. Duh, pokoknya tidak masuk akal semua deh film ini. Film ini adalah salah satu film yang harus anda hindari dari kehidupan anda kalau mau bebassss...

0,3 of 5

Senin, 14 Juni 2010

Paku Kuntilanak (2009)

SINOPSIS

Trio pemburu mayat (Sukun, Obeng, dan Odjie) beraksi kembali. Kali ini mereka mencari Kuntilanak yang menjelma menjadi manusia kembali setelah paku di kepalanya, dilepas secara tidak sengaja oleh atasan mereka, Pak Joko. 

Pak Joko diteror terus menerus oleh ibunya, karena belum juga menikah diusianya yang sudah semakin tua. Pak Joko yang berniat mendekati Mona malah ditolak mentah-mentah.

Hingga akhirnya muncul seorang perempuan cantik bernama Kunti, yang tak lain tak bukan adalah sosok Kuntilanak yang dicari-cari oleh Trio Pemburu mayat. Mereka pun mencari berbagai cara untuk meyakinkan pak Joko bahwa perempuan yang akan dinikahinya tersebut adalah sosok kuntilanak yang sedang menuntut balas pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.

REVIEW

Film ini menambah panjang deretan film horor yang tidak bermutu dari Maxima Pictures yang dulu sempat saya acungi jempol karena konsistensinya pada drama mellow milik Nayato (setidaknya mereka enggak buang duit terlalu percuma). Namun karena drama udah tidak jaman, merekapun setia menggunakan Findo Purwono HW (sutradara film kontroversial Buruan Cium Gue!) dan kali inipun, Maxima dan Findo udah klop dan memproduksi banyak porn horror trash movie yang berlabelkan Dewi Perssik.

Adegannya ditumbuhi banyak komedi-komedi yang biasa kita lihat di layar kaca. Tetapi, tentu saja bukan itu sebabnya film ini laku, tentu saja karena adegan Keith Foo dengan Heather Storm dan Dewi Perssik. Sempat menjadi kontroversi saat Keith Foo dan Dewi Perssik diadegankan, puting Dewi Perssik terlihat. Adegan puting itu sudah disensor kok, untuk di Youtube.

Adegan panas yang diperlihatkan, sebenarnya saja lebih sedikit daripada film Swimfan (2002) dan Obsessed (2009), tapi karena ini bintang lokal, dan siapa sih laki-laki yang gak mau ngelihat pemandangan "indah" yang banyak tersaji di film ini (well, it cost 20,000). Dewi Perssik yang pamornya sudah terkenal tentu lagi-lagi menyebarluaskan perihal akting nude nya. Kalimat ngeles nya sama aja, "Saya hanya berusaha profesional dalam mendalami peran,".

Unsur seram yang ada di film ini benar-benar nol! Sungguh salah apabila kita mengira film ini adalah sebuah film HOROR. Nyatanya film ini menjurus ke KOMEDI SEX yang menjurus ke adegan PORNO. Tapi, sepanjang apapun kritik yang ditulis seluruh manusia yang membenci film ini, film ini tetap masuk Box Office dan adalah sebuah hasrat manusia untuk menyaksikan sebuah pemandangan indah secara massal. 

Di film ini juga, banyak adegan-adegan yang cenderung aneh. Seperti kematian Heather Storm karena kecebur di kolam renang. Ini beneran, cuma kecebur doang, terus mati. Lalul adegan dimana "makan mie bersama Kunti" yang mana mie itu adalah cacing. Itu cacing ato tali kusem? Mana akhirnya yang ngikut-ngikut film Tulalit dan Beranak Dalam Kubur, lagi. Padatas (Pamer Dada Atas) dipasarkan secara bebas di film ini. Anda bebas melihatnya secara kentara karena itulah tujuan film ini dibuat. Mengumbar aurat.

1 of 5

Pocong VS. Kuntilanak (2008)

SINOPSIS

Kisah cinta di zaman Belanda yang berujung sebuah penolakan. Membuat sang pria, Raden Soekotjo dendam kepada Nyi Soroh yang lebih memilih Von Klingen sebagai suaminya. Raden Soekotjo yang berniat membunuh keluarga Von Klingen, berhasil dibunuh oleh Kuntilanak yang dipelihara Nyi Soroh. Raden Soekotjo yang diserangpun sebelum kematiannya meminta agar tali pocongnya tidak dilepas dan akan membuat dirinya gentayangan dan memburu garis keturunan Von Klingen. Dimasa sekarang, Vonny, keturunan Nyi Soroh, malah terlibat cinta dengan Marcell, yang mana adalah keturunan anak Raden Soekotjo.

REVIEW

Film ini bisa dibilang cukup sensasional, baik secara muatan, judul, konsep, dan posternya. Mitra Pictures yang sering menampilkan film horor murahan kembali menjayakan diri dengan menyewa David Poernomo, musikus partner Jose Poernomo (Jelangkung, Angkerbatu, Pulau Hantu) untuk menulis dan menyutradarai film yang konsepnya hampir sama dengan Alien VS. Predator besutan Paul WS Anderson. Judulnyapun sebenarnya lebih mirip dengan Freddy VS. Jason karena film ini mempertemukan dua karakter yang sering banget difilmkan oleh filmaker Indonesia. Muatannya....orisinil? enggak tuh, cuma pernah denger dimana gitu, tentang dua musuh abadi yang harus dipertemukan kisah cinta keturunannya. Posternya, tentu saja meniru Freddy VS. Jason. Maaf ya, tetapi satu-satunya yang bagus dari film ini hanyalah bahwa film ini masuk akal dengan judulnya.

Masih berdenging di telinga bila membicarakan Mitra Pictures. Saat menonton film perdana mereka, Hantu Perawan Jeruk Purut, maka anda bisa melihat bahwa akhirnya dia itu diperkosa. Tali Pocong Perawan besutan Arie Azis (Suster Ngesot) mengutarakan tentang tali pocong seorang perawan. Dan mayatnya benar-benar perawan. Lain dengan film Hantu Perawan Jeruk Purut yang mayatnya dimutilasi habis diperkosa. Yahhh, bukan perawan lagi dong? harusnya Hantu Bekas Diperkosa Jeruk Purut. 

Oke. Film ini bercerita begitu aneh, karena semuanya itu flat, tanpa satupun adegan yang mengagetkan kita sama sekali. Semuanya benar-benar klise, David Poernomo mencoba fun dengan me-mentioned karyanya saat masih di Avant Garde, Jelangkung, dan film ini juga menampilkan Jelangkung. Tapi Jelangkung yang katanya telah memanggil Pocong, kenyataannya si Pocong selalu muncul dimanapun tuch. 

Kemudian setelah saling menguak rahasia dan beberapa (kalo dua orang termasuk beberapa) body count mulai muncul. Jadilah para hantu ini meliar dan mulai membunuh orang-orang secara aneh. Pocong meneriaki Aldiansyah Taher dengan teriakan mencicit yang aneh, tapi dasar orang kualitas rendah, kupingnya ngeluarin darah. Oh, jadi Pocong itu cara ngebunuhnya pake suara toh (secara dia gak bisa megang orang). Kuntilanak menggunakan tubuhnya yang sekitar tujuh kaki hanya untuk mencekik. Dia bisa terbang, dan dia malah menggunakan semua aset hantunya hanya untuk MENCEKIK??!?!?!

Film diakhiri dengan ambiguisme yang menyedihkan. Semuanya tahu itu mau dijadikan sekuel, tapi, siapa yang peduli?

1 of 5