Tampilkan postingan dengan label Hollywood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hollywood. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 November 2021

[REVIEW] Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama (1988)

Membaca judul film ini mengingatkan saya pada film-film horor Indonesia di era 2000-2010-an yang rata-rata diproduksi dengan production value yang apa-adanya. Zaman itu, film horor punya nama yang sangat jelek gara-gara orang-orang membuat film dengan gaya serampangan berbekal Koya Pagayo sebagai pionir (yang sebenarnya bisa jadi bahan analisis film, karena hampir semuanya punya karakter dan plot yang sama).

Sorority Babes in the Slimeball Bowl-O-Rama adalah film besutan David DeCoteau yang kayaknya pernah dengar di mana, beberapa kali nongol di film dini hari Trans TV. Film-film horor kelas B gitu lah, nothing new. Saya tergoda saja nonton di Shudder karena ingin tahu batas kekejuan (cheesiness, ngawur memang)-nya sampai di mana. 

Plot super tipis, di mana sekumpulan mahasiswi yang mau masuk rumah persaudaraan (sorority) yang sedang melakukan inisiasi (mirip kayak digejrot, eh diplonco gitu kali ya), berbarengan dengan tiga remaja yang ketahuan ngintip prosesi tersebut, diminta mendobrak mal di malam hari dan mengambil trofi area boling. Tak sengaja, mereka melepaskan makhluk imp yang mampu merasuki dan membunuh mereka satu-persatu.

Kamis, 11 November 2021

[REVIEW] Halloween II (1981): Saat Dunia Berjalan dengan Kecepatan 0.75

Halloween II adalah awal dari representasi sekuel film bagus yang terdistorsi keinginan produser untuk mencari untung. Pasalnya, John Carpenter berpikir untuk menjadikan film Halloween ini jadi serial antologi, atau kisahnya nggak nyambung. Jadi ya, misal film pertama tentang Michael Myers, mungkin film kedua bisa jadi tentang pesta dansa Halloween yang kedatangan alien. Tapi, aksi Michael Myers begitu disukai, hingga akhirnya John Carpenter dan Debra Hill (rekan kerja Carpenter/kekasih pada waktu itu) akhirnya mau menulis dan memproduseri film ini, meski membuatnya ogah-ogahan. Bahkan ia bilang bahwa untuk tetap bisa menulis naskah film ini, ia perlu minum beberapa kaleng bir.

Akhirnya ya filmnya jadi begini.

Mengambil latar tepat saat film pertama usai, Michael Myers kabur setelah ditembak dokternya sendiri dr. Sam Loomis, sementara Laurie yang terluka, di bawa ke rumah sakit (yang kadang-kadang disebut klinik) untuk mendapatkan perawatan. Michael kembali berjalan menumpahkan darah, sementara dr. Loomis berusaha mengejarnya.

[REVIEW] Halloween (1978): Bujet minimal, kengerian maksimal

Meresensi film klasik itu cukup sulit. Selain aksesnya yang tidak mudah untuk menyaksikannya, film klasik biasanya sudah begitu sering dijelaskan, dipaparkan, dan dibedah habis-habisan di internet. Hal tersebut membuat kejutan-kejutan yang ditawarkan film tersebut nyaris hilang. Termasuk film Halloween (1978) ini. Ia selalu disebut-sebut sebagai salah satu pionir formula film jagal di Hollywood. Bujet rendah, pembunuh ikonik, adegan remaja yang binal, menjadi pakem standar bagi film-film jagal selanjutnya.

Penyebutan jargon itulah yang membuat saya akhirnya jadi penasaran untuk menontonnya. Kalau tidak salah, sekitar beberapa tahun yang lalu saya pernah menontonnya lewat Torrent, tapi sudah keburu lupa dan tidak banyak kesan yang saya ingat. Oleh karena itu, saya mencoba menonton kembali filmnya dan mengulasnya di sini.

Premis Halloween (1978) sudah sangat akrab buat yang sudah sering menonton film-film begini. Seorang pria bernama Michael Myers dulu membunuh kakaknya sendiri saat umurnya masih 6 tahun di malam Halloween. Di malam Halloween 16 tahun kemudian, ia kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat/ditahan dan menguntit seorang gadis bernama Laurie Strode (Jamie Lee Curtis). Penguntitan tersebut segera jadi mengerikan saat Mihael mulai membunuh lagi.