Sabtu, 14 Desember 2013

The Awakening (2011)

SINOPSIS
1921. Florence Cathcart (Rebecca Hall) adalah seorang wanita yang berusaha membongkar kejadian-kejadian spiritual bohongan yang terjadi di era antara Perang Dunia I setelah depresi atas meninggalnya sang suami di perang tersebut. Suatu hari, Robert Mallory (Dominic West) seorang guru dari sekolah asrama di luar London, memintanya untuk menyelesaikan suatu kasus munculnya hantu di sekolahnya yang mengakibatkan seorang siswa bernama Walter Portman meninggal. Florence pun pergi untuk mencari tahu dibantu oleh maid sekolah tersebut, Maud (Imelda Staunton) di saat sekolah tersebut hendak mengadakan liburan panjang bersama Tom, anak yang kesepian karena orangtuanya di India. Kehadirannya rupanya memicu banyak kejadian-kejadian yang semakin tak bisa dijelaskan, hingga akhirnya mau tidak mau, Florence harus menghadapi kenyataan yang menghubungkannya dengan sekolah asrama itu.

RATING
Rated R for some violence and sexuality/nudity

REVIEW

Entah mengapa saya mau menonton film asal Inggris yang dibesut oleh Nick Murphy ini. Pasalnya mudah saja, saya kurang mempunyai tendensi untuk menonton film horor yang ada di era jadul. Lihat saja The Woman in Black, saya tidak tahu kapan saya kira-kira akan tertarik menontonnya. Adanya review film ini di sini pun juga karena kebetulan lagi mengunjungi situs torrent YIFY untuk mencari film horor yang bagus apa. Saya cukup ketagihan nonton sejak diimbuhi Dark Skies dan 11-11-11.
Film ini dibuka dengan revealing Florence terhadap satu kejadian spiritual bohong-bohongan. Kayaknya itu memang sengaja dibuat kayak buat orang yang merindukan anaknya bisa "bertemu", sampai ditabok si Florence-nya. Kemudian, film berlangsung mengenalkan kita pada sosok Florence. Di sini, saya merasa Florence adalah seorang gadis yang sepertinya kurang sopan (terlalu heroine dan aktif) untuk masa itu. Tahu, kan, di masa-masa perempuan zaman dulu yang tak tersentuh dan terhormat (hingga akhirnya mulai datang gelombang rok mini yang mengubah semuanya) dan Rebecca Hall mampu membawakan kita pada sosok Florence yang kuat dan rapuh tanpa diminta. Lewat hisapan rokoknya (yang kelihatannya malah cuma dia) dan wajahnya, kita seakan diperkenalkan pada sosok wanita yang mencoba tegar, namun di saat yang sama ia tidak menegarkan dirinya sendiri.
Durasi 107 menit pun mengalir, kita mulai dicekoki ambience menyeramkan dari sekolah asrama ini, semuanya terlihat kaku, namun entah mengapa kok saya merasakan semuanya terasa tempelan saja? Mungkin karena saya tak kunjung melihat hantunya. Akhirnya, saya meliht hantunya yang... errr.... aneh? Saya tidak bisa bilang lebih lagi, tapi ternyata film ini berasal dari anak kecil dengan wajah yang aneh sepanjang film berlangsung. Sungguh menyungguh, deh.

Intensitas film yang semakin lama menegangkan, seakan lewat percuma menurut saya, memang sesekali kita dibuat terkagum-kagum (terutama di adegan diorama sekolah asrama itu, menurut saya itu adegan yang keren). Saat yang lain, kita malah harus menelan juga arti dari kesepian, yang memang sangat cocok ditunjukkan di film yang agak drama, sekaligus kaku dan sepi. Saya tidak bisa bilang ini adalah film yang bagus, bayangkan saja kalau anda menonton film horor hantu-hantuan tanpa suspense dan rasa penasaran tinggi. Kita pun tidak diajak untuk menelusuri jejak-jejak kenapa hantu ini bisa muncul. Yah... kalau zaman sekarang, kita lihat semua orang menggunkan internet untuk melacak, jadi di film ini hanya bisa menerangkan secara langsung.
Hal berikutnya yang menjadi masalah adalah munculnya beberapa adegan kekerasan dan nuditas yang muncul. Halo? Ini filmnya jadi rusak karena hal itu. Tau nggak? Saya rasa, entah mengapa adegan itu ada dan malah jadi lumayan lama. Saya menyatakan hal itu cukup mengganggu saya untuk bisa menonton dengan tenang. Saya sih mengharapkan film yang sopan, dan film ini menurut saya ingin menjual? Eh, saya juga tidak terlalu paham.
Siapapun yang melihat still ini akan mengira ini dari I Spit On Your Grave 3

Hei, saya memperhatikan, film ini rilis di 11-11-11. Kalau begitu setelah ini saya akan masukkan review film 11-11-11 deh. Jadi, rupanya banyak orang dari berbagai bidang yang mengincar tanggal tersebut ya? Tahun 2011 sepertinya menyenangkan untuk film horor. 

Setelah film mulai ditutup dengan twist, termasuk si Tom yang ternyata hantu dan sebagainya, saya mulai mengerutkan kening, saya mau putar kembali film ini tapi kok malas rasanya. Jadinya film ini agak memaksakan akhirnya, dengan meminta kepada penonton untuk mengerti bahwa akhirnya hantu itu memang bisa dilihat (dan tidak dipersepsikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain). Ya, ya, seandainya saya lebih expect sama film ini, saya juga akan menyukai akhirnya (bahkan ke akhirnya yang bahagia itu, aneh sekali bisa melihat akhir bahagia dari film hantu, saya terpengaruh film Ju-On soalnya). Pribadi, saya kurang suka ending yang akhirnya menghubungkan antara si tokoh utama dengan apa yang dia investigasi, bagi saya itu jadi sesuatu yang mencoba memperbolehkan karena tidak bisa menemukan akhir yang lebih baik. Saya saja mengira kalau ternyata si Florence meninggal pas itu sekolah asrama masih rumahnya, namun ternyata tidak. Fiuh.. jadi lumayan sebel dengan akhir yang mencocokkan itu.

Menurut saya, film ini mempunyai linear yang sama dengan The Number 23, bilang saja kamu amnesia atau terkena motivated forgetting (tuh kan, muncul lagi istilah psikologinya), dan voila, jadilah sebuah misteri. Yah... setidaknya lebih baik daripada orang menyadari kalau dia sudah mati, formula The Sixth Sense yang diulang-ulang. Oke, keep working Inggris dalam menciptakan film-film horor! Saya lupa apa ya film horor Inggris yang bagus? Saya takut nanti mereka seperti Korea Selatan dalam pertempurannya dengan Jepang masalah horor, Korea Selatan muncul dengan film-film yang art dan menurut saya sangat banyak yang membosankan.
60%

Blood: The Last Vampire (2000)

SINOPSIS
1966. Saya, seorang gadis pemburu chiropterate, makhluk seperti kelelawar yang bisa menyamar jadi manusia, memburu mereka hingga di sebuah sekolah dekat airbase Amerika Serikat di Jepang.

RATING
Suggested rating is R for strong bloody violence/gore

REVIEW
Ternyata inilah film yang menjadi cikal bakal franchise Blood menjadi manga, anime, dan film live-action. Film yang tidak saya sangka berdurasi 48 menitan ini (atau 50 menit menurut Wikipedia), menceritakan begitu singkat tentang apa yang sebenarnya terjadi di film ini.

Kita langsung disuguhkan tentang Saya yang membunuh seorang lelaki yang dikira chiropteran, ini kayak setan yang entah makannya apa, tapi digeneralisasikan sebagai vampire. Saya juga termasuk ke dalam chiropterans ini tapi dia gak bunuh manusia. Memang sayanya yang kurang paham atau bagaimana, pokoknya Saya ini orang yang misterisu dan seterusnya.
Setelah kesadisan (yang gak terlalu kelihatan juga), kita langsung diseret ke Saya yang memburu makhluk itu sisanya. Ada pula dihadirkan sedikit subplot ia mencari pedang yang baru. Kita tak pernah diperkenalkan, apa organisasi mereka, apa asal-usul Saya, apa dan apa terus mengalir di benak saya selama film singkat ini berlangsung. Intinya, saya jelas menginginkan sekuel dari anime yang lumayan sadis ini.

Animasinya bagus dan keren, ini merupakan film 2000 yang cukup tinggi kualitasnya, mungkin anda bakal mengingat Highschool of the Dead yang porno itu, tetapi film ini lebih serius dan menyenangkan untuk diikuti. Kita bahkan tidak melihat apa tujuan chiropterans itu berkeliaran, dan mengapa mereka kabur, ahhh, lagi-lagi pertanyaan. 
Untuk ukuran sebuah film anime, jelas film ini sangat mumpuni, ia langsung serius tanpa pembukaan. Seakan, kita hanya melihat sekilas dari hidup Saya. Sedikit potongan dipinjam untuk diputar dan disebarluaskan, dan hanya itu yang tersisa. Saya juga menyukai adanya peran Makiho yang menjadi side kick yang tak disadari. Seandainya saya menonton film ini lebih cepat.

Suguhan kesadisan yang diberikan sangat cepat dan memang kekhaasan anime yang saya rasakan, mereka tidak terlalu frontal dalam memberikan gore. Misalnya, saat Saya memotong Linda, kita cuma diberikan sedikit brief tentang tubuh Linda yang dipotong. Adegan slaying paling jelas cuma satu, yakni ketika Saya baru mendapatkan pedang dan langsung SYAT! memotong tubuh si setan (saya agak sebel mau nulis nama itu, sudah susah dihapal, harus italik lagi). 

Film ini merupakan film yang terkenal, namun bagi saya film ini ya.. biasa saja karena saya mulanya terbiasa dengan film anime zaman sekarang yang grafisnya lebih bagus. Film ini sayangnya, walaupun mempunyai original screenplay dan mencapai kesuksesan, kenapa tidak diadakan lagi sekuelnya? Film 48 menit!! Siapa yang mau menonton segitu pendeknya?? Maka itu banyak spin-off nya. Apa ya salah satu film yang kayak begini juga? Yang cuma sekali tapi banyak influence-nya? Kayaknya film zaman dahulu sering, tuh.

Satu lagi, saya cukup heran ternyata tokoh Saya di sini tidak terlalu cantik, maksudnya ketika saya melihat preview dari film live-action-nya, saya mengira film ini buat yang seifuku-fetish (suka sama seragam-seragam gitu, coba nonton MV Nogizaka46, Barette). Ternyata, di film ini bahkan kita sama sekali tidak melihat nuditas atau apapun, terlebih karena tokoh Saya juga dibawa ke elemen serius dan tidak ada bercandaan, mungkin sedikit. Jelas inilah mungkin salah satu dari beberapa film di Jepang yang terlalu serius dengan karyanya sehingga tak memberikan fan service sama sekali. Aplaus kalau begitu, di antara film Jepang sekarang yang...
75% (15% sisanya karena durasi yang terlalu pendek)

Jumat, 13 Desember 2013

Quarantine 2: The Terminal (2012)

SINOPSIS                                                                             Penerbangan yang dilewatkan oleh sebuah rombongan suster menjadi sebuah mimpi buruk bagi penumpangnya. Setelah amukan seseorang yang tergigit tikus berhasil dipadamkan, mereka disuruh mendarat di sebuah bandara dimana terminalnya sudah ditutup dan dikarantina. Pada malam yang sama dimana Angela diseret menuju kegelapan, pada malam yang sama dimana virus ganas menyebar, kau akan berharap akan melewatkan penerbangan ini.

RATING
R for bloody horror violence, terror, language and brief sexual content

REVIEW
Setelah lihat di Wikipedia, kok disana ada link ke sebuah film berjudul Flight of the Dead yang nyaris sama ceritanya. Saya masih nggak punya ide kenapa ada link itu dan maksudnya apa. Apakah karena ceritanya sama? Exorcist: The Beginning sama Dominion: Prequel to the Exorcist saja tidak segitunya.
Ciuman yang menggetarkan dunia perfilman

Dibawa pada penerbangan kali ini, kita masih menemukan beberapa adegan klasik. Yang saya heran masih menjangkiti perfilman horror Amerika adalah beberapa adegan standar, salah satunya adalah adegan hei-kamu-nggak-papakan? Yang sudah saya liat di um…. 100 film terakhir? Kayaknya horor sudah mulai menjadi mengerucut, kayaknya tata cara penampakan film Indonesia perlu diadaptasi, deh. Adegan hei-kamu-nggak-papakan? Itu maksudnya pas si pemerannya ingin mengecek apakah lawan mainnya yang tergeletak atau diem ini baik-baik saja atau enggak. Yah, seperti yang sudah diduga ketika tangannya bergerak lebih jauh (apaan nih, maksudnya?) si lawan mainnya jeger! Bangun tiba-tiba sambil memegang tangan si pemerannya atau lawan mainnya bergerak, atau…. Nggak ada apa-apa (tapi masih dapet bonus scoring menyeramkan beberapa saat).

Saya sih tidak terlalu peduli sama langkah pengambilan gambarnya yang berganti dari found footage jadi kamera biasa, sama-sama menyebalkannya. Saya masih ingat nonton Insidious di bioskop yang bukannya menyodorkan si pemerannya untuk dikagetin duluan, eh, malah kameranya jalan duluan. Asem! Nanti masih mau mencoba dengan yang sekuelnya dan The Conjuring. Saya memang kurang suka dengan Saw yang ikonik itu, tapi saya sangat suka film-film ala Dead Silence. Itu gelap dan klasik. Loh, kok ngelantur ke film yang lain??
 
Ketika sudah berada di terminal, semuanya mulai kehilangan tujuan (nah, begitu juga penontonnya) tapi segera muncul kembali harapan-harapan dengan adanya jalan keluar. Bisa dibilang tidak ada yang baru yang bisa ditawarkan oleh film ini. Semuanya terlihat sama. Mungkin yang bagus adalah adegan pas di dalam truk itu. Sama yang deg-degan itu ketika si cowok yang bawa-bawa tikus itu sudah mengungkapkan dirinya adalah bagian dari si sekte. Terus dia suntik matanya!!!!! Arghhhhhh!!!! Sumpe lo? Sumpe lo? Gara-gara film ini saya jadi sering lepas earphone dan membiarkan sedikit suaranya mencak-mencak dari kejauhan. Hihihi, cuma menikmati gambarnya saja. Dari awal, banyak karakter-karakter yang bikin kasihan, tapi namanya juga film beginian, lama-lama sebenarnya kita nggak terlalu peduli siapa yang bakal selamat. Biasanya, yang dipedulikan adalah: setidaknya ada yang selamat. Nah, setidaknya film ini berhasil memancing saya untuk terus menonton hingga akhir tanpa mengintip akhirnya yang telah tertulis di Wikipedia. Hingga akhirnya, ketika si ceweknya ngos-ngosan, endingnya jadi makin pasti. Yang saya yakin memang salah satu di antara dua orang ini akan selamat, dan dengan resminya digigit, maka sudah bisa diputuskan siapa yang masih tetap bertahan hidup.
 
Adegan akhirnya, cukup aneh. Binatang-binatang itu berhasil keluar. Kalau di akal sih nggak masuk banget, soalnya si tikus itu begitu jauhnya dari lokasi ketika ia berkeliaran dan ia muncul setelah si cowoknya pergi.

Oh! Kelupaan. Ada saat-saat dimana mereka tengah dikejar-kejar, saya kok ngerasa mereka begitu mudah ditarik untuk mempercepat bagian akhirnya. Jadinya, saya nggak bisa konsen tentang berapa orang yang ada di film ini. Saya sih akhirnya cuma bisa lihat empat orang yang main. Yang lainnya cuma tempelan saja. Padahal, di pesawat sudah terbangun mood ingin menonton bagaimana akhirnya si ini, si itu. Film ini dengan cepat melupakan mereka.
 
Alhasil, film ini merupakan sebuah film yang tensinya sama seperti presedornya. Keduanya menurut saya bagus. Tapi disini, kita nggak dapat sesuatu yang baru dari genre ini. Tidak untuk mengembangkan cerita Quarantine juga. Jadi, tonton saja dengan tenang dan jangan pernah menutup mata anda. Hihihi….


70%

The Invasion (2007)

 SINOPSIS
Carol Bennett (Nicole Kidman) adalah seorang psikiater yang tinggal berdua dengan anaknya Oliver setelah bercerai dengan suaminya Tucker. Kini Carol mengencani Ben, seorang ilmuwan. Sebuah pesawat antariksa bernama Patriot meledak dan semua kepingannya tersebar. Lambat laun, semua orang mulai berperilaku terdiam tanpa emosi. Saat Carol sadar kalau mantan suaminya telah terkena perilaku aneh itu, Carol menyadari bahwa anaknya dalam bahaya.

RATING

PG-13 for violence, disturbing images, and terror

REVIEW

Ini memang film yang lamaaaa banget. Sudah 6 tahun yang lalu. Promosi yang kencang-kencang dan kritik jelek tak berakhir dipersembahkan pada karya pertama sutradara Oliver Hirschbiegel dalam bahasa Inggris. Padahal jajaran cast-nya mumpuni lho, ada Nicole Kidman yang remarkable di horror dalam The Others besutan Alejandro Amenabar dan Daniel Craig yang tatkala proses pengambilan film ini terpilih untuk menjadi James Bond selanjutnya. Jadi apa yang salah?
 
Jujur saja sih, kalau saya cukup enjoy menonton film ini. Maksudnya, saya belum menonton versi-versi sebelumnya dan menurut saya ini film komersil yang lumayan untuk ditonton. Kendati, banyak tensinya yang terasa film aksi dan thriller kebanyakan. PG-13, dan yang kau dapatkan adalah tensi seperti film-film dengan rating yang sama. Makanya, banyak yang berharap kalau film ini akan melebihi adaptasi sebelumnya. Baca-baca di Wikipedia sih, akhir untuk cerita ini sebenarnya kurang menyenangkan, dimana tokoh utamanya berakhir menjadi korban. Ditambah lagi tokoh Carol yang asli adalah seorang lelaki diganti jadi wanita. Sehingga, banyak yang mencemooh film ini.
 
Menurut saya semuanya oke-oke saja. Sebuah film yang pantas muncul di TV dan menjadi tontonan di malam hari. Apalagi Nicole Kidman mengingatkan saya dengan seorang ibu yang kuat di sebuah pesawat. Ya, Jodie Foster dalam Flightplan. Karena saya jarang menonton film yang komersil begini, jadi ibaratnya film ini sebagai rehat sajalah. Jujur deh, capek juga nonton sesuatu yang terlalu berat. Gara-gara torrent-nya ada, kan sayang kalau kesempatannya dilewatkan. Hehehe. Buat kalian yang seorang awam dan tidak punya ekspetasi apa-apa, boleh banget nonton film ini. Cukup light untuk novelnya yang berakhir menyedihkan.

Ketika saya mencari komentar-komentar dari situs-situs terkenal, memang sih, kelihatannya mereka langsung membandingkan dengan versi sebelumnya. Film ini nanti diikuti kegagalannya oleh The Day the Earth Stood Still yang dibintangi Keanu Reeves setahun setelah film ini. Karena film ini, saya jadi mulai suka film-film abduction begini. Namun masih tidak ada (bagi saya, lho) yang mengisahkan alien abduction yang mengalahkan The Faculty milik Robert Rodriguez. Filmnya kalau dirasa-rasa sih agak sama, tapi The Faculty fun dan kamu tidak akan bosan menontonnya walaupun sudah tahu akhirnya. Akhirnya, saya sekarang lagi kembali ke film-film lama. Setelah trauma unduhan torrent nya ternyata film B tahun sekarang yang malah terlihat kayak rekaman film-film biru di Internet. Setidaknya, di film jaman dulu, semua tone-nya sama. Jadi film B-nya malah jadi favorit.
 52%

The ABCs of Death (2012)

SINOPSIS
26 sutradara yang mewakili 26 alfabet. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian. 26 alfabet yang mewakili 26 mozaik. Akan mengajarkan kepada penontonnya apa arti kematian.
Ini tidak mendidik

REVIEW
NR. My suggested rating is NC-17 for extreme graphic violence
REVIEW
Sakit. Gila. Psiko. Jorok. Goblok. Parah. Sadis. Kyahahaha. Klasik. Apaan nih? Oke deh. Iyuuh. Ciyus loh, udah selesai? Errr. Bisa tolong ulang adegan tadi? Eh!!! Kok gitu? Nggak ngerti.
Silakan anda mengomentari film ini. Ada 26 cerita (dengan durasi 145 menit) memang sangat berlebihan. Dan boleh-boleh saja mengomentari semuanya. Nah, entah kenapa tak satu pun di film ini yang menurut saya benar-benar menarik perhatian. Satu-satunya yang menarik perhatian, ya untuk segmen L dari Timo Tjahjanto yang mengherankan saya. Oh ya, biar tidak bingung,
·         A is for Apocalypse (Nacho Vigalondo)
·         B is For Bigfoot (Adrian Garcia Bogliano)
·         C is for Cycle (Ernesto Diaz Espinoza)
·         D is for Dogfight (Marcel Sarmiento)
·         E is for Exterminate (Angela Bettis)
·         F is for Fart (Noboru Iguchi)
·         G is for Gravity (Andrew Traucki)
·         H is for Hydro-Electric Diffusion (Thomas Malling)
·         I is for Ingrown (Michael Grau)
·         J is for Jidai-geki (Samurai Movie) (Yudai Yamaguchi)
·         K is for Klutz (Morgenthaler)
·         L is for Libido (Timo Tjahjanto)
·         M is for Miscarriage (Ti West)
·         N is for Nuptials (Banjong Pisanthanakun)
·         O is for Orgasm (Bruno Forzani & Héléne Cattet)
·         P is for Pressure (Simon Rumley)
·         Q is for Quack (Adam Wingard & Simon Barretti)
·         R is for Removed (Srdjan Spasojevic)
·         S is for Speed (Jake West)
·         T is for Toilet (Lee Hardcastle)
·         U is for Unearthed (Ben Wheatley)
·         V is for Vagitus (The Cry of a Newborn Baby) (Kaare Andrews)
·         W is for WTF! (Jon Schnepp)
·         X is for XXL (Xavier Gens)
·         Y is for Youngbuck (Jason Eisener)
·         Z is for Zetsumetsu (Extinction) (Yoshihiro Nishimura)

Nah, sebenarnya dari film ini kita bisa mengetahui apa sebenarnya pikiran para sutradara horor di dunia. Maksud saya, mereka kan diberi hak untuk membuat tanpa campur tangan produser, makanya kita bisa lihat apakah horor itu generik? Nah, setidaknya banyak yang berpikir mengenai seks dalam horor. Baik sebagai tema ataupun imbuhan. Ada segmen L dan segmen O (yang setidaknya cukup ekspilisit) dan segmen P serta segmen Y. Heran juga saya, Timo Tjahjanto bisa membuat film seeksplisit ini. Mungkin, inilah segmen yang paling frontal. Saya kaget saat ada nuditas yang keras disini. Apa yang main benar-benar orang Indonesia semua? Sepertinya tidak mungkin. Eh, tapi mungkin saja, ding. Sekarang kan Indonesia makin “terbuka” dan makin “idealis”.
 
Selain itu, banyak yang membuat dalam media animasi seperti di segmen K, segmen H (tidak juga sih, tapi rasanya cukup other world), dan segmen T. Mereka cukup violent dalam menyajikannya. Eh? Lebih pintar dan lebih kelam dari Happy Tree Friends, saya lebih suka segmen K. Hahaha. Seonggok kotoran yang tidak mau dipisahkan dengan sarangnya. Saya merasa biasa saja dengan segmen T yang terpilih menjadi segmen terbaik di film ini pada saat debutnya.

Ada juga yang memutuskan untuk menjadi klasik dengan segmen B, segmen U, dan segmen M. Cukup light saat segmen N karya Banjong Pisanthanakun muncul dan komedi. Segar, lah. Tapi jangan lupakan Xavier Gens yang sadis. Ingat karya fenomenalnya Frontiers? NC-17? Nah, dia muncul kembali dengan segmen X yang menurut saya paling sakit. Yah, jangan ditonton untuk para cewek chubby yang terlalu desperate. Entah idenya apaan, tapi cara menguruskan badan seperti yang dipraktikkan di segmen ini sangat efektif! Beberapa jam saja dan anda sudah menjadi kurus! Hati-hati efek sampingnya, ya...

Segmen V menyajikan eksyen yang kental. Sebel juga karena ada adegan bayi mati. Tapi ada adegan revenge-nya kok. Tenang aja. Seperti yang saya pikirkan, ada segmen yang membahas dirinya sendiri. Ada Segmen Q dan segmen W. Yah, mungkin karena terlalu sulit, jadinya mereka buat yang aneh-aneh. Segmen Q sama ringannya dengan segmen N. Bagaimana mereka begitu sulit menemukan kata yang cocok dari Q. Sementara itu segmen W lebih.... lebih gila... Kayak semua elemen yang mereka pikirkan muncul dan menyerang begitu saja ke studio mereka. Yah, cerita ini kosong sekali. Tidak ada intinya.

Jepang menyumbangkan tiga segmen yang sama-sama aneh. Segmen F, segmen J, dan segmen Z. Segmen F menyuguhkan adegan yuri yang terkover dengan kentut. Aneh? Tonton saja sendiri. Segmen J terlihat berusaha konyol, tapi saya malah merasa kosong. Spesial untuk muka si samurai yang jadi aneh-aneh. Dan yang paling membingungkan ya segmen Z. Ini sama campur aduk dengan segmen W. Dipenuhi dengan keeksplesitan khas Yoshihiru Nishimura yang membuat Mutant Girls Squad. Dapat dibayangkan seperti apa segmen ini.
 
Dari semua yang mega, segmen G dan segmen D terlihat kacang. Tapi, menurut saya segmen G lah yang paling natural dan biasa. Tapi ia benar-benar mengajarkan mengenai kematian. Kecelakaan. Mudah, bukan? Segmen D menurut saya kurang menggigit, tapi ia punya sinematografi yang paling baik. Salah satu segmen favorit saya. Segmen A mengambil cerita yang begitu tiba-tiba. Dia ternyata bisa abadi selama setahun!

Segmen E langsung mengingatkan saya pada segmen The List di film Takut. Segmen C mengingatkan saya pada film Triangle. Segmen L mengingatkan saya pada Rumah Dara. Bukan dari ceritanya, tapi settingnya.

Segmen-segmen lainnya, menurut saya biasa saja. Yah, mungkin yang paling menarik memang segmen L yang memuaskan dari segala sisi. Segmen T juga turut menghibur karena ia masuk ke mengajarkan kematian kepada anak-anak dengan cara yang benar-benar efektif.

Sulit untuk mengatakan film The ABCs of Death itu bagus. Saya masih merasa film ini terlalu panjang dan mungkin overrated. 145 menit dengan 26 segmen berbeda jujur membuat saya bosan menontonnya. Satu-satunya motivasi saya menyelesaikan film ini sampai habis adalah karena berharap semoga segmen selanjutnya lebih baik dari segmen sebelumnya. Cerita yang ada semua berdiri sendiri dan ada yang mudah untuk dilepaskan. Untuk mengomentari ini saja, saya bolak-balik untuk mengetahui ceritanya. Yah... kelemahan terbesar sekaligus kelebihannya terletak di variasi segmennya. Kita dihadapkan pada rasa penasaran dan rasa bosan. Makannya review film ini juga rata-rata mixed. Coba lain kali, buat filmnya lebih tertata. Maksudnya, The ABCs of Death menurut saya kadang diartikan sebagai horor oleh sutradaranya. Mungkin kalau teror atau horor lebih cocok. Misalnya, kalau diberikan skenario awal dan disuruh mengembangkannya akan terasa lebih menarik.

Rating film ini juga saling tumpang tindih. Segmen G itu mungkin bisa dibilang PG. Segmen B bisa dibilang PG-13 dan lainnya R. Eh, segmen X menurut saya NC-17. Keputusan yang bagus untuk tidak dirating. Yah, kalau di Parents Guide IMDb, semuanya masuk. Sex and Nudity akan dijawab segmen L, Violence and Gore akan dijawab segmen X (tambah segmen P yang Cuma satu adegan tapi kasiaaaan banget), Profanity akan dijawab... segmen W aja deh, segmen S akan menjawab Alcohol and Drug Use yang langsung menjadikan film ini R, dan frightening and intense scenes akan dijawab... segmen X kali, ya (dan banyak segmen lain). Sekadar info kalau film ini ada sekuelnya di tahun 2014. Dan tahu tidak, saya akan kembali mencari torrent­-nya.

NB. Dulu ada wacana kalau mau dibuat rating di antara R dan NC-17 yang kemudian dibatalkan. Kalau rating itu jadi, menurut saya film ini akan mendapatkan rating tersebut.


62%

Enter Nowhere (2011)

Samantha atau Sam (Katherine Waterston) berjalan dari mobil suaminya Adam yang kehabisan bensin saat perjalanan mereka ke orang tua Adam untuk memberitahukan kehamilan Sam. Saat Adam belum juga muncul, Sam memutuskan untuk mencari sendiri hingga ia menemukan sebuah kabin dengan radio disana. Disana, ia bertemu dengan Tom (Scott Eastwood) yang sudah tiga hari terperangkap disana karena mobilnya rusak. Keesokan harinya saat Tom kembali ke mobilnya, Sam di kabin bertemu dengan Judy (Sara Paxton) yang baru saja merampok sebuah swalayan dimana ia kemudian ditinggalkan oleh kekasihnya. Kemudian, segalanya mulai menjadi aneh. Mereka tak kunjung menemukan hubungan di antara mereka. Hingga Judy yang berlari dari kabin sejauh mungkin ternyata ia kembali lagi ke kabin. Hingga... Sam menemukan keanehan pada tahun uang cetak yang dirampok Judy....

RATING
R for Language and Brief Violence

REVIEW
Wow, film ini diluar ekspetasi saya loh. Sekali. Pertamanya memang bikin skeptis, sih. Coba deh, di IMDb informasinya tidak terlalu lengkap. Di Wikipedia pun tidak ada halaman untuk film ini. Singkatnya, hanya berbekal sinopsis di IMDb dan menonton sendiri saja. Saat menontonnya, kita dibawa pada sebuah titik penentu saat suara pistol terdengar, brankas yang dibuka, dan layar putih yang akan membawa ke sebuah dunia.

Disini, kita langsung dibawa ke Sam yang... serba pale face. Langsung inget ke peran-peran tokoh penyendiri di film-film. Tapi perlahan si Sam yang merokok (padahal lagi hamil) menjadi satu poin tersendiri. Kemudian semuanya jadi datar hingga datang si Judy yang datang dengan mulut kotornya yang membuat rating film ini jadi R. Tapi penampilan dia disini langsung memberi warna di film ini, kok. Yang tadinya serba drama dan dingin, jadi mulai lucu karena kata-kata si Judy. Bukan karena dia keluarin lelucon, tapi kata-katanya tuh serba natural. Khas lah. Si Tomnya sih terasa psikopat di bagian pertamanya. Abisan protektif banget sama si Sam. Tapi si Judy melunturkan semua dingin yang ada. Yang jelas, rintangan pertama sudah berhasil dilewati.
Yang kedua adalah suspense. Film ini butuh kejutan dan penasaran agar ia bisa bertahan. Mulai asik pas mereka sudah mulai menemukan keanehan pada sekitar mereka. Jujur, ini gak bisa ditahan-tahan. Suspense yang muncul malah terasa cepat sehingga saya jadi nggak sabar liatnya. Gregetan. Memang sih, akting mereka bagus. Tapi suspense telah mendorong kuat-kuat sehingga alur filmnya tak mampu menahan suspense-nya. Krrr, padahal kalau didengar, film ini jarang musiknya, segalanya memang bertumpu pada akting dan cerita dari film tersebut. Alhasil, rintangan kedua berhasil dilalui.
Rintangan ketiga adalah mengeksekusi akhirnya. Dengan kejutan yang berada di agak akhir, masih tersedia banyak durasi. Dan sayangnya, walaupun mengejutkan, hal itu kurang terasa menggigit. Akhirnya adegan disajikan, dan klimaks serta anti klimaks yang oke pun disajikan. Film ini bagus, kok. Sumpah. Tapi akhirnya, sayangnya, kurang nendang. Mungkin kita berharap kita akan melawan sang pembuat bencana. Namun, disini mereka melawan takdir. Melawan yang telah digariskan. Hingga di sisi akhir, walaupun masih banyak pertanyaan. Setidaknya film ini membiarkan para penontonnya tersenyum.
Di titik akhirnya pun, terasa idealisme pembuatnya ketika saya menyadari konten di dalam film ini. Semuanya jelas PG-13. Dengan mudah para pembuatnya bisa memotong kalimat-kalimat kotor milik si Judy dan perutnya yang tertembak itu. Tapi kenapa mereka nggak melakukannya, ya Yah, kembali lagi ke pendapat mereka sendiri. Menurut saya, memang film horor yang PG-13 dan memuaskan hanya sedikit jumlahnya. Tapi, film ini bisa membuktikan kalau film tidak perlu sesuatu yang wow. Tidak perlu sesuatu yang mega ataupun pyscho mind untuk menjadikan sebuah film itu bagus. Di saat ratusan juta dolar terbuang untuk sebuah film. Di saat galon darah buatan dan spesial efek bertaburan. Di saat otak menciptakan ide-ide gila. Film apa adanya ini, justru merupakan antitesis yang bisa berdiri dengan plot orisinal dan kejujurannya mengeksekusi. Mantap!

87%


NB. Mungkin film ini bisa dibawa masuk ke televisi. Trans TV, mungkin. Film ini sangat plot. Jadi hampir tak ada apapun di dalamnya. Aman dan mudah untuk diedit.

Jumat, 21 Juni 2013

Sleepaway Camp (1983- ) Series



Hahaha, ini comeback saya setelah bertahun-tahun tidak bisa update di blog ini, sampai template nya menggila, lagi. Mudah-mudahan semuanya bisa dikembalikan lagi, ya... Jujur, setelah lulus dari Gorontalo dan kembali lagi ke Depok, saya kembali kambuh menonton film, horor terutama. Entah deh, asal unduh aja dari torrent dan berbekal dari list-list kritikus lain dan IMDb.

Sampai suatu ketika saya termenung saat melihat sebuah poster film di Internet. Sleepaway Camp. Film cult ini kurang lebih sering dibicarakan di kalangan bapak-ibu penggemar slasher. Akhirnya diputuskan... saya akan mengtorrent film ini! (Api berkobar-kobar)

Asyiknya, di rumah koneksinya membaik dan dalam sekejapan, film-film sudah sekejapan di hard drive PC rumah saya. Setelah menonton film yang pertama, kedua (Sleepaway Camp II: Unhappy Campers) dan ketiga (Teenage Wasteland) ternyata saat hendak mengopi saya baru sadar kalau keadaan perloadingan di PC itu sudah tingkat akut dengan mouse yang tidak sebergairah dulu lagi. Akhirnya film-film itu (malah ada beberapa yang belum saya tonton) tergusur habis dalam PC yang sekarang kalau dikasih sibuk sedikit, langsung memble. Arghhhh!!!!!!!!!

Akhirnya denga sisa kekuatan yang tersisa, saya berhasil membangkitkan kembali laptop seken gratisan yang sama anehnya (tapi masih bisa normal) saya berhasil mengunduh ulang beberapa film, dan tergugah oleh informasi di Wikipedia, saya unduh sekuel teranyarnye: Return to Sleepaway Camp.
Oke, mulai dari yang pertama dulu kali, ya...


SLEEPAWAY CAMP (1983)

SINOPSIS

Angela dan sepupunya Ricky pergi menuju Camp Arawak untuk menghabiskan musim panas. Didadahi oleh ibu Ricky atau tante Angela yang mengasuhnya selama delapan tahun, Dr. Martha Thomas yang rada aneh, mereka pun menuju Camp yang seru. Entah karena tragedi yang menimpa kakaknya Peter dan John tewas ditabrak motorboat atau karena dia pemalu, ia tidak pernah berbicara. Sampai akhirnya ia diganggu-ganggu oleh teman sekabinnya, terutama Mel dan Judy. Oke, seperti yang bisa ditebak, body count mulai bermunculan. Seorang misterius siap membalaskan dendam bagi yang telah mengganggu Angela. Siapakah sebenarnya sang pembunuh? Apakah ada sebuah rahasia yang akan terkuak saat Paul, sahabat Ricky, mulai mendekati Angela?

RATING: R

REVIEW

Ahhhhhhh!!!!! Super menyesal karena udah tahu endingnya duluan! Ahhhhh!!!!!! Kenapa? Sleepaway Camp merupakan salah satu film jagal (based on Wikipedia) yang serba keju. Karakternya sudah tidak asing bagi kita penggemarnya (walaupun disini orang anehnya tidak curiga pada orang luar, langsung ke “salah seorang di antara kita”) dengan cerita yang biasa saja ditambah bumbu kecil yang ternyata mantap diracik di film ini. Mau tambah? Ada saus kreatif spesial dan kekerasan tumbuk yang ditaburkan dengan besar granule yang berbeda-beda. Diaduk jangan terlalu kencang, jadinya? Sebuah film jagal yang dibungkus keju namun ketika dibelah, ada pepperoni segar, basil hijau, dan yang terutama: saus sambal yang bisa menerkam kita semua. Sleepaway Camp jelas-jelas telah membuat sekali lagi film jagal dalam perspektif baru, sebagai genre film yang menghibur namun pintar.

Saya akan memuji adegan pembunuhannya. Menurut saya, pembunuhan yang ada disini sebenarnya banyak yang simpel, tetapi karena digunakan dengan klasik tanpa berusaha melebihkan: sumpah, kamu bakal suka semua adegan pembunuhannya. Kita diseret-seret dengan pertanyaan kedua, bagaimana endingnya? Jelas deh, rasanya kalau melihat paruh film pertama sudah bisa diketahui kalau si Angela itulah pembunuhnya. (Marah karena terbaca, jangan marah dong, salah sendiri masuk blog ini) Nah, kalau begitu apa adegan akhirnya? Setelah dua lelaki mati karena lebah dan panci berisi air mendidih dan dua wanita mati karena diperkosa pelurus rambut dan ditusuk di balik bilik shower (plus adegan pembunuhan lainnya, ya...)? Hmm, setelah itu baru adegan klimaks yang bagian akhirnya akan saya ingat terus-terusan!

Yah, akhirnya di tengah semua teriakan, Angela dan Paul berjalan di pantai (entah kenapa di bagian ini saya langsung ingat Pengantin Topeng, kenapa ya?) dan Angela akhirnya mengajak Paul untuk skinny dip di danau, ihiyyy... Saat akhirnya konselor menemukan keduanya sedang pangku-pangkuan, baru terungkaplah bahwa. KYAYAYAYA!!!! Tidak mungkin! Otoko! Oke, tidak usah terlalu lebay, saya sudah tahu akhirnya kok.

Film ini berkelemahan di akting para pemainnya yang kadang-kadang terlalu, yah... tahulah. Terlalu klasik. Kadang-kadang terlalu aneh juga dan bikin kesel. Khas film jadul lah.

Kalau boleh dibilang film ini tuh sebenarnya nggak punya kelebihan dibanding film jagal lain. Tapi karena ada adukan kreatif yang pelan namun kental, akhirnya: cult movie! Sebuah film yang mungkin kalau nggak ngerti ditonton dua kali, namun ingatan tentang film itu terus ada dalam benak. Akhirnya, sebuah film jagal paling memuaskan yang pernah saya tonton!

88%

PS. Ingat selalu shot terakhir film ini. Merinding disko!



SLEEPAWAY CAMP 2 (1988)

SINOPSIS

Angela Baker kembali, kini telah menjadi wanita seutuhnya berkat operasi plastik dan menjadi konselor sebuah camp. Dengan hasrat membunuhnya yang semakin parah, ia siap menerkam anak-anak yang nakal...

RATING: R

REVIEW

Hmmm.... disini Angela tidak diperankan oleh Felissa Rose melainkan Pamela Springsteen yang tokohnya lebih ikon ke Jamie Lee atau semacamnya. Nah.. disinilah, rasanya isinya komedi semua. Entah kenapa, saya sih kadang-kadang ketawa saja karena tidak ada subtitle english maupun indo yang tersedia di internet, hsk hsk hsk (sekaligus sadar kalau film pertama ternyata subtitle english nya hasil translate dari Google). Nah, untuk itulah, film ini jadi terasa sangat jagal. Bumbu seks nya ditaburkan cukup banyak kok, (tanpa garem dapur kali, ya medium lahh) dan pembunuhannya didobel. Rasa-rasanya disini, saya tidak merasakan hawa suspense seperti yang dimiliki Robert Hiltzik di film pertama. Ini wajar, karena di film ini tampak hanya dompleng cerita dan judul belaka. Jadi, film ini punya skenario yang super lemah dan bahkan tidak masuk akal. Belum lagi Angela yang kini menyerang semakin membabi-buta, alhasil kita tidak diperkenankan untuk sekadar menikmati filmnya, yang saya percepat cuma di adaegan pembunuhannya (dan di setiap adegan pembunuhan ada adegan yang asyik) sehingga kita sudah bisa memprediksi bagaimana akhirnya. Sebuah sajian yang cukup dicamil kalau sedang malas. Bahkan kalau anda malas pun anda mungkin tidak akan memilih film ini.

Oh ya, ada salah satu bagian yang mengganjal di film ini adalah orang yang sensitif tidak ada. Walaupun terpencil dan sepi, mereka tidak bisa melihat keanehan si Angela ini. Dan adegan terkonyol adalah saat Angela membakar dua perempuan. Dengan mudahnya mereka bisa gosong. Menurut komik Cage of Eden, nih.. hukuman mati dengan pembakaran itu paling menyiksa karena orangnya susah mati walaupun seluruh bagian luarnya telah terbakar. Jadi kenapa hanya dalam beberapa jam ia sudah gosong keriput? Tanya sama penulis skenarionya.

31%


SLEEPAWAY CAMP III: TEENAGE WASTELAND (1989)


SINOPSIS

Angela masih berniat mengacaukan sebuah camp yang kini mempunyai program untuk membuat semua anggotanya saling kenal secara intensif (karena katanya ini camp untuk menyatukan semua lapisan ras). Inilah tanah yang tepat untuk menghabisi nyawa!
RATING: R
REVIEW
Saya kesal sekali di adegan pertamanya ada seorang perempuan yang pede menuliskan “Milk Shake” pada bagian atas dadanya. Selain itu tidak sopan, itu juga menjijikkan mengingat miliknya yang tak membuat nafsu. Okelah, dia tiba-tiba dikejar oleh truk pengangkut sampah di tengah kota oleh... Angela. Mulai dari sini saja sudah mulai kejanggalan, bagaimana mungkin sebuah truk sampah yang oleng sambil mengejar seorang wanita tidak mendapat perhatian dari seantero orang yang melalui jalanan? Ya, Angela berhasil membunuhnya. Oh ya, ia masih si Springsteen ini. Dan tebak saja ia masih beringas dan masih ingin menghabiskan nyawa yang ia lihat. Rasanya aneh sekai, ia tiak bisa bersabar dan alngsung main bunuh. Tiba-tiba ia membunuh seorang reporter TV, APA COBA? Makin lama film ini makin tidak nyambung dan amkin tak bisa dipercaya. Formulanya di film sekuel awal sudah seperti Friday 13th yang entah bagaimana pokoknya Jason masih bisa terus-terusan membunuh. Nah, si Angela ini pokoknya terus membunuh dan film selesai.

Ah, sudahlah. Film ini tidak punya harapan.

26%
Nah, sebenarnya ada filmnya yang keempat ber co-judul Survivor namun film itu tak kunjung selesai karena banyak permasalahan. Sampai akhirnya si Robert Hiltzik ini kembali dan membuat film yang sebenarnya merupakan sekuel “official” dari si Hiltzik yang akan khas menggunakan ide ceritanya, tidak asal kayak film yang kedua dan ketiga. Sayangnya, film ini banyak menghadapi hambatan, terutama karena efek CGI yang diinginkan oleh Hiltzik belum muncul di hasilnya. Belum lagi masalah distributor dan lain-lain. Akhirnya film ini bisa hadir dalam bentuk langsung DVD di tahun 2008 dengan judul Return to Sleepaway Camp. Dibandingkan dengan sekuel yang lain, film ini yang subtitle nya paling tersedia. Okelah, kita cek aja film yang menurut Wikipedia sih, menolak semua kejadian yang ada di dua film sekuelnya ini.



RETURN TO SLEEPAWAY CAMP (2008)

25 tahun setelah kasus pembunuhan itu terjadi, kini sebuah camp musim panas kedatangan tragedinya. Lewat pembunuhan yang terus menerus menelan korban remaja yang berdarah panas akibat membully salah seorang teman mereka. Sebuah misteri baru akan terungkap...

RATING: R for horror violence and gore, pervasive language, some sexual content and teen drug use

REVIEW

Film ini mengembalikan lagi seluruh pujian yang telah saya tumpahkan di film pertama. Kita dari pertama dibuat kesal kemudian empati pada tokoh Alan, si gemuk yang sepertinya agak-agak miring dan selalu berbuat masalah dan kemudian diganggu oleh seluruh temannya. Ya ampun, dia jadi benar-benar membuat aku iba. Dan saat itulah datang seseorang yang mulai “membalaskan dendam” si Alan. Jadi bukan si Alan dong, pembunuhnya? Tenang, kita disini berhadapan dengan sutradaranya yang asli, sehingga rasa-rasanya kita memang akan melihat sebuah reboot film cult tahun 1983 itu. Lengkap dengan kematian koki yang menjadi poin pertama pembunuhan dan truk sampah (kayak di film ketiganya).

Film ini dengan caranya yang dibalut komedi, menyajikan sebuah slasher yang juga keju, namun segar dan membuat kita bisa menikmati semua adegan yang disajikan.

Adegan pembunuhannya makin kreatif aja. Bayangkan saat si pemilik kabin kepalanya dikurung di sangkar burung dan dimasukkin tikus, atau saat si konselor tititnya diiket sama mobilnya. Ow, guilty pleasure kali nontonnya yak. Yang jelas, film ini dengan segala alur dan kondisinya sanggup membuat saya menurunkan halaman Wikipedia untuk membaca endingnya. Nah, berhubung di film ini kita dihadapkan sesuatu yang berbeda (dan saya sejak awal memang tidak mencurigai Alan) dan pada saat si Karen digantung di ring basket, saya baru sadar siapa pelakuny! Hahaha, kali ini saya cuma kasih petunjuk. Begitu si pelakunya kabur, aku langsung inget film Scary Movie! Betulan, deh.

Dan, yah.. akhirnya ternyata cukup bagus, kok. Diakhiri dengan si pelakunya tertawa puas karena berhasil menyelesaikan target pembunuhannya. Diam-diam menghanyutkan. Pembunuhannya juga keren dan benar-benar diluar dugaan, lah. Jadi inget waktu mau unduh Slumber Party Massacre untuk yang kedua kalinya. Nah, jadi di Youtube saya nonton adegan pembunuhan di ntu film. Nah, ternyata dari semua pembunuhan hanya dua pembunuhan kayaknya yang pake penusukan. Hahaha. Semuanya ditusuk di tempat yang sebenarnya bisa selamat, yah... mati. Untunglah si film gak jadi kuunduh. Poin satu lagi, di film ini rasanya agak aneh, karena si pembunuh gak ngasih mati langsung korbannya. Ada yang kehabisan darah, ada yang kena infeksi berkelanjutan, de el el.

Sisi lain yang agak bikin kesal juga mengenai pembunuhannya yang hampir setengahnya gak keliatan. Saya pikir karena bujetnya rendah, tapi empat juta dolar, lho (mungkin untuk CGInya). Dan ternyata, baru diliatin pas si korban ditemuin. Yang paling diingat itu pas si Angela (eh keceplosan) nusuk mata pakai batang kayu. Klasik? Banget. Tapi kalau liat adegan selanjutnya, itu adalah sesuatu yang keren. Sampai di adegan akhirnya yang bikin super ngilu, kyaaaa. Cocok banget ditonton sama makanan ringan atau lagi ingin tensi naik. Return to Sleepaway Camp tidak hanya membuat kita kembali pada sutradara dan aktor yang pernah muncul di film pertamanya, namun juga sajian horor, komedi, dan suspense yang membuat kita sadar, akhirnya kita bisa nonton film jagal pop yang benar-benar menghibur. Salute!

94%