Kamis, 08 Juli 2010

Bunian (2004)

SINOPSIS

Andra adalah "anak baru" di Sydney, ia disana sebagai mahasiswa Jurnalistik. Demi kemudahan mencapai tempat barunya, Andra dibantu temannya Bimo dan pacar Bimo, Kara, untuk mencari rumah yang bagus. Di info share roommate di kampusnya, seseorang yang aneh menjatuhkan info "FLATMATE WANTED". Segeralah Andra pergi kesana sendiri, sebuah flat di daerah Pyrmont di flat nomor 1227 yang berlantai 2. 

Setelah berhasil beradaptasi dengan teman seflatnya, ia malah mulai diganggu oleh penampakan demi penampakan yang semakin lama semakin mengerikan. Sampai sebuah pencarian yang ia lakukan bersama teman-temannya berujung kepada fakta bahwa Andra dalam bahaya.


REVIEW

Bunian adalah salah satu film horor Indonesia yang pantas dimasukkan bioskop apabila dananya mencukupi karena semua tahu bujet ke Australia mahal. Dari segi setting, semuanya overall bagus. Kita bisa maklum banyak mimik yang kurang pas karena ini film debutan. Tapi lain dengan Wisnu Adi dalam film Kekasihnya, film ini lebih menjanjikan seperti The Last House on the Left dalam Wes Craven.

Dari segi ceritanya, kita banyak terkejut kalau film ini sangat Indonesia sekali. Seakan mereka menaruh Indonesia kecil didalam Sydney. Tapi plot yang terlalu "menjelaskan" membuat twist nya sangat gampang ditebak. Hanya waktu 15 menit kurang yang dibutuhkan untuk menebak twist difilm ini. Selain itu, sebagai film yang memuat twist, saya lebih suka dengan film yang tidak menebar petunjuk dan membuat kita harus menduga-duga; film ini menebar petunjuk sedari awal. Untuk adegan kengeriannya, dieksekusi dengan sangat pas. Apalagi ketika ada hantu cewek berdarah di bak mandi.

Maklum film debutan, untuk beberapa adegan dirasa sangat mengganggu sekali. Terutama saat adegan dimana Andra harus menghadapi hantu-hantu itu, lampunya mati terus. Apalagi saya menonton di Youtube, sehingga nyaris tidak kelihatan apa-apa. Mati lampunya jadi cukup sering dan harus melihat-lihat karena banyak adegan visual yang ditampilkan. Musik dirasa cukup pas. Pada beberapa adegan, orang bisa merasakan betapa intense and fright yang ditawarkan. Selain itu, (termasuk editing), benar-benar a la Indonesia sekali. Karena editing yang dirasa lambat ditambah dialog gak penting dalam cerita, durasi 85 menit bisa saja dipadukan dengan subplot lain yang lebih menarik.

Kemudian, banyak goofs seperti kematian yang aneh dan tidak sesuai, terus koran Indonesia di Sydney, dan lain-lain. Hal itu terus mengganggu hingga film berakhir. Yang bisa membuat kelemahan ini berkurang adalah akting yang dibawakan. Kendati tidak mengusung pemain handal, tapi mereka bisa bekerja sama dan membuat mereka sendiri semakin terasah dalam setiap adegannya. Terakhir, di Sydney rupanya bisa kita temui Pocong dan Kuntilanak. Sepertinya itu kurang bermutu deh, banyak kan yang bisa menjadi hantu lain, gak harus dua tipe itu. 

Untuk sebuah film debutan dengan pemain baru, film ini bagus. Tapi apabila dieksekusi dengan semua yang lebih matang, akan lebih bagus lagi.

6 of 10.

Merah Production and Theater 14 present a film by Muhammad 'Kimo' Stamboel "Bunian"
Ferryanto Tobing - Martia Susanto - Ananias Lukitoadi
screenplay by Kimo Stamboel and Virra I. Dewi
directed by Muhammad Kimo Stamboel

Rabu, 07 Juli 2010

Kekasih (2008)

SINOPSIS

Jiwo dan Maria pernah berteman saat masa kecil mereka lewat sebuah pertemuan. Namun Maria harus pindah ke Singapura untuk mengobati dirinya yang menderita kelainan hati. Delapan tahun kemudian, Jiwo dan Maria kembali bertemu di kota yang sama, Yogyakarta. Kendati banyak hal yang mulanya tidak sesuai, mereka berhasil bersatu kembali. 

Namun, rintangan banyak datang dari keluarga Maria yang merupakan keluarga priyayi. Apalagi setelah sebuah kejadian yang menyebabkan Maria koma dan membutuhkan transplantasi hati. Seperti merpati, mereka tahu dimana jalan pulang. Jalan pulang adalah jalan yang membimbing mereka untuk sampai ke 'rumah'. Dan mereka tahu, rumah mereka adalah dihati mereka sendiri, dan dihati kekasih mereka.

REVIEW

Sungguh susah menulis sinopsis film Kekasih. Film ini sungguh mempunyai latar belakang karakter yang multiple dan kuat. Sinopsis malah mengambang bagaikan sebuah kapal ditengah ombak lautan yang berbuih. Tuh kan, mulai lagi deh bahasa majas yang nggak banget.

Kekasih adalah film debut buatan Wisnu Adi. Membawa elemen standar yang termasuk cewek cowok dipisahkan waktu dan orang. Kemudian mereka juga harus dipisahkan kematian. Kendati dari segi plot utama hampir sama dengan Heart, tapi percayalah, film ini lebih bagus dari itu. Ceritanya sendiri simpel. Hanya tentang dua orang manusia yang menjalin cinta, dan dihalangi berbagai kendala. Semuanya terjalin secara 'a la kebetulan' dan pintar. Wisnu Adi membuat kita rela untuk mendalami apa yang terjadi kepada Jiwo dan Maria. Thoersi Argeswara menunjukkan performance nya seperti biasa. Untuk sinematografi, semuanya biasa dan tidak ada yang berniat untuk mengeksploitasi keindahan Yogyakarta secara berlebihan. Semuanya dipakai secara pantas dan wajar. Dalam bidang editing, W. Ichwandiardono lebih sering menggunakan dissolving untuk mengubah dari satu adegan ke adegan yang lain. 

Kru yang diatas rata-rata, malah muncul dalam akting. Akting yang dibawakan Angga Dwisaputra dan Vonny Kristianda, walaupun mempunyai chemistry, tetapi tidak menunjukkan kualitas akting yang baik. Mereka seperti jebolan casting  yang hanya beruntung saja, dan berakhir dengan menunjukkan mimik dan dialog yang tidak pas. Semua tahu, hanya beberapa orang yang bisa membuat orang terpukau atau menyimak saat ia melantunkan puisi. Celakanya, puisi inilah yang menjadi kelemahan utama karakter dalam film ini. (Lebih celakanya lagi, puisi menjadi salah satu tema). Dialog yang tidak membumi tidak didukung dengan setting yang sangat membumi. Di Biola Tak Berdawai, tokoh Mbak Wid yang diperankan Jajang C. Noer selalu membuat kita geli karena tokohnya yang tidak membumi. Tapi, didukung setting yang pas, ia bisa membuat buminya sendiri dan menapakinya. Sedangkan, film Kekasih justru mengira dengan Yogyakarta sebagai setting, bisa menjadi tempat yang romantis sehingga pas untuk dibuat tempat syuting film drama. Seharusnya Nicholas & Dian mau ambil proyek disini.

Tokoh-tokoh lain, menunjukkan kualitas akting yang prima walau sudah belasan tahun hidup dalam produksi untuk TV. Mereka rupanya sering memanfaatkan saat di TV untuk melatih diri mereka menjadi pelakon akting berkualitas. Kedua tokoh utama  (yang diberikan dialog berlebihan dengan dosis berlebihan juga) sukses tenggelam dalam binar akting pemain lain. Apabila kedua orang itu menunjukkan kekuatan akting yang bagus dan menarik, saya yakin mereka bisa menjadi The next Nicholas and Dian. Mereka akan menjadikan film ini fenomenal dan akan sering disebut. Namun mereka menjadi pemicu utama gagalnya film ini. Dan satu catatan, poster film ini sangat mengundang secara common eye dan walaupun eye catching, isinya tidak bisa disamakan.

5 of 10

Kamis, 01 Juli 2010

18+ (2010)

SINOPSIS

Raka (Samuel Sylgwyn) dan Topan (Adipati Koesmadji) adalah dua sahabat yang berlatar belakang berbeda. Raka mempunyai seorang ibu dan diam-diam berhubungan dengan kakaknya Bella yang berprofesi sebagai simpanan. Sementara Topan mempunyai seorang ibu bernama Retno (Wulan Guritno) yang kerap bermasturbasi karena kesepian.

Kehidupan cinta Raka dan Topan diekspresikan dengan begitu bebas alias suka-suka mereka. Raka berpacaran dengan Helen (Leylarey Lesesne), sahabat Chanisa (Stevani Nepa) yang merupakan pacar Topan. Konflik mulai datang saat Raka dan Topan mencoba membayar biaya perawatan Chanisa yang terkena kanker paru-paru. Sebuah geng rentenir yang dipinjami uang tidak sabaran dan memperkosa Helen. Apakah yang akan mereka selanjutnya? Apa hubungan semua cerita ini dengan judul 18+?

REVIEW

Nayato Fio Nuala memulai tahun ini dengan besutan terbarunya yang berjudul 18+ yang terbilang kontroversial secara judul dan materi yang dicoba ditawarkan. Bahkan coba liat posternya! Menggelikan dan tidak ada art sama sekali. Seakan digunakan untuk membuat orang penasaran (baca:bergairah) dan menonton film ini. Namun sudah bawaan untuk menulis karya-karya orang Indonesia (mengesampingkan fakta bahwa pendiri Starvision Plus adalah orang India), maka saya tonton saja. 

Film dibuka dengan opening credits yang membuat fake scene tentang adegan yang dimainkan Topan dan Chanisa. Dari situ semua orang akan merasakan bahwa Wah!!! Baru pertamanya aja udah parah, gimana lanjutinnya? Tapi...boleh dicoba juga tuh . Dari situ, Nayato selama beberapa belas menit, mencoba untuk tidak membuat flash editing yang biasa ia buat dengan POV kamera entah dari sudut mana. Ia membuat pergerakan kamera yang biasa. Namun sampai di adegan kampus, mulai deh Nayato yang memang menjadi DOP resmi untuk film ini (setelah sebelumnya pake nama samaran) mulai menunjukkan tajinya secara berlebihan dan keseringan. Tidak ada harapan bagi saya sebenarnya, tapi just make it flow sementara menulis rangkuman cerita yang ternyata dari tadi masih satu paragraf saking pendeknya plot yang ditawarkan, padahal penulisnya sendiri ada 3! Yakni Eka Dimitri Sitorus (Ekskul), Ery Sofid (Hantu Perawan Jeruk Purut), dan Viva Westi (Suster N). Tidak disangka masih sebanyak itu untuk ide cerita yang sedikit.

Cerita yang belum bisa menunjukkan bahwa ia lagi mengusung plot yang dibawa dari sinopsis, adalah kelemahan terbesar dalam film ini. Ketika sebuah film mencoba bercerita baik secara visual ataupun keduanya, mereka harus yakin bahwa baik secara jelas ataupun implikasi, film tetap bisa bercerita. Namun film ini dengan bodohnya memasukkan belasan subplot. Subplot yang mesti disisihkan dan dibuang. Itupun belum termasuk adegan reklame neon (entah merek/toko apaan) yang berkali-kali muncul didalam film  ini. Nayato mencoba membuat film ini sangat art seperti yang ia lakukan di Cinta Pertama dan The Butterfly. Sayangnya yang ada malah melodrama yang menjadi terlalu mengalir dan tidak nyambung.

Akting yang paling bagus adalah dari Arumi Bachsin dan Wulan Guritno. Arumi memerankan tokohnya dengan apik (tapi endingnya terseok-seok) sementara Wulan sebagai Retno menunjukkan wajahnya yang gamang dan ekspresinya yang datar. Tapi cerita menginginkan hal seperti itu. Keempat yang menjadi awal? Tidak bagus dan hanya menjual muka mereka yang cantik dan tampan. Lebih baik mereka bersekolah lagi ke Eka dan mengguyur wajah mereka dengan air keras hingga mereka bisa tahu bagaimana cara berakting yang benar.

3 of 10

Starvision Plus presents a film by Nayato Fio Nuala"18+" sponsor Clas Movie
Adipati - Samuel Zylgwyn - Leylarey Lesesne - Stevani Nepa - Wulan Guritno - Arumi Bachsin - Arie S.
music Tya Subiyakto d.o.p Nayato Fio Nuala editor Tiara Puspa Rani producer Chand Parwez Servia
screenplay Eka Dimitri Sitorus Ery Sofid Viva Westi director Nayato Fio Nuala

Rabu, 30 Juni 2010

Lewat Tengah Malam (2007)

SINOPSIS

Tujuh hari ini Alice (Joanna Alexandra) mengalami kejadian aneh di apartemen yang baru ia tempati bersama ibunya Tara (Catherine Wilson). Tara tidak memercayai Alice, juga menyembunyikan fakta bahwa dirinya mengalami delusi pikiran akibat kanker otak, yang membuatnya melihat hal-hal aneh juga. Suami Tara, Yuga (Krisna Murti) masuk ke rumah sakit jiwa karena diteror oleh hantu wanita. Teman Alice, Ramon (Andhika Pratama) berusaha menjelaskan keadaan Alice yang sebenarnya lewat sebuah buku harian. Apakah isi buku harian itu? Siapakah peneror mereka?

REVIEW

Kalo boleh percaya, sinopsis yang ditulis diatas itu adalah buatan saya yang menggunting seratus persen sinopsis aslinya yang spoiler berat. Sinopsis aslinya sih pengen kelihatan pinter, mempertaruhkan twist yang dibuat dan mencoba menawarkan modus film berjalan dengan plot lain. Namun, sepertinya orang-orang ini mulai gablek dan percaya deh, ini adalah salah satu film horor terburuk, bahkan dalam lingkungan film buruk Nayato sendiri... (Kali ini ia pakai nama Koya Pagayo).

Dalam semua industri film, kebanyakan yang serius, bisa membuat orang-orang tersedot kedalamnya. Apabila orang-orang itu menyukai film yang biasa, maka alur cerita yang lambat akan membuat mereka tersedot oleh karakter yang dibuat, tentu dengan dukungan akting yang mumpuni. Lalu, seperti di film The Sixth Sense alur yang lambat menjadi cepat dan menuturkan twist. Setelah twist, dijamin lebih dari 50% penonton yang menganggap semua hal sebelumnya garing, menjadi sangat bagus. Itulah kegunaan twist, mentwist alur cerita dan persepsi orang. 

Maxima Pictures jelas sangat pede saat merilis film Nayato yang berkolaborasi (lagi) dengan Dimas Aji setelah kolaborasi mereka yang apik dalam Cinta Pertama. Film ini ANCUR banget. Menonton di Youtube, hampir semua part saya percepat (tentunya tidak untuk several first parts) dan menemukan fakta yang menggelikan, bahwa tidak ada yang perlu saya ulang sama sekali dari part yang dipercepat. Saya bisa bayangkan bagaimana menonton di bioskop. Pasti sangat membosankan. Hal itu ditambah akting yang buruk dan remuk. Catherine Wilson berperan sebagai ibu muda yang tegas kepada anaknya; Joanna Alexandra, yang menampilkan 'ketegasan'nya hanya dengan bersuara serak dan tinggi. Si Alice juga cuma bisanya bilang "tapi Ma..." doang dan itupun langsung dipotong. Sebenarnya si Alice ini bisa ngelawan (bolos enem hari aja bisa luh) Mamanya dengan bilang "tapi Ma...Matirodong lu ye!" dan all stuff like that. Intinya, Joanna Alexandra mempunyai mimik dan pace yang pas untuk film ini. Sayangnya sebagai tokoh sentral yang ternyata ia mati, ia terlalu menunjukkan kegirangannya. 

Departemen pendukung masih Nayato banget. Dimana-mana gelap dan berantakan. Sampai saya harus memiringkan monitor agar semua set jelas terlihat. Yang lebih menyedihkan adalah dari departemen sinematografi dan editing yang masih membuat flash and slow editing yang sangat Nayato. Bisa dibilang kalau jadi Nayato, ia akan puas karena berhasil merayu produser untuk membuat film tak berisi seperti ini. Anda bahkan bisa membuat film berdurasi 20 menit dengan memasukkan semua unsur disini (kecuali subplot dan penampakan yang gak penting). Musik masih standard lah, tahu aja. Teguh Pribadi soalnya. 

Semua aspek di film ini sebenarnya berusaha menampilkan yang terbaik dengan mengusung skenario dengan twist didalamnya. Namun, terjadi marketing yang salah dan membuat sinopsis spoiler itu diedarkan ke media. Otomatis, orang-orang yang menonton film ini akan merasa garing. Selanjutnya, Nayato tidak menyadari bahwa ia mengemban sebuah film yang berat karena sesuatu bernama ending yang cocok harus dibuat sebagus mungkin. Padahal nyatanya ia hanya membuat sebagaimana yang biasa ia buat tanpa ada inovasi sama sekali.

Judul awalnya, Alice Tidak Tinggal Disini Lagi yang diganti Lewat Tengah Malam jelas adalah ide yang tepat. Karena judul Lewat Tengah Malam membuat film ini marketable dan membuat penasaran. Itu adalah satu dari sedikit pilihan tepat yang dibuat para pembuat film ini. 

2 of 10

Senin, 28 Juni 2010

Malam Jumat Kliwon (2007)



SINOPSIS (bukan mempersingkat tp memang singkat)

Dhika (Ben Joshua), Ramon (Robertino), Sheila (Gracia Indri), dan Sheila (Debby Kristi) adalah empat teman yang baru saja selesai clubbing pada Malam Jumat Kliwon. Mereka terjerat sebuah razia narkoba dan segera kabur dari cegatan polisi, membuat mobil mereka berjalan tak tentu arah ke sebuah jalan yang sepi.

Di jalan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah gedung yang ternyata rumah sakit. Mereka bertemu seseorang yang juga mengalami nasib sama seperti mereka...terkungkung di rumah sakit bersama para setan yang lama kelamaan merasuki tubuh dan membuat mereka harus membunuh satu-sama lain. 

Apakah yang sebenarnya terjadi? Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan....MALAM JUMAT KLIWON!? (hiyyyy...)


REVIEW

Film Malam Jumat Kliwon adalah salah satu film horor dengan publikasi yang sangat digembar-gemborkan oleh produsernya (Shanker). Bahkan kebodohan film ini langsung bisa dilihat dari poster diatas. Lihatlah sisi bawah poster! Anda akan melihat tulisan jijay (dan bodoh disaat yang sama) yang bertuliskan "From the best Horror Director and Producer". Belum cukup? Saya beritahu, kuntilanak berwajah tolol di atas para cast itu TIDAK PERNAH terlihat sepanjang film berlangsung. Terus, film ini berusaha 'mempermahal' diri dengan memberikan baju untuk Daffy Ariaga, Robertino, dan Ben Joshua yang lebih keren dan mahal ketimbang di aslinya. Masak ke rumah sakit malem-malem pake jacket bulu???

Itu baru posternya. Kini saksikan trailernya. Trailer tidak perlu diutarakan panjng lebar. Tahulah, hasil Koya Pagayo. Penuh dengan editing super cepat dan tidak jelas. Anda malah ngantuk karena trailer tidak memberikan kesan seram. Tapi bodoh. Belum lagi ditambah adegan-adegan yang membuat anda mengernyit. Masih ingat saat ada live review dari para penonton artis seusai film ini. Mereka semua berkata filmnya seram. APAAN TUH? 

Setelah mulai menonton di Youtube, saya menyadari bahwa part 1 dan part 2 menerangkan sinopsisnya secara cepat dan tidak bermutu. Adegan-adegan itu diberikan agar penonton ngeh kalau mereka berada dalam situasi semacam itu. Yahhh, bisa dibilang membegokan penontonlah. Lalu, durasi mulai diisi dengan penampakan hantu yang enggak banget. Hantunya juga bisa dibilang beraneka ragam, hingga saking seringnya, kita sampai ngantuk karena penampakan itu sangat sekilas dan tidak mengagetkan. Dan lagi, didalam dialog di gedung tempat mereka bertemu hantu, berkali-kali statement untuk keadaan diberikan. Lalu, dialog subplot yang boring banget, ngebuat filmnya tambah aneh. Kita diberikan sebuah ultimatum bahwa kita harus ngerti kalau mereka lagi dalam on survival. Dan biasanya dalam rangka menyelamatkan diri, ego manusia itu harus dibuang sejauh-jauhnya. Karena satu-satunya fokus di dalam survival adalah untuk stay alive. 

Kebodohan seakan belum cukup, film mulai diisi tempat-tempat yang disinari cahaya yang begitu jelas dan tampak aneh. Sesudah itu, adegan Vina yang mengalami asma serasa tempelan sekali, kita tahu orang asma tidak diperbolehkan untuk menemui hal-hal yang bisa memacu jantungnya dengan sangat cepat, dan orang asma yang menghalau mobil ngebut adalah orang yang ingin cepat mati. Saya menyadari saya belum menceritakan poin menggelitik ini. Ini terjadi saat saya sedang mencari trailer film ini di Internet, saya tentu bertemu dengan puluhan sinopsis film ini dalam berbagai dimensi karakter penulis. Dan kesemuanya menuliskan dua hal, film ini berlatar di penginapan atau di rumah sakit. Jelas-jelas rumah sakit, tapi nanti dulu, sinopsis film ini sendiri bercabang dua, ada yang mengatakan bahwa itu penginapan, ada yang bilang rumah sakit...absurd...
Nayato Fio Nuala atau Koya Pagayo dalam film ini, sangat senang karena produser yang selalu mengeloni film-film dia yang memang minim budget itu, mengabulkan film ini. Semua kru utama dalam film ini adalah himpunan dari kru yang biasa Nayato pakai. DOP pasti kalau nggak Dimas Aji pasti Dharma You. Musik pasti Teguh Pribadi. Art Director pasti kalau nggak Koesnadi WS pasti Arfi Bella. Editing? Tentu saja Azis Natandra (di HJP pake nama Krishnatandra dan sekarang Nayato pake editornya namanya Tanti Puspa Rani atau semacamnya) . Karena sudah diamini, tentu saja semuanya berlanjut terus.... Musik ancur, sinematografi enggak peduli sama cahaya. Mengirit opening credits dan durasi... FILM INI ADALAH DOSA! 

Satu titik positif yang bisa dilihat adalah adegan yang dimainkan Robertino, itupun nggak terlalu dan tenggelam oleh keburukan akting Ben Joshua. Debby Kristi terlihat terlalu kolokan, lebay banget. Gracia Indri wajar2 aja, tapi dia tidak melakoninya dengan serius. Banyak sekali goofs yang ada di rumah sakit tersebut dari segala sisi....FILM INI KURANG AJAR!

Malam Jumat Kliwon berakhir dengan Gracia Indri dan Debby Kristi yang berhasil keluar, tapi kan seharusnya udah bebas, tiba-tiba suster ngesot menerjang mereka. Ada banyak lagi suster ngesotnya. Nggak masuk diakal. Seakan semua kematian tidak seperti itu. Terus apa artinya kematian para suster yang diawal film mati tercekik? Ada kumpulan suster ngesot yang terlalu banyak. Duh, pokoknya tidak masuk akal semua deh film ini. Film ini adalah salah satu film yang harus anda hindari dari kehidupan anda kalau mau bebassss...

0,3 of 5

Rabu, 23 Juni 2010

Berbagi Suami (2006)

Emang udah zamannya nonton dan review ulang... Termasuk film ini yang emang udah sering ditonton baik dari VCD maupun TV selama berkali-kali. Mana di Youtube ngadat lagi loading nya.

SINOPSIS

Salma (Jajang C. Noer) adalah perempuan yang menerima poligami yang dilakukan suaminya H. Ali Rohim (El Manik) yang punya dua istri lain, (Atiqah Hasiholan dan Nungki Kusumastuti). Kelangsungan poligami ini ia pertahankan demi anaknya Nadin (Winky Wiryawan) yang malah menjadi penentang poligami.  Siti (Shanty) adalah gadis Jawa yang dibawa ke Jakarta oleh Pak Lik (Lukman Sardi)nya. Ternyata ia malah dipersunting oleh Pak Lik yang punya dua istri  (Ria Irawan dan Rieke Diah Pitaloka) dan anak segudang. Apalagi kondisi mereka pas-pasan. Ming (Dominique) adalah gadis yang ingin menjadi bintang film dan kini menjadi waitress di sebuah restoran bebek milik Koh Abun. Koh Abun menjadikan Ming istri simpanan, dan Ming harus melakukan sesuatu demi menjadikan cita-citanya sebagai aktris kesampaian.

REVIEW

Film-film yang disutradarai oleh Nia Dinata adalah film perempuan yang tragikomedi dan satire. Mulai dari Arisan! hingga Perempuan Punya Cerita semuanya sebenarnya mengetengahkan kehidupan perempuan disebuah panggung kehidupan yang sulit baginya. Film Berbagi Suami adalah film serius paling fun yang pernah ditonton oleh masyarakat Indonesia. Sebagai seorang laki-laki, kita yang menonton film ini jadi merasa risih karena merasa telah 'menjahati perempuan'. Hal yang sama bisa kita lihat di Perempuan Punya Cerita dimana tokoh-tokoh utama wanita yang menjadi alur utama mendapatkan ketidak adilan oleh para lelaki.

Sejak film dimulai, kita didudukkan langsung pada kursi masalah, yakni tokoh Ali Rohim yang menikahi 2  wanita yang ia temui. Jajang C. Noer memainkan tokoh Salma dengan ekspresi yang tepat. Natural dan tidak berlebihan, membuat alur yang memang diciptakan Nia untuknya benar-benar dimiliki. Salute untuk Nia juga yang menghidupkan opening credits dengan balutan lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan Ikke Nurjanah. Semua aspek satir yang ada di sekuens Salma, benar-benar ditonjolkan akting pemerannya yang tidak berlebihan. Well, mungkin beberapa. Tapi sekuens Salma berjalan dengan baik, anda akan tertarik hingga sekuens selesai.

Sekuens kedua adalah yang paling "lucu" menurut saya dari ketiga cerita. Siti yang diperankan oleh Shanty benar-benar membuat dirinya sangat dicintai, I love Shanty! Dia benar-benar menghayati perannya dengan gemilang. Sejak film inilah, Shanty dikredit oleh para sutradara film serius untuk menjadi tokoh utama. Melihat kondisi rumah Pak Lik yang dijubeli banyak anak (tapi nyaman) membuat sebuah kondisi dan dialog yang membuat kita berekspetasi terus-menerus disetiap penambahan plot. Sekuens inilah yang paling 'natural' menurut saya karena akting yang (padahal) hanya dibawakan empat orang, menjadi tidak membosankan. Dan, sekali lagi, salahkan Shanty karena bagusnya sekuens ini. Anda akan merasakan tone yang diberikan Nia ke film ini, dan memberikan sedikit tone jaman doeloe agar kesenjangan sosial yang dialami para pemain tampak lebih nyata.

Saya kurang menyukai adegan Dominique dan Tio Pakusadewo. Dominique bagai seorang bitch dan dia tahu hal itu. Tapi Ming menjadi tokoh yang menghubungkan semuanya. Sudah sampai disitu, karena sekuens ini sekuens terbasi.

Musik yang dipandu trio Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro benar-benar memanjakan telinga. Coba punya CD soundtracknya... Semua adegan benar-benar cocok dengan musiknya. Dan itu menambah kenikmatan menonton yang sudah dibuat bagus dari akting jempolan dan dialog-dialognya.

Overall, film ini bagus SEKALI!! Ada kelemahan? ada, tapi saya benar-benar menyukainya.

5 of 5

Selasa, 22 Juni 2010

Coming Soon (2008)


Film Coming Soon dengan sangat disayangkan adalah, disetiap promosinya, propaganda selalu muncul dan  membuat saya melupakan nama sutradaranya. Film ini digembor-gemborkan oleh GTH (production house  yang katanya tersukses di Thailand dan penelur film2 Thai yang bagus)bahwa ditulis dan disutradarai oleh co-writer dari film horror Thai sukses, yaitu Shutter dan Alone yang semuanya ditulis dan disutradarai dua sohib Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom. Sang sutradara (yang saya cek di Google dulu) yang bernama Sopon Sukdapisit. Namanya punya kesusahan nulis yang sama kayak aktris Marsha Wattanapanich (Alone, Phobia 2).

Sebenernya orang-orang gak keberatan untuk menonton sebuah satire movie dari Thailand, karena industri horror disana lebih maju yang didukung post-productionnya sendiri yang bisa dilakukan di negaranya sendiri, gak kayak film Indo yang selalu minta bantuan dari Singapore, Thailand, dan HK. Dan type horor ini jarang dilakukan di Thai karena seringnya horor disana yang terlalu serius. So, anggaplah ini sebagai Scream versi hantunya Asia. Ini sebuah inovasi horor di perfilman asia tenggara.

COMING SOON menceritakan kehidupan seorang pegawai bioskop bernama Shane yang baru saja sembuh dari ketergantungan obatnya. Kini Shane berurusan untuk merawat rol-rol film coming soon berjudul Arwah Penasaran yang katanya Based on True Events. Tapi dasar punya temen yang tau hasrat orang Indonesia yang pengen nonton cepet en murah, yaitu Yod, Yod meminta Shane untuk memutar film Arwah Penasaran itu untuk dibajak. Shane sebenernya udah insyaf, tapi lagi-lagi setan berpihak kepadanya (kantongnya kering, tanggal tua soalnya) jadilah Shane memutar film itu dari ruang proyektor. Tanpa tahu keesokan harinya, Shane di ruang proyektor ketiduran dan menemukan Yod udah ilang di ruangan bioskop dengan meninggalkan videonya. Adik Yod yang juga pacar Shane, Som, mau collaborate ama Shane (yang belakangan hubungan mereka retak karena Shane udah nilep jam tangan Som buat bayar BD) untuk membuka tabir misteri yang ada dihadapan mereka... (atau kalimat semacam itulah, biasanya diakhiri dengan tiga tanda titik)

Walaupun eksekusi yang dilakukan Sopon lebih baik daripada The Uninvited, Sopon melakukannya dengan kekhasan horor Asia yang kita semua tahu, terlalu sering kita lihat.Seperti hantu yang hanya terlihat dikaca, ketukan aneh yang ternyata dari orang biasa, temen kita yang ternyata setan, plus satu twist yang sebenarnya gak penonton harepin buat dijawab. Sang hantu yang sebenernya kita kira berasal dari tokoh nyatanya, ternyata hantu itu adalah pemeran tokoh tersebut. Mungkin ketika dibaca, spoiler ini akan dirasa menyebalkan karena meretakkan kepenasaranan akan akhir cerita, tapi percaya deh, film ini hanya membuat kaget saja, sehingga plot menarik yang pantas difilmkan ini menjadi basi.

SELURUH aspek yang berada di film ini sudah pernah anda saksikan di film lain, you name it. Dan hal yang terbodoh dari film ini adalah malah membiarkan aspek-aspek itu berjalan seperti film lain tanpa adanya inovasi sama sekali. Itu saja. Plot yang menarik. Kemasan yang rusak parah. Kuali Bocor.

2 of 5